cukup lama Raffi tak menjawab gigi dan membuat gigi tambah panik
tiba2
"maaf yang" suara Raffi kembali terdengar
"kamu kenapa?" tanya gigi
"enggak kok tadi tiba2 ada kucing lewat jadi aku ngerem mendadak" jelas Raffi
"aduh kirain ada apa"
"kamu khawatir yaa, takut akunya kenapa kenapa"
"ya iyalah, yaudah deh mending sekarang kamu fokus nyetir aja, hati2 ya" ucap gigi
"yaudah, bye sayang" ucap Raffi lalu mematikan telfonnya.
keesokkannya dikantor Raffi
Raffi terlihat sangat sibuk dengan pekerjaannya matanya terus terfokus ke laptopnya dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya agar ia dapat pulang lebih awal hingga jam 3 Raffi baru menyelesaikan semua tugasnya.
setelah itu Raffi langsung bergegas keluar dari ruangannya.
"putri kalau ada yang mencari saya bilang saya sedang ada urusan di luar dan jangan biarkan menunggu karna saya tidak balik lagi" ucap Raffi saat melewati meja putri dan dia pun langsung pergi.
Raffi menuju toko kue gigi, sesampainya ditoko gigi Raffi langsung masuk dan menumui gigi yang sedang berada didapur membuat kue
"sore cantik" bisik Raffi tepat di kuping gigi lalu meletakkan dagunya dipundak Gigi
"Raffii" ucap gigi kaget
"udah hafal suara aku ya" ucap Raffi
"ya ialah, kita kan udah kenal lama masa suara kamu aja aku ga bisa ngenalin" ucap gigi
"nih aku punya sesuatu untuk kamu" ucap Raffi lalu memberikan rangkaian bunga yang cantik kegigi
"bagus banget fi, bunga cantik" ucap gigi lalu mencium bunga itu
"tapi kamu jauh lebih cantik, tapi masa bunga doang yang di cium akunya engga" ucap Raffi sambil menyodorkan pipinya
"ih apaa sih, malu tau dilihati orang" ucap gigi
"ya sudah lah" ucap Raffi
"kamu masih sibuk ya" tanya Raffi
"dikit lagi selesai kok, kamu tumben jam segini da plng kantor?"
"sengaja biar bisa ketemu kamu"
"kamu tunggu aku di ruangan aku aja ya biar aku cepat kelarnya" ucap gigi
"ya udah, tapi dimana?" tanya Raffi
"yang itu" ucap gigi sambil menunjuk ruangannya
"oke deh aku tunggu kamu disana ya" ucap Raffi lalu tiba2 mencium pipi gigi kemudian berjalan menuju ruangan gigi
Gigi hanya tersenyum kecil lalu melanjutkan pekerjaannya
sekitar setengah jam gigi pun selesai dia pun segera masuk keruangan ya
"Raffii" panggil gigi
namun tak ada jawaban dari Raffi, gigi pun langsung masuk dan mencari Raffi.
ternyata Raffi sedang tertidur di sofa gifi pun menghampiri Raffi. Gigi duduk dipinggir sofa lalu mengelus wajah Raffi
"kamu pasti capek banget ya" ucap nya
namun sepertinya Raffi sangat lelah, gigi pun tak tega membangunkannya dan dia pun memutuskan untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu.
setelah selesai gigi kembali menghampiri Raffi yang masih tertidur
"muka kamu lucu kalo lagi tidur" ucap gigi memandangi wajah Raffi
tiba2 Raffi terbangun
"emmmm kamu da selesai ya, maaf aku ketiduran" ucap Raffi lalu duduk dan sedikit merenggangkan otot2 nya
"kamu cepek banget ya?" tanya gigi
"engga kok cape aku udah ilang waktu aku lihat kamu" ucap Raffi
"dasar tukang gombal" ucap gigi
"aku ga gombal tau, sekarang kita jalan yuk" ajak Raffi
"tpi kamu cuci muka dulu gih sanah, biar segeran" ucap gigi
Raffi pun menuruti gigi lalu mereka pun pergi ke sebuah restoran yang sudah dipesan Raffi sebelumnya sehingga hanya merek berdua saja yang ada direstoran itu
"kok kita kerestoran?" tanya gigi
"kamu ga maunya, yaudah kalo gitu kita ketempat lain aja yuk" ucap Raffi
"eh eh ga gitu maksud aku, kalo emang mau kesini ga papa kok, udah ayo" ucap gigi
Raffi dan gigi pun segera duduk ditmpat yg sudah disiapkan.
tak lama kemudian pesanan mereka pun datang
"kita makan dulu ya" ucap Raffi yang hanya dibales anggukan kepala oleh gigi
"kamu tadi siang bolom makan ya" tanya gigi melihat Raffi yang dengan lahapnya memakan hidangan yang ada di depannya
"emangnya kelihatan ya" tanya Raffi
"kmu itu, kalau kerja harus ingat waktu, saat waktunya makan kamu harus makan kalo kamu sakit gimana" ucap gigi yang malah menasehati Raffi
"ia sayang, maaf ya tdi aku bener2 lupa tau tau udah sore aja" ucap Raffi lalu pindah duduk disamping gigi
"kesehatan kamu lebih penting dari apapun Raffi" ucap gigi
"iya maafin aku ya, kamu jangan sedih gitu dong" ucap Raffi melihat wajah gigi yang mulai sedih kemudian Raffi mencium rambut gigi lalu merangkulnya
"ia, tapi lain kali kamu jangan gitu lagi ya" ucap gigi
"ia sayang" ucap Raffi
"gi aku mau ngomong sesuatu sama kamu" ucap Raffi lagi
"ngomong aja kenapa harus nanya sih" ucap gigi
"gi kalau aku ngelamar kamu kamu mau ga nerima lamaran aku?" tanya Raffi
Gigi menatap kearah Raffi
"kmu jangan bercanda ah" ucap gigi lalu meminum minumannya walau tak dipungkiri kini hatinya jadi tak karuan
"siapa yang bercanda, aku serius! serius banget malah" ucap Raffi
"tpi kan fi kita……"
"kita baru jadian semalam? gi walaupun kita baru jadian 1 hari tapi kita udah saling kenal sejak lama" ucap Raffi memotong perkataan gigi
gigi hanya diam, dia tak tau apa yang harus dia katakan
"gi kamu belum yakin ya sama aku, kamu belum percaya ya kalo aku bener2 cinta dan sayang sama kamu" tanya Raffi
"bukan gitu, tapi apa ini ga terlalu cepat fi?"
"aku cuma ga mau kehilangan kamu gi, aku takut kamu ninggalin aku"
"berarti kmu ga percaya sama aku"
"bukan aku ga percaya sama kamu, aku percaya dan sangat percaya sama kamu gi, tpi karna aku terlalu sayang sama kamu gi, aku mau kamu jadi istri aku. apa kamu mau gi? tanya Raffi
gigi lagi2 hanya terdiam mulutnya seakan tak mampu lagi berkata2 orang yg selama bertahun2 dia sukai memintanya untuk menjadi Istri.
"gi kenapa, kamu ga mau ya" ucap Raffi melihat gigi yang tak meresponnya
"aku ngerti kok mungkin ini terlalu cepat untuk kamu, maaf kalau aku terlalu memaksakan kehendak aku. aku benar benar minta maaf" ucap Raffi
"buu……" ucap gigi terpotong oleh Raffi
"udah gi ayo, aku anterin kamu pulang" ucap Raffi lalu bangkit dari duduknya
namun tiba2 gigi menahan tangan Raffi dan langsung memeluk Raffi
"ia aku mau jadi istri kamu" ucap gigi
sejenak Raffi terdiam dia seakan tak percaya
"kamu serius?" tanya Raffi melepaskan pelukannya dan menatap gigi
gigi hanya menganggukkan kepalanya pertanda meng iya kan
"makasih gi" ucap Raffi kembali memeluk gigi erat seakan dia tak ingin melepaskan pelukannya itu.
Cukup lama mereka berpelukkan hingga Raffi melepaskannya
"makasih ya, kamu udah mau nerima aku" ucap Raffi
"ia" jwb gigi
"sekarang aku anter kamu pulang ya udah malem" ucap Raffi
gigi hanya mengangguk. kemudian pun mereka pulang.
sesampainya dirumah gigi mereka berdua pun langsung masuk. ternyata didalam ada mama dan papa gigi yang sedang bersantai di ruang tengah
"malem om tante" ucap Raffi kemudian menyalam tangan papa dan mama gigi diikuti oleh gigi
"ayo duduk fi" ucap papa
"ia makasih om" ucap Raffi lalu duduk
sementara gigi duduk disebelah mamanya
"wah akhirnya om ketemu juga sama kamu fi" ucap papa
"hehe ia om, maaf baru ketemu sekarang padahal Raffi udah di Indonesia hampir 3 minggu" ucap Raffi
"ia ga papa kok, mungkin emang belum pas aja waktunya sekarang baru waktu yang pas waktunya" ucap papa
"ia om"
"eh fi bener ya kata tante, sekarang kamu udah ga kurus lagi, udah tambah ganteng dan gagah lagi" ucap papa
"si om mah bisa aja" ucap Raffi
disambut tawa oleh yang lainnya
"emm om tante ada yang pengen Raffi omongin" ucap Raffi
"mau ngomong apa fi kayanya serius banget" tanya mama
"gini om tante Raffi secara pribadi mau ngelamar Nagita om tante" ucap Raffi
yang membuat semua kaget termasuk gigi yg memang tak tau Raffi akan membicarakan hal ini sekarang
"kamu yakin fi?" tanya mama
"ia tan Raffi yakin" ucap Raffi
"sebenarnya om sangat senang mendengar itu, karna kamu adalah laki2 yang baik &bertanggung jawab bukan hanya itu saja om juga sudah kenal kamu sejak lama tapi kalau soal itu om ngikutin gigi nya aja, karna yang akan menjalani nantinya adalah gigi" ucap papa
"tante juga begitu, itu semua terserah gigi" jawab mama rita
"gimana gi, apa kmu menerima lamaran Raffi" tanya papa
gigi yang sedari tadi diam dan menundukkan kepalanya kini perlahan mengangkat kepalanya
"ayo gi di jawab" ucap mama
Gigi pun mengganggukkan kepalanya mengiyakan lamaran Raffi untuk yang kedua kalinya hari ini
"kalau Gigi setuju kami juga setuju" ucap papa
yang membuat Raffi tersenyum, Raut wajah nya benar benar sangat bahagia. lalu Raffi bangkit dari duduknya menghampiri gigi
"maaf om tante, boleh kan Raffi memakaikan cincin ini ke gigi" tanya Raffi sambil menunjukkan cincin yang sedari tadi sudah berada dikantongnya
dijawab dengan anggukkan kepala oleh mama dan papa
Raffi pun mulai memakaikan cincin itu kejari gigi
"ini hanya untuk sementara sampai nanti aku dan keluarga aku datang untuk melamar kamu lagi" ucap Raffi sambil memasangkan cincin itu
tiba2 caca datang sambil bernyanyi dengan beberapa buku digenggamannya dan headset di telinganya dia berjalan menuju ruang tengah seakan tak terjadi apa apa sampai akhirnya dia menyadari semua yang ada disana sedang memperhatikannya
"weits ada apa ni" ucap caca melepaskan headsetnya dan berjalan mendekati Raffi gigi
"mbak ada apaan sih?" tanya caca menghampiri gigi
namun semua hanya terdiam sambil memandangi caca
"hah kak Raffi ngapain makein cinci ke mbak gigi? kak Raffi ngelamar mbak gigi ya" ucap caca melihat jari2 gigi masih berada di tangan raffi begitu pun tangan Raffi yang masih memegang cincin yang kini sudah berada dijari gigi.
"wah beneran kak Raffi ngelamar mbak gigi" ucap caca yang langsung melihat cincin berlian di jari gigi
"caca kmu itu" ucap mama menegur caca
"hehe maaf ma" ucap caca lalu duduk
begitupun Raffi dan gigi yang ikut duduk
"kmu itu ya ca, merusak suasana aja" ucap mama
"wah berarti bener dong, yes berarti aku bakal resmi jadi adik iparnya kak Raffi Ahmad" ucap caca
"yeee apaan sih lo, lebay" ucap gigi
"biarin wlek" ucap caca menjulurkan lidahnya
"udah2 jangan pada ribut" ucap mama
"jadi kapan kamu akan bawa orang tua kamu kemari fi?" tanya papa
"secepatnya om, nanti Raffi akan hubungi papa mama Raffi untuk pulang ke Indonesia" jawab Raffi
"baik lah kalau begitu, lebih cepat lebih baik" ucap papa
"nah kak Raffi nanti kan bakal jadi kakak aku, jadi sebagai tes menjadi kakak yang baik kak Raffi harus ngebantuin aku ngerjain tugas aku" ucap caca sambil meletakkan bukunya di meja depan Raffi
"yee itu mah emang kesenangan lo, tugas lo dibantuin" ucap gigi
"ya terserah aku dong" ucap caca
"udah jangan mau yang, biar dia kerjain sendiri" ucap gigi
"cie cie yang udah panggil sayang sayangan" ledek caca
"udah ga papa, sini ca yang mana biar aku bantuin" ucap Raffi
kemudian Raffi pun membantu caca mengerjakan tugasnya
"kalau begitu om dan tante masuk dulu ya, maaf ga bisa nemenin" ucap papa
"ia om, selamat istirahat om tante" ucap Raffi
kemudian papa dan mama gigi pun masuk kekamar mereka dan raffi kembali membantu caca mengerjakan tugasnya sementara gigi hanya duduk disamping Raffi
"yeeey akhirnya selesai juga, makasih kak Raffi" ucap caca
"iya" ucap Raffi lalu melihat kearah gigi yang sedari tadi sudah tertidur
"aku angkat gigi kekamarnya ya" ucap Raffi lalu menggendong gigi menuju kamarnya.
setelah itu raffi pun menyelimuti gigi dan mengecup kening gigi lalu kembali turun kebawah
"ca aku pulang dulu ya" ucap Raffi
"tpi ini udah malam banget kak, mending ka Raffi nginap disini aja dulu" saran caca
"ga usah aku pulang aja"
"kak Raffi maaf ya, kakak jadi pulang semalam ini "
"ga papa kok, kan demi calon adik ipar" ucap Raffi sambil mengacak acak rambut caca
"ya udah aku pulang dulu ya" ucap Raffi
caca pun menghantarkan Raffi hingga depan pintu lalu menutupnya setelah Raffi melajukan mobilnya dan bergegas masuk ke kamarnya
diperjalanan Raffi sekarang benar2 merasa sangat ngantuk, namun dia tetap berusaha agar matanya tetap terjaga, Raffi memakan permen yang ada di mobilnya, walau tak terlalu membantu namun itu cukup membuatnya tidak tertidur
pada saat di persimpangan datang truk dari arah kiri Raffi dengan kecepatan tinggi menabrak mobil raffi hingga mobil raffi terguling beberapa kali dan membuat suara yang sangat kuat.
sedangkan pengemudi truk itu langsung turun dan pergi menggunakan mobil yang dari tadi sudah menunggunya disebrang jalan. sambil tertawa mereka melajukan mobilnya
suara tabrakan tadi membuat beberapa warga keluar dari rumahnya untuk melihat apa yang terjadi.
Kini mobil Raffi dalam posisi terbalik dan para warga pun mencoba untuk membalikannya kembali untuk menolong Raffi yang dalam keadaan tak sadarkan diri dan darah mengalir dari kepalanya
tak lama polisi bersama ambulance pun datang dan Raffi pun langsung dibawa kerumah sakit.
sementara itu dirumah Billy masih tertidur
tiba2 telfonnya berdering billy pun meraba meja disebelah tempat tidurnya dan mengangkat tlpnya
"hmmm" gumam Billy
"selamat malam, kami dari kepoliisian ingin memberitahukan bahwa pemilik nomor ini mengalami kecelakaan dan sekarang berada di Rumah Sakit" ucap polisi itu
"hah polisi? kecelakaan?" ucap billy kaget dan langsung melihat layar hpnya
"Raffi" ucap billy lagi
setelah polisi itu menjelaskan kronologisnya billy pun langsung menghubungi Dama, Irwan dan Dinar mereka sama kagetnya dengan billy tapi mereka sepakat untuk tidak memberi tahu gigi saat ini karna takut gigi syok.
Billy, Dama dan Irwan pun langsung bergegas menuju rumah sakit sementara Dinar baru akan kesana besok pagi bersama gigi.
sesampainya dirumah sakit mereka langsung menuju ruang Raffi dirawat
"kok bisa jadi begini sih bill?" tanya Dama saat mereka berada di depan ruangan Raffi
"gue jga ga tau kali dam, polisi tadi cuma bilang mobil Raffi ditabrak truk trus supirnya kabur truknya ditinggal di tempat" jelas billy
"lagian si Raffi dari mana sih jam segini" ucap Irwan
tiba2 suster keluar dari ruangan itu
"maaf keluarga pasien" ucap suster itu
mereka pun saling tatap karna Raffi cuma sendiri di Jakarta
"emm saya, saya sepupunya sus, orang tuanya sedang tidak ada di Indonesia" ucap Dama
"baik lah, pasien harus segera di tindak lanjuti karna benturan dikepalanya mengharuskan kami harus melakukan operasi maka dari itu kami memerlukan persetujuan dari keluarga, sekaligus menyelesaikan administrasinya" jelas suster itu
"ya sus, saya yg akan memberi persetujuan dan menyelesaikan administrasinya" ucap Dama
"kalau begitu mari ikur saya" ucap suster itu lalu berjalan diikuti oleh Dama
tak berapa lama Raffi keluar dari ruangan itu dan di bawa ke ruangan operasi.
operasi berjalan lancar dan kini Raffi sudah dipindahkan ke kamar rawat.
tentunya dengan Billy, dama dan irwan yang selalu menemaninya
Sementara itu ditempat lain
"Bagaimana? apakah kalian sudah membereskannya" ucapnya
"Sudah bos, dia sekarang sedang kritis dirumah sakit dan pasti dia akan segera mati" jwb penabrak Raffi
"Bagus" ucap nya kemudian menyerahkan amplop berisikan uang
"Sekarang kalian boleh pergi" ucapnya lagi lalu mereka pun pergi
"Saat kamu mati, semua rencan saya akan berjalan lancar" ucapnya lalu tertawa jahat
pagi harinya Dinar sudah berada di Rumah gigi
tok...tok...tok... dinar mengetuk pintu rumah gigi
tak lama mama rita membukakan pintu
"eh Dinar, tumben pagi2 udah kesini" ucap mama rita
"giginya ada tan?" tanya Dinar
"ada ada ayo masuk, gigi nya masih siap2 diatas" ucap mama
dinar pun masuk mengikuti mama rita menuju ruang makan
"Dinar ayo duduk, ikut srapan bareng kita" ucap papa
"ia om, makasih" ucap dinar lalu ikut duduk namun dia hanya diam saja
"kak Dinar kenapa sih kok murung gitu, ada masalah ya kak" ucap caca yng juga berada disitu
"emm Raffi ca, om tante" ucap dinar
"Raffi kenapa?" tanya mama
"Raffiiii kecelakaan" ucap Dinar sedikit pelan
"apaaa?? kok bisa kak? kapan? dimana? sekarang kak Raffi ada dimana? kondisinya gimana?" tanya caca bertubi2
"ia din kenapa bisa spt itu" tanya mama
"tdi malem, sekarang Raffi lagi dirumah sakit, makanya Dinar kesini mau ngajak gigi kesana. tapi jgn kasih tau gigi sekarang ya, biar sampai rs aj gigi taunya, Dinar takut gigi……"
ucap dinar terpotong karna gigi menghampiri mereka
"pagi semua" sapa gigi
"eh ada lo din, ada apa nih" tanya gigi
"ga ada apa2 kok" ucap Dinar
"ayo duduk sayang, kita sarapan dulu" ucap mama rita memberikan roti ke gigi
gigi pun duduk dan memakan roti yang disediakan mamanya.
Namun gigi merasa ada yang aneh karna semuanya hanyaa diam apalagi caca yang dari tadi hanya memotong2 rotinya saja tanpa memakannya
"cha lo kenapa?" tanya gigi
"emm engga kok mbak, caca udah selesai sarapannya caca kekamar dulu ya" ucap caca lalu pergi meninggalkan yang lainnya
"mah si caca kenapa sih" tanya gigi
"udah paling dia lagi ada yang difikirin, udah kamu buruan sarapannya" ucap mamaa
setelah selesai sarapan dinar mengajak gigi
"gi lo ikut gue ya, ada sesuatu yang harus gue kasih tau ke lo" ucap Dinar
"ada apaan sih Din, tapi gue harus ke toko" ucap gigi
"ini lebih penting dari pada toko lo gi, ikut gue ya" bujuk dinar
akhirnya gigi pun mengikuti dinar.
diperjalanan
"din kita mau kemana sih" tanya gigi
"udah ikutin gue aja" ucap dinar
"eh din lo tau ga semalem Raffi ngelamar gue" ucap Gigi senang
"Raffi ngelamar lo?" tanya dinar
"ia din gue seneng banget, semalam dia minta gue untuk jadi istrinya di resto, trus dia juga ngelamar gue dirumah didepan orang tua gue trus dia ngasih gue cincin ini" ucap gigi sambil menunjukan cincinnya
"lo seneng banget ya gi?" tanya dinar
"ya iya lah gue seneng bangeeet malah" ucap gigi
"gue ga tega gi ngerusak kebahagiaan lo saat ini" batin Dinar
"Dinar lo kok bengong sih, lo ga seneng liat gue seneng gini" ucap gigi membuyarkan lamunan dinar
"hah gue ikut seneng kok" ucap Dinar tersenyum hambar.
tak lama mereka pun sampai di rumah sakit
"ayo gi" ajak dinar lalu turun dari mobilnya
"kok kita ke rumah sakit din? siapa yang sakit?" tanya gigi heran
"lo ikutin gue aja ya gi" ucap dinar lalu berjalan menuju ruangan Raffi
Gigi terus berjalan mengikuti Dinar dipenuhi banyak pertanyaan di fikirannya hingga mereka berhenti tepat didepan sebuah ruang rawat VVIP
"din, didalam emang ada siapa?" tanya gigi
"gi gue mohon sama lo, lo harus sabar" ucap dinar sambil menggenggam tangan gigi
"apaan sih lo din, emang didalam ada siapa" tanya gigi lagi
"Gi ayo kita masuk" ajak Dinar
Dinar pun membuka pintu itu perlahan masih menggenggam tangan gigi. mereka pun masuk didalam sudah terlihat seseorang terbaring tak sadarkan diri
"Raffiiii!" ucap gigi.
gigi langsung menghampiri Raffi, air matanya tak dapat dibendungnya lagi
"din Raffi kenapa?" tanya gigi
"Raffi kecelakaan gi" jawab dinar lirih
"dia belum sadarkan diri sejak semalam" ucap Dama yg sedari tadi berada disitu
"Raffiiiiiii ayo sadar" ucap gigi sambil menangis lalu memeluk Raffi. tubuhnya kini merasa lemas
"udah gi, lo yang kuat" ucap dinar memcoba melepaskan pelukan gigi ke raffi dan medudukkannya
"gi lo yang sabar, Raffi pasti akan segera sadar" ucap Irwan
gigi menggenggam tangan Raffi dan menempelkannya di pipi nya
"Raffi ayo sadar sayang, kamu harus sadar" ucap gigi sambil terus menangis
dinar dan yg lainnya pun tak bisa berbuat apa2 mereka hanya diam melihat gigi bahkan Dinar pun ikut menangis
"Raffi sadar dong, kamu ga boleh terus begini ayo sadar sayang" ucap gigi lirih
tiba2 dokter dan 2 suster datang untuk memeriksa Raffi beberapa saat dokter memeriksa keadaan Raffi sedangkan susternya mengganti infus Raffi.
"bagaimana keadaannya? dia baik2 saja kan dok?" tanya gigi
"ya dia akan segera sadar" ucap dokter itu membuat hati gigi sedikit lega
"baik lah saya permisi dulu dan untuk keluarga pasien mari ikut keruangan saya" ucapnya lagi
"baik dok" ucap Dama lalu mengikuti dokter itu
gigi pun kembali duduk disamping Raffi dan menggenggam lagi tangan Raffi
selang beberapa menit Putri dan pak Alex datang untuk menjenguk Raffi
"Pak alex, putri" ucap billy
"billy bagaimana kondisi pak Raffi" tanya pak alex
belum lagi Billy menjawab Putri yang melihat Raffi langsung menghampirinya dan memeluk Raffi sambil menangis dia seolah tak memperdulikan gigi yang sedari tadi berada disitu.
"Raffiii kenapa kamu bisa seperti ini Raffi" ucap putri sambil menangis
"Putri udah, ayo ikut gue" ucap Dinar yang langsung menghampiri putri
"apaan sih din, gue cuma pengen tau kondisi Raffi" ucap putri yang sudah sedikit menjauh
"tanpa lo meluk Raffi lo bisa tau kondisi dia, jaga sikap lo" ucap dinar
"apa yang salah dengan gue meluk Raffi" ucap Putri
"jelas lo salah karna lo meluk Raffi dedepan calon istrinya" ucap Dinar
"calon istri? siapa? gigi maksud lo" tanya putri sambil melihat kearah gigi
"ia gigi calon istri Raffi, Raffi udah ngelamar gigi semalam" ucap Dinar
"apa ngelamar?" ucap Putri, Irwan dan Billy bersamaan yang membuat gigi sedikit emosi
"kalau kalian mau berisik diluar saja" ucap Gigi
"maaf gi, maaf pak" ucap Billy ke Gigi dan pak Alex
"serius lo Raffi udah ngelamar gigi" bisik Irwan
Dinar hanya mengangguk
tiba2 Dama masuk
"dam gimana, dokter bilang apa?" tanya Gigi
"intinya dokter bilang operasi semalam berjalan baik, dan kita hanya menunggu sampai Raffi sadar" ucap Dama
"alhadulillah" ucap gigi
"sayang aku yakin kamu pasti akan segera sadar, kamu pasti kuat" ucap gigi lalu mencium tangan Raffi
"sialan seharusnya dia langsung mati" batin pak alex
"Bagus lah semoga pak Raffi segera sadarkan diri, kalau begitu saya pamit, ada beberapa pekerjaan yang harus saya lakukan dikantor" ucap pak alex
"ya pak, trima kasih sudah menjenguk Raffi" ucap Dama
"ya, marii" ucap pak alex lalu keluar dari ruangan itu
"kalau gitu gue jga permisi" ucap putri yang masih kesal mendengar ucapan Dinar dan langsung keluar dari ruang rawat Raffi
"kenapa nagita? kenapa nagita yang dilamar Raffi? padahal gue dari dulu udah nyatain cinta dan selalu ditolak" gerutu Putri sambil berjalan meninggalkan rumah sakit
"gi, lo ga mau makan dulu, ini udah waktunya makan siang" tawar Dinar
"nanti aja din gue mau nungguin Raffi disini, gue mau saat dia sadar gue orang yang ada disampingnya" ucap Gigi
"yaudah, kami keluar dulu cari makanan, nanti kami bawain aja makanan buat lo ya" ucap dinar
"ya" jwb gigi singkat
lalu dana, dinar,irwan dan billy pun keluar.
sementara itu pak Alex bukannya ke kantor dia malah menemui orang2 suruhannya
"bodooh!! seharusnya kalian memastikan dia mati" bentak pak Alex
"tapi bos kami liat sendiri mobilnya terbalik, dan pasti dia mati disana" ucap salah satu dari mereka
"mana buktinya? kalian bilang kalian pembunuh bayaran terbaik? mana buktinya?" tanyanya geram
"sebentar lagi dia akan segera sadar! saya ga mau tau buat dia mati secepatnya bagaimana pun caranya" ucapnya lagi.
"sekarang keluar dari sini dan cepat habisi dia" perintah pak alex
mereka pun keluar dari ruangan itu
"dia harus segera mati agar saya bisa memiliki perusahaan itu seutuhnya, usahaku selama bertahun2 ga boleh sia2 hanya gara2 kehadirannya" ucap pak alex emosi
setelah membeli makanan dinar dan yang lainnya pun kembali keruangan Raffi dan memberikan makanan untuk gigi, setelah gigi makan dinar, irwan dan dama pamit karna harus ada yang mereka kerjakan. dan yang akan menemani gigi adalah Billy.
sore harinya mama dan caca datang menjenguk Raffi
"mama? mama tau dari mana Raffi disini?" tanya gigi heran
"dari dinar tadi pagi" jawab mama
"mbak gimana keadaan kak Raffi?" tanya caca
"kata dokter kita hanya tinggal menunggu Raffi sadar" ucap gigi
"mbak ini semua salah gue, ga seharusnya gue minta kak Raffi ngebantuin ngerjain tugas gue" ucap caca
"ini ga ada sangkut pautnya dengan itu ca" ucap gigi
"jelas ada mbak, kak Raffi pulang selarut itu karna gue, kalau gue bisa nahan dia untuk nginep dirumah ini semua ga akan terjadi" ucap caca menyesal sambil menangis
"ca kita udah bahas ini dirumah, berhenti nyalahin diri kamu sendiri" ucap mama Rita
"ia ca ga ada gunanya nyalahin diri sendiri, yg penting sekarang kita berdoa agar Raffi cepat sadar" ujar gigi
setelah beberapa saat menjenguk Raffi mama dan caca pun pulang dan memberikan baju ganti untuk gigi karna gigi tak mau pulang
selang beberapa saat setelah mama dan caca pulang
"Sayaang kmu cepat sadar dong, kmu harus sadar" ucap gigi
"Raffi aku yakin kamu pasti denger aku kan, kamu bagun ya aku ga mau liat kamu terus2an begini" ucap gigi menggenggam tangan Raffi dan tanpa terasa air matanya kembali mengalir mengenai tangan tangan raffi yang kini berada dipipinya
"Raffi ayolah sadar, aku ga mau liat kamu begini" ucapnya lirih
perlahan Raffi membuka matanya dia melihat kearah gigi yang menenggelamkan wajahnya di tangannya. Raffi merasakan airmata gigi yang membasahi tangannya
"giii" panggil Raffi pelan
"Raffii" ucap gigi langsung melihat kearah Raffi
"kamu udah sadar sayang?" ucap gigi senang
"aaaaaww" ucap Raffi
"apa ? apa yang sakit" tanya gigi panik
"kepala dan tangan aku" jawab Raffi menahan rasa sakitnya
"bil panggil dokter, cepat" perintah gigi
Billy pun segera memencet bel yang tak jauh dari gigi
"sayang kamu sabar ya, dokter akan segera datang" ucap gigi
dokter pun datang billy dan gigi segera menjauh agar dikter bisa memeriksa Raffi
"bagaimana dok, dia baik2 sajakan" tanya gigi
"ya dia tak apa2 hanya saja tangan kanannya akan terasa sakit untuk digerakkan karna benturan yang cukup kuat pada saat kecelakaan" jelas dokter
"tpi itu ga akan lama kan dok?" tanya billy
"kita akan liat perkembangan selanjutnya, baik lah kalau begitu saya permisi dulu" ucap dokter
"trimakasih dok" ucap billy
dokter keluar, gigi segera menghampiri Raffi
"Raffii kamu ga papakan?" tanya gigi
"aku gapapa kok, kamu jangan nangis dong" ucap Raffi melihat Gigi menangis
"aku cuma khawatir sama kamu" ucap gigi duduk ditempatnya tadi
"hey aku ga suka liat kamu nangis gitu" ucap Raffi berusaha menghapus air mata gigi namun tangannya terasa sangat sakit
"hah gi maafin aku. aku ga berguna buat ngehapus air mata kamu aja aku ga bisa, maafin aku gi" ucap Raffi
"engga fi, kamu sangat berarti buat aku, ini hanya sementara kamu pasti akan sembuh" ucap gigi
"ia fi lo ga usah ngomong yang aneh2 lo baru sadar" ucap billy
"tpi gi, sekarang aku cuma bisa nyusahin kamu doang" ucap Raffi
"ga fi, aku ga merasa kamu repotin, sekarang kamu jangan mikir yang macem2 lebih baik kamu istirahat supaya kamu cepat pulih" ucap gigi membenahi selimut Raffi
"gi maafin aku ya" ucap Raffi lagi
"Raffi berhentilah meminta maaf" ucap gigi
"tapi………"
"sudah lah, sekarang kamu istirahat yaaa" ucap gigi lembut lalu mencium pipi Raffi
"kamu udah genit sekarang yah" ucap Raffi
"Udah istirahat" ucap gigi malu
Raffi hanya tersenyum lalu memejamkan matanya.
keesokkan paginya Raffi bangun terlebih dahulu dia melihat gigi sedang tertidur di kursi dan meletakkan kepalanya didekat tangan Raffi,
Raffi sangat ingin membelai Rambut gigi namun tangannya masih terasa sakit untuk digerakkan.
"gara2 aku kmu jdi begini, maafin aku ya" ucap Raffi pelan
"eh fi lo uda bangun?" ucap billy yang baru dari toilet
"syuuuuuut" ucap Raffi tak ingin membangunkan gigi
"oh sory sory" ucap billy
"hemmm" gigi terbangun
"eh kamu udah bangun, maaf aku ketiduran" ucap gigi sambil mengucek matanya
"seharusnya aku yang minta maaf, karna aku……"
"raffi udah berapa kali aku bilang, jangan terus terusan minta maaf karna aku ngelakuin semua ini ikhlas buat kamu" ucap gigi
"makasih sayang" ucap Raffi
"yaudah, aku ketoilet dulu ya" ucap gigi lalu pergi ke toilet
tiba2 dokter masuk untuk memeriksa Raffi kembali, setelah beberapa saat dokterpun keluar.
"eh dokter ngapain?" tanya gigi yg baru keluar dari toilet
"cuma ngechek aja kok" jwb Raffi
"oo, yaudah kamu sarapan dulu ya, aku suapin" ucap gigi mengambil bubur yang sudah tersedia dimeja
"eh fi, gi gue cabut dulu ya, gue harus kekantor" ucap billy
"ok, hati2 ya" ucap gigi
billy pun pergi, dan gigi pun menyuapi Raffi hingga buburnya habis
"selesai, sekarang kamu mau ngapain?' tanya gigi
"aku boleh keluar ga? disini bosen banget" ucap Raffi manja
"aku harus tanya dok……"
"Raffiiii" ucap wanita paruh baya menghampiri Raffi dan langsung memeluknya sambil menangis
"kamu kenapa bisa begini" ucapnya masih memeluk Raffi
"mama sakiiit" ucap Raffi
ternyata wanita itu adalah mama amy yang datang bersama papa Munawar
"maaf fi, mana yang sakit" tanya mama
"tangan kanan Raffi masih sakit tan" jawab gigi
mama amy melirik gigi sekilas lalu kembali ke Raffi
"affi kenapa kamu bisa begini nak" ucap mama amy sambil menangis
"sudahlah ma, afi ga papa, dan tangan afi akan segera pulih, jadi mama jangan nangis lagi ya" ucap Raffi mencoba menengkan Mamanya
mama amy pun sedikit tenang mendengarkan perkataan Raffi
"bagus kalau begitu, mama kamu ini tidak henti2nya menangis dari kemarin, bahkan didalam pesawat pun dia tak henti2nya menangis" ucap papa menghampiri Raffi
"mama masa cengeng sih, mama kan tau kalo afi itu kuat" ucap Raffi
"mama khawatir sama kamu sayang" ucap mama
"kamu gigi kan?" ucap mama amy melihat gigi
"ia tante" ucap gigi lalu menyalam mama amy dan papa Munawar
"kamu sekarang lebih cantik" puji mama
"makasih tan" ucap gigi
"ma pa" panggil Raffi
"ya ada apa sayang, apa ada yang sakit lagi?" tanya mama
"enggak kok, mah, pah afi boleh minta sesuatu ga?" tanya Raffi
"tentu saja, ucapkan saja apa yang kamu inginkan, pasti akan papa dan mama kabulkan" ucap papa
"ya sebutkan saja" tambah mama amy
"nanti setelah afi sembuh total, tolong Lamarkan wanita yang ada disamping mama ini untuk menjadi Istri Raffi" ucap Raffi sambil melirik kearah gigi
gigi kaget bukan kepalang, dia hanya menunduk malu
"Raffi kamu sedang bercanda?" ucap mama melihat kegigi
"mama afi ga bercanda, Raffi serius ma" ucap Raffi
"tapi kamu sudah yakin dengan keputusan kamu ini" tanya papa
"yakin pa, papa dan mama mau kan mewujudkan keinginan Raffi ini" tanya Raffi
"baiklah papa akan mewujudkannya" ucap papa
Raffi dan gigi hanya tersenyum
"makasih pa ma" ucap Raffi
"permisi" ucap Dama tiba2
"masuk dam" ucap Raffi
lalu dama, irwan dan dinar pun masuk
"eh ada tante om" ucap Dinar menyalam mama dan papa Raffi diikuti oleh yg lainnya
"wah kalian, tapi sepertinya kurang satu ya" ucap mama amy
"iya tan, Billy lagi dikantor" jawab irwan.
"nak Dama bisa om bicara berdua sebentar" ucap papa
"bisa om" ucap dama lalu papa dan dama pun keluar dari situ
"ada apa om?" tanya dama
"apa yang sebenarnya terjadi pada Raffi, sehingga dia bisa seperti itu" tanya papa
"Raffi ditabrak sebuah truk om dan supir truk itu langsung pergi meninggalkan Raffi dan truknya" jelas dama
"lalu apa pengemudi truk itu sudah tertangkap?" tanya papa lagi
"belom om, tapi polisi sedang mencari pelakunya" jawab dama
"trimakasih, sekarang kamu boleh masuk om ada urusan sebentar" ucap papa lalu meninggalkan dama kemudian dama pun kembali keruang Rawat Raffi
papa Munawar rupanya menelfon orang bayarannya untuk memerintahkan mereka untuk mencari dalang dari semuanya
"cari tau siapa pelakunya bila sudah langsung bawa kesaya" perintah papa
"berapa pun yg kamu minta, akan saya berikan, lakukan secepat mungkin" sambungnya
lalu mematikan telfonnya kemudian kembali ke ruang rawat Raffi.
setelah cukup lama dama dan yg lainnya menjenguk Raffi mereka pun pulang termasuk gigi, walaupun sebenarnya dia tak ingin pulang. setelah gigi dan yang lainnya pulang
masuk dokter dan satu orang suster menggunakan masker penutup mulut
"permisi pak bu, saya harus memeriksa pasien" ucap dokter itu
papa pun mengizinkannya walaupun sebenarnya menaruh curiga kepada dokter itu.
dokter itu pun memeriksa Raffi lalu menyuntikkan sesuatu ke Raffi dan suster penggantiinfus Raffi.
kemudian mereka keluar dari ruangan itu
"ma, afi ngantuk" ucap Raffi kemamanya
"ya sudah kamu istirahat ya" ucap mama amy lalu menyelimuti Raffi
kemudian Raffi pun tertidur
namun tak lebih dari lima menit setelah Raffi tidur datang dokter dan dua susternya
"permisi pak, ibu saya mau memeriksa pasien" ucap dokter itu membuat mama dan papa bingung
"tpi dok, dia baru saja diperiksa" ucap mama amy
"maaf bu tapi saya belum memeriksa pasien siang ini"
jawab dokter
"apa ada dokter lain yang menangani putra saya?" tanya pappa
"maaf pak, tpi dari awal yang menangani pasien hanya saya, dan saya memang belum memeriksa pasien siang ini" jelas dokter itu
BERSAMBUNG
Cerita ini hanya fiktif belaka,
Untuk komentar, kritik dan saran
silahkan ke akun twitter aku
@Liaa_RA17
thanks for reading......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar