Kamis, 03 November 2016

JUST A FRIEND TO YOU (Cerpen)

Jakarta, 2001

Raffi merutuki dirinya sendiri yang meninggalkan tempat pensil berserta isi-isinya di meja belajarnya dirumah dan berakhir dia tak tahu harus menulis menggunakan apa saat ini. Raffi menoleh kesamping kanannya, dimana Ferro teman sebangkunya yang tengah sibuk memindahkan catatan di papan tulis ke buku catatan miliknya.

"Fer," panggil Raffi sembari menyenggol siku Ferro.

"Pa'an?"

"Lo ada pulpen dua, nggak? Gue pinjem atu."

"Elah, Fi, ini aja pulpen dapetan di kolong meja si Adam tadi pagi."

"Duh, gimana dong? Pulpen gue ketinggalan."

"Pinjem si Nagita coba, kalau anak cewek biasanya pulpennya banyak."

"Gue nggak pernah ngomong sama dia, masak mau langsung minjam pulpen aja."

"Elah, Fi. Pinjem aja kali!"

Raffi memberengut kesal, bukannya apa, hanya saja Nagita, cewek yang duduk tepat didepannya ini sangat jarang bicara dan bergaul. Raffi jadi tidak enak sendiri kalau tiba-tiba meminjam pulpen darinya begitu saja. Tapi, dari pada dia tidak mencatat dan berakhir dimarahi Pak Burhan, guru sejarah yang terkenal galak itu, lebih baik dia memberanikan diri untuk meminjam pulpen pada Nagita.

"Nagita..." panggil Raffi pelan. Dan Nagita tak mendengarnya.

"Na, Nagita... hey." Panggil Raffi lagi kini sembari menoel-noel punggung Nagita dengan telunjuknya.

"Apa?" Tanya Nagita.

"Lo ada pulpen dua nggak? Gue pinjem satu?"

"Bentar," Gadis dengan kuncir kuda itu mengambil pulpen dari dalam kotak pensilnya yang berwarna pink. "Nih, jangan sampe hilang." Ucap Nagita sembari memberikan pulpen berwarna pink dengan mainan barbie diatasnya, pada Raffi tanpa menoleh sedikitpun ke Raffi.

"Hmm pink?... oke! Gue pake dulu ya?" Ucap Raffi dengan ragu tapi tetap mengambil dan mengenalan pulpen itu.

Uhh pink? Barbie? Sungguh perempuan sekali!!

..................

"Hemm Na, tunggu!" Raffi memanggil Nagita saat Nagita sedang berjalan di koridor kelas menuju gerbang sekolah.

"Ya?" Nagita memelankan langkahnya agar Raffi dapat menyusulnya.

"Ini, pulpen lo, makasih ya?" Raffi menyerahkan pulpen pink milik Nagita yang pagi tadi dipinjamnya.

"Oh. Ya." Jawab Nagita seadanya.

Bukannya Nagita sombong, dia hanya terlalu canggung untuk berbicara dengan orang yang baru dikenalnya. Ya walaupun mereka sudah saling kenal sebatas nama selama sebulan ,tapi tetap saja Nagita masih merasa canggung.

"Hmm, lo pulangnya jalan, naik angkutan umum, atau di jemput?" Tanya Raffi.

"Di jemput."

"Ooh. Lo dikelas kenapa jarang ngomong sih?"

"Cuma canggung aja. Belum terbiasa sama orang-orang baru."

"Dibawa santai aja kali, Na. Ntar lo nggak ada temennya kalau diam-diam aja. Besok jam istirahat, gabung sama gue aja, jangan sendirian mulu, ntar kesambet."

Nagita tersenyum kecil lalu mengangguk. "Gue duluan ya? Papa udah jemput." Ucap Nagita begitu melihat motor papanya di depan gerbang sekolah.

"Ya. Hati-hati." Jawab Raffi, membiar kan Nagita berjalan mendahuluinya menuju gerbang sekolah. Sementara Raffi melanjutkan lahkah kakinya ke tempat dia memarkirkan sepeda miliknya.

~~~~~~

"Na, ikut kekantin nggak?" Tanya Raffi saat jam istirahat pada Nagita.

"Hem, berdua doang?" Tanya Nagita.

"Enggak, bareng anak-anak yang lain, ada ceweknya kok. Mereka udah kekantin duluan tadi. Ayo akh, dari pada dikelas sendirian." Ajak Raffi lagi.

"Emang nggak papa?"

"Ya enggak lah! Ayo!" Raffi menarik tangan Nagita dan membawa Nagita menuju kantin, bergabung dengan teman sekelas mereka yang lainnya.

Berawal dari pulpen pink dengan boneke barbie. Raffi dan Nagita perlahan menjadi dekat. Dua orang yang selalu kemana-mana bersama.

☆☆☆☆☆

Jakarta, 2004

"Raffi, tungguin dong! Lo jalannya cepat banget sih!" Ucap Nagita cemberut karena Raffi berjalan terlalu cepat didepannya.

"Ish! Dasar kurcaci, makanya kaki lo panjangan dikit. Ayo cepat, ntar acaranya keburu dimulai." Gerutu Raffi, tapi tetap berhenti menunggu Nagita hingga berjalan sejajar dengannya.

"Gue susah jalan pake heels begini, anak monyet! Kalau jalannya cepet-cepet ntar gue jatuh." Ucap Nagita sembari menggandeng lengan Raffi dengan erat. Sekaligus untuk berjaga-jaga agar dia tidak jatuh akibat heels lima cm pilihan mamanya.

"Kenapa sih, harus pake heels segala? Ntar kaki lo lecet! Kalau nggak bisa nggak udah dipaksain, Na." Ucap Raffi lembut pada Nagita, dia tahu Nagita sangat jarang menggunakan alas kaki seperti itu dan dia juga takit jika temannya ini akan jatuh karena mengenakan alas kaki seperti itu di malam prom mereka.

"Kata mama, biar aku nggak keliatan banget pendeknya. Eh iya Fi, lo ganteng malem ini. Dan sesuai nama lo, lo juga RaFi malam ini." Ucap Nagita tulus.

Ya Raffi malam ini terlihat sangat berbeda, jauh lebih tampan menurut Nagita. Jika biasanya Nagita hanya melihat Raffi dalam balutan seragam sekolah ataupun kaos yang dipadukan celana jeans . Kali ini Nagita melihat Raffi yang berbeda, malam ini Raffi mengenakan kemeja putih ditambah jas berwarna Abu-abu dan dipadukan dengan celana bahan yang berwarna senada dengan jasnya. Oh tidak lupa sepatu pantofel hitam mengkilat yang memberi nilai plus pada penampilan Raffi malam ini. Disaat kebanyakan, anak laki-laki lainnya memilih jas hitam, entah mengapa Raffi justuh memilih warna abu-abu. Membuat dirinya berbeda dengan kebanyakan orang.

"Thanks, lo juga cantik banget malem ini. Tapi lo kelihatan kurang nyaman gara-gara hells itu." Ucap Raffi jujur.

Kalau Raffi terlihat begitu tampan dengan stelan Abu-abunya maka Nagita terlihat sangat cantik dan memukau dengan dress abu-abu selututnya. Sama seperti Raffi, Nagita mengenakan dress dengan warna yang berbeda dari teman-temannya yang kebanyakan mengenakan dress pink atau merah. Tapi untuk informasi saja, Raffi dan Nagita sama sekali tidak janjian mengenakan pakaian dengan warna yang sama seperti saat ini.

"Wuuu ini dia kurcaci dan anak monyet!"

"Kami kira, lo berdua nggak dateng. Lama banget."

Begitu masuk ke Aula yang telah didekor sedemikian rupa ini, Raffi dan Nagita langsung disambut teman-teman mereka yang sudah berada disana sejak tadi.

"Wah lo berdua kompakan bajunya! Janjian ya?" Ucap Adam yang pertama kali menyadari Raffi dan Nagita mengenakan pakaian yang sama.

"Iya! Sweet banget sih kalian." Tambah Astri.

"Enggak, gue sama dia nggak janjian. Kebetulan doang." Ucap Nagita.

"Lo berdua itu walaupun sering berantem tapi cocok kalau jadi pasangan. Kenapa kalian nggak pacaran sih?" Tanya Astri.

Ucapan Astri itu bukan sekedar bualan semata. Satu sekolah juga tahu kalau Raffi dan Nagita adalah dua sejoli yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. Dimana ada Raffi si anak monyet maka di situ juga pasti ada Nagita si kurcaci. Begitu juga sebaliknya.

Mereka berdua benar-benar terkenal seantero SMA Taruna. Semua orang mulai dari satpam, penjaga kantin, seluruh siswa hingga seluruh guru mengenal mereka. Mereka terkenal sebagai murid yang paling sering bertengkar namun akan berbaikan lima menit kemudian. Dan jangan lupakan panggilan "anak monyet" yang diberikan Nagita pada Raffi dengan alasan tingkah Raffi seperti anak monyet yang tak pernah diam. Dan panggilan "kurcaci" yang diberikan Raffi untuk Nagita karena tinggi Nagita yang tidak lebih dari 155cm.

Namun, untuk sekarang kedua anak itu terlalu muda untuk mengenal perasaan "cinta" bagi mereka perasaan mereka hanya perasaan sayang terhadap TEMAN, tidak lebih.

Raffi dan Nagita tertawa lalu keduanya menggeleng, menanggapi ucapan Astri.

Raffi merangkul bahu Nagita "Gue sama kurcaci ini nggak cocok jafi pasangan kekasih, cocoknya jadi pasangan berantem." Ujar Raffi yang mendapat anggukan setuju oleh Nagita.

"Lagian, mana mau gue pacaran sama anak monyet ini!" Tambah Nagita.

"Maksud lo apaan? Gue itu keren tauk!! Banyak cewek yang ngantri buat jadi pacar gue." Ucap Raffi tak terima.

"Ciihh!! Najis banget sih lo anak monyet!" Nagita melepaskan rangkulan Raffi, lalu menatap Raffi dengan raut jijik.

"Ya ampun, Na. Tampang lo itu! Nggak usah sok jijik gitu! Biasa gue bekep lo juga diam aja!" Ucap Raffi lalu memiting leher Nagita dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya menjitak kepala Nagita berlaki-kali.

"Aduh duh anak monyet! Rambut gue rusak!"

"Dasar kurcaci, bilang gue ganteng dulu baru gue lepasin."

"Ogah! Anak monyet lepasin! Bandan lo bau menyet!"

"Enak aja! Gue wangi tauk!"

Dan selanjutjya yang terjadi adalah Raffi dan Nagita yang bertengkar terus menerus. Saling mengejek satu sama lain, saling memukul dan sesekali Nagita menendang Raffi. Namun, setelah mereka puas mereka saling berangkulan satu sama lain, sembari tertawa. Menertawakan kekonyolan mereka berdua.

Tiga tahun terasa begitu singkat untuk mereka berdua. Tiga tahun mereka habiskan dengan saling bercanda, membagi semua masalah dan kebahagian yang mereka miliki satu sama lain. Mereka selalu ada untuk satu sama lain.

Tiga tahun mereka jalani murni sebagai teman. Benar-benar teman dalam artian yang sesungguhnya. Mereka terlalu muda untuk mengenal 'cinta' diusia sekarang. Tapi tidak ada yang tahu nantinya.

Waktu terus berjalan tanpa henti. Waktu bisa saja membuat mereka merasakan perasaan yang lain. Mungkin perasaan cinta.

Tapi...

Waktu juga dapat memisahkan mereka.

Tidak ada yang tahu bagaimana waktu mempermainkan mereka. Kembali dipersatukan di tempat yang baru atau terpisahkan jarak dan waktu.

Berawal dari pulpen pink dengan boneka Barbie.

♡♡♡♡♡

BELASAN TAHUN KEMUDIAN.

Nagita memarkirkan mobilnya dengan cepat sambil beberapa kali merutuki dirinya yang tadi kesiangan bangun hingga harus terburu-buru seperti sekarang.

Setelah memastikan mobilnya terparkir dengan sempurna, Nagita langsung turun dari mobil dan berjalan cepat - nyaris lari bahkan, menuju terminal kedatangan Internasional di bandara Soetta.

Sesampainya di sana senyumnya langsung merekah melihat sosok yang ingin dijemputnya pagi ini. Sosok laki-laki yang sangat dicintainya, numun sayang hanya menganggapnya sebagai teman.

"Anak monyet! Sini!" Nagita yang tingginya tak sampai 155cm itu melambai-lambaikan tangannya, memanggil seorang laki-laki yang sedang celingukan seperti mencari-cari sesuatu.

Laki-laki itu tersenyum begitu melihat Nagita, lalu berjalan menghampiri Nagita dengan senyum yang mengembang lebar dan terkesan konyol.

Bisa-bisanya Nagita menyukai laki-laki satu ini!

Hey, cinta tidak bisa memilih akan jatuh pada siapa.

"Kurcaci! Sumpah gue kangen banget sama lo!" Raffi, laki-laki itu, membawa Nagita kedalam pelukannya yang erat dan terkesan posesif.

"Monyet! Gue sesek! Lepas, bego!" Nagita itu berusaha melepaskan pelukan Raffi dengan meronta didalam pelukan Raffi namun bibirnya tetap menyunggingkan senyuman.

"Biarin gini dulu kenapa sih, Na?"

"Tapi gue-nya sesak Raffi Auriga!" Dan lo bikin gue baper! Tambah Nagita dalam hatinya. Dia tak mungkin mengatakan hal itu pada Raffi. "Lo kayak nggak ketemu gue berabad-abad tau nggak!!" Tambah gadis itu dengan menghilangkan senyumannya dan memasang tampang sok galak, namun sesungguhnya dia juga sangat sangat merindukan Raffi, laki-laki yang hanya menganggapnya sebatas TEMAN.

Kebersamaan yang mereka lalui bukanlah waktu yang singkat dan kebersamaan itu membuat perasaan Nagita pada Raffi berubah. Dari yang dulunya perasaannya pada Raffi hanya teman tapi kini perasaan itu berubah menjadi cinta. Entah sejak kapan, tapi perasaan cinta itu semakin lama semakin dalam. Namun sayang hanya perasaan Nagita tak berbalas, Raffi hanya menganggapnya teman.

"Gue kangen,"

Gue juga!

"Njirr lebay banget lo!"

"Lo tu ya, ngerusak suasana aja." Raffi melepaskan pelukannya pada Nagita, lalu mengacak-acak rambut Nagita hingga benar-benar berantakan.

"Raffi monyet! Rambut gue jadi berantakan!" Nagita berusaha merapikan rambutnya yang sudah tak tahu jadi model apa sekarang karena tangan jahil Raffi.

"Nggak papa, lo tetap kayak gembel kok. Udah pulang yok, gue laper banget sumpah!" Raffi merangkul bahu Nagita dengan tangannya yang bebas sementara tangan satunya lagi membawa koper miliknya.

"Beli makan diluar aja lah, gue males kalau lo suruh masak."

"Padahal gue pengan makan masakan lo. Tapi pesen juga nggak papa lah. Tapi makannya di Appartmen gue aja ya? Capek banget ini."

"Ya, terserah lo aja."

Lalu mereka berdua pun berjalan dengan santai sambil berangkulan menuju mobil Nagita sembari bercerita tentang apa saja yang dilakukan Radfi selama tiga minggu di Jerman.

Siapun yang melihat mereka pasti beranggapan jika mereka adalah sepasang kekasih atau bahkan sepasang suami istri, namun sayang, mereka hanya sebatas teman. Tidak lebih.

Nagita memang mencinta Raffi, namun tidak dengan Raffi. Laki-laki itu hanya menganngap Nagita sebagai TEMAN, tidak lebih.

.
.
.
.
.

"Gue heran sama lo, Na. Kalau emang lo suka sama dia kenapa nggak bilang aja sih?"

"Gue takut!" Nagita menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

"Terus lo mau sampai kapan kayak begini? Sampe lo jadi perawan tua? Na, inget umur lo itu udah dua puluh sembilan! Harusnya lo udah nikah dan punya anak, bukannya galau-galau nggak jelas begini! Gue aja udah punya buntut satu, lu pacar aja kagak punya!" Repet Intan.

"Lo kenapa sih jadi nyudutin gue gini sih Ntan? Gue kan kesini buat minta saran lo, bukan buat nyudutin gue."

Ya Nagita datang kerumah teman semasa kuliahnya dulu untuk curhat masalah perasaannya yang tak pernah berbalas pada Raffi. Tapi sejauh uni yang didapat Nagita hanyalah repetan ibu satu anak ini. Menyebalkan!!

Padahal ini pertama kalinya Nagita mau membuka masalah perasaannya terhadap orang lain. Selama ini Nagita hanya menyimpannya sendiri, dia terlalu malu mengakui bahwa dia mempunyai perasaan lebih pada temannya sejak SMA. Tak ada yang salah memang, hanya saja menurut Nagita itu aneh.

"Gini ya Nagitaaaa. Saran gue, elo itu.harus.nyatain.perasaan.elo.ke.dia. Udah! Untuk sekarang cuma itu yang perlu lo lakuin." Ucap Intan penuh penekanan.

"Tapi gue takut kalau dia jadi ngejahuin gue karena hal ini. Dia nggak suka sama gue, Ntan. Dia cuma nganggap gue temennya."

"Ini yah, Na. Semua orang juga tahu kali, kalau dia itu juga suka sama lo. Jujur nih ya, gue juga sebenernya tahu kok kalau lo suka sama si Raffi. Lo cinta sama dia semenjak dia nyaris di DO dan masuk penjara gegara mukulin si Galih waktu itu kan?"

"Haah? Lo, ta-tau dari mana?" Tanya Nagita tergugu. Dia benar-benar tak peenah mengatakan pada siapapun kalau dia menyukai Raffi. pasti sedang berbohong padanya.

"Nagita sayang, denger ya. Semua orang satu kampus itu tahu kalau kalain saling suka, makanya anak-anak tuh nggak ada yang ngedeketin lo berdua karena semua pada mikir kalian itu pacaran. Apalagi setelah kejadian Galuh itu. Sampe sekarang aja gue nggak nyangka Raffi bisa mukulin anak orang sampe begitu."

"Tapi Raffi nggak suka sama gue."

"Dengerin gue! Emang ada cowok yang cuma nganggep lo temen tapi meluk-meluk lo? nenangin lo kalau lo lagi sedih? Ada emang cowok yang nganggap lo teman tapi ngelindungi lo dari apapun bahkan saat dia ngelindungi lo, dia nggak mikirin dirinya sendiri. Ada gitu cowok yang kalau nggak ketemu sama lo seharian aja bilang kangen ke lo? Nggak bakalan ada, Na! Dia itu nganggap lo lebih dari teman, Na. Percaya sama gue. Coba lo omongin ini sama dia. Kalian nggak bisa gini terus, seenggaknya lo harus ungkapin perasaan lo. Urusan dia cuma nganggap lo sebagai teman, itu urusan belakangan."

"Tapi gue takut dia bakal ngejahuin gue kalau dia tahu gue suka sama dia. Gue nggak bisa, Ntan."

"Gue yakin Raffi nggak sepicik itu untuk ngejahuin lo hanya karena lo suka sama dia. Omongin aja, Na. Dari pada lo BAPER terus disisa hidup lo."

.
.
.
.
.

Nagita hanya duduk diam menatap kearah TV yang menampilkan bocah kembar Upin & Ipin bersama teman-temannya, namun walaupun pandangannya tertuju pada layar televisi tapi fikirannya berada ditempat lain. Dia memikirkan perkataan Intan minggu lalu, haruskah dia mengungkapkan perasaannya pada Raffi?

Tapi bagaimana jika Raffi malah menjahuinya? Atau bahkan membenci dirinya? Nagita sungguh tak bisa hidup dengan benar jika itu benar-benar terjadi. Dia sudah terbiasa hidup dengan Raffi disekitarnya selama hampir lima belas tahun hidupnya. Hidupnya pasti akan berantakan jika itu terjadi.

Tanpa sadar Nagita menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat. Dia benar-benar tidak bisa kalau itu benar-benar terjadi.

"Lo kenapa geleng-geleng gitu? Sakit?" Tanya Raffi yang baru saja keluar dari kamarnya dengan menggunakan kaus oblong putih dan celana jeans, dibahunya tersampir handuk kecil yang digunakannya untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah.

"Eh? Lo udah kelar mandinya?" Tanya Nagita salah tingkah.

"Kelihatannya? Lo kenapa tadi geleng-geleng gitu?" Tanya Raffi mengulang pertanyaan tadi sembari mengambil tempat disebelah Nagita.

"Hmm enggak, gue cuma lagi mikir aja tadi." Jawab Nagita tak sepenuhnya berbohong, toh tadi dia memang sedang berfikirkan? Berfikir tentang kemungkinan terburuk jika dia mengungkapkan perasaannya pada Raffi.

"Nggak percaya gue! Hanyo ngaku lo kurcaci kecil, mikirin apa tadi? Mikirin yang jorok-jorok ya?" Tanya Raffi yang kini sudah memiting kepala Nagita di ketiaknya.

"Nggak! Gue nggak mikir jorok! Lepasin anak monyet!" Nagita memukul-mukul lengan Raffi agar melepaskannya, namun sepertinya Raffi tak berniat melepaskan Nagita sedikitpun. Malah tambah mengeratkan pitingannya sambil tertawa.

"Nggak! Ngaku lo, mikirin apaan tadi?" Sementara tangan kirinya memiting kepala Nagita, tangan kanannya kini mulai menggelitiki daerah pinggang dan perut Nagita.

"Anak monyet! Wahaha... haha Raffi!... ampun... haha..."

"Ngaku nggak lo? Mikirin apa?"

"Haha... ha enggak... Raffi.... haha... ampun... ampuuun... hahaha... ampun..." Nagita terus menggeliat kegelian, karena Nagita memang tidak tahan di gelitiki dan Raffi tentu saja tahu hal itu.

Bahkan posisi mereka yang tadinya duduk sudah berubah menjadi tiduran. Dengan Nagita yang berada dibawah kungkuhan Raffi yang terus menggelitiki Nagita tanpa ampun.

"Raffiiii... haha... ampuuunn... hahaha..." Nagita terus merancau dan berusaha melepaskan diri dari Raffi. Dia benar-benar sangat kegelian sekarang, Raffi memang sungguh keterlaluan kalau soal menyiksa dirinya.

"Cepetan ngaku! Lo tada mikirin apa? Kalau nggak, gue nggak bakal berhenti ngegelitikin lo." Ucap Raffi tanpa menghentikan tangannya yang menggelitiki Nagita.

"Gu... hahaha.... enggak...haha... beneran..."

"RAFFI AURIGA!! Astaghfirullah!"

Hening.....

Raffi berhenti menggelitiki Nagita, mereka berdua saling tatap, kemuadian sama-sama menoleh keasal suara dan mendapati Rahma, mama Raffi berdiri disana dengan tampang marah.

"Oh mama."

"Tante."

Ucap Raffi dan Nagita bersamaan, lalu kembali saling pandang seakan tak ada masalah apapun.

"Ya Allah, Raffi! Kamu ngapain? Turuun!" Teriak Rahma dengan wajah memerah.

Raffi mengerutkan keningnya bingung kenapa mamanya yang baru datang tiba-tiba saja marah. Turun? Turun dari mana pula! Raffi kembali menatap kearah Nagita dengan tatapan yang menyiratkan 'maksudnya apaan sih'

"Posisi lo anak monyet! Lo nyaris nindihin gue! Turun!" Ucap Nagita dengan pipi memerah malu.

Nagita baru menyadiri kalau posisi mereka benar-benar tidak pantas. Bagaimana bisa pantas, Nagita berbaring sepenuhnya diatas sofa. Sementara posisi Raffi, astaga! Kedua kaki Raffi berada diantara kedua kaki Nagita, sementara tubuhnya nyaris menindih Nagita kalau saja tangan kirinya tak bertumpu di dekat bahu Nagita.

Begitu menyadari posisinya, Raffi langsung menyengir lebar kearah mamanya, lalu turun dari atas Nagita sembari menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tak gatal. Begitupun Nagita yang langsung duduk membenahi penampilannya yang berantakan karena ulah Raffi. Oh... Nagita sungguh malu sekarang.

"Raffi, duduk!" Titah Rahma pada anak bungsunya yang satu ini.

Tanpa membantah Raffi pun duduk disebelah Nagita. Begitu dia duduk,  kakinya dan kaki Nagita langsung saling tendang, saling menyalahkan satu sama lain, tak ubahnya anak kecil.

"Lo ini gara-garanya!" Cibir Nagita dengan nada suara yang sangat pelan.

"Lo duluan!" Ucap Raffi tak kalah pelannya, tapi matanya melirik kearah Nagita. Namun hanya sebentar, Raffi langsung mengembalikan pandangannya kedepan.

"Heh! Kurcaci, kancing lo kebuka." Bisik Raffi pada Nagita.

"Hah? Apa?"

"Kancing baju lo kebuka. Belahan dada lo kelihatan." Ucap Raffi sekali lagi, kini dengan lebih jelas.

Mendengar hal itu, Nagita langsung menutupi bagian dadanya dengan kedua tangannya. Sungguh dia sangat-sangat malu sekarang. Bisa-bisanyaa ya Tuhan! "Lo kenapa ngelihat, anak monyet!!" Geram Nagita.

"Nggak sengaja, Na. Sumpah! Lagian dada lo kecil ini, jadi nggak terlau kelihatan kok."

"Anak monyet!!!" Nagita menginjak jari-jari kaki Raffi dengan tumit sekuat tenaganya.

"Aaww aduh duh duh... Sakit kurcaci!" Teriak Raffi karena Nagita benar-benar menginjak kakinya dengan sangat kuat.

"Kalian ini!" Geram Rahma, sedari tadi dia terus memperhatikan dua orang didepannya ini berbisik-bisik tidak jelas, menyalahkan satu sama lain.

"Maaf," ucap Nagita dan Raffi bersamaan.

"Kalian ini sudah tua, tapi kelakuannya masih saja seperti anak kecil."

Diam...

Raffi dan Nagita hanya diam, tak tahu harus menyanggah ucapan Rahma dengan apa, karena yang diucapkan Rahma memang benar. Bahkan disaat seperti sekarang pun kaki mereka terus menendang satu sama lain, saling menyalahkan.

"Kalian berdua itu benar-benar ya? Sudah! Jangan tendang-tendangan lagi!" Ucap Rahma lalu menghela nafasnya lelah.

"Raffi, jelaskan ke mama, apa maksud kamu nindih-nindihin Nagita seperti tadi?"

"Itu tadi, Raffi cuma ngegelitiki Nagita, ma. Bukan nindihin." Jawab Raffi jujur.

"Iya kok, Tan." Tambah Nagita, membenarkan perkataan Raffi.

"Kalian sudah hampir kepala tiga dan masih main gelitik-gelitikan?" Tanya Rahma sambil memijit pelipisnya. Anak bungsunya dan sahabatnya ini benar-benar tak pernah dewasa.

"Nggak ada yang salah, ma. Orang dewasa juga perlu hiburan. Oh iya, tumben mama ke Jakarta nggak bilang-bilang? Mama sendiri? Kenapa nggak bilang sih? Tahu mama bakal datang, Raffi bisa jemput dibandara." Raffi mulai mengalihkan pembicaraan, dia tidak mau tetus-terusan diintrogasi seperti penjahat yang mencuri ayam oleh ibunya. Toh dia merasa tak melakukan kesalahan apapun.

"Raffi Auriga Nash, jangan mengalihkan pembicaraan sayang."

"Mama, ayolah. Kami tadi cuma bercanda. Nggak maksud apa-apa, nggak ada maksud mau tindih-tindahan, suer deh ma." Raffi mengangkat jari telunjuk dan tengahnya sehingga membentuk huruf 'V' pada mamanya.

Melihat tingkah Raffi itu, Nagita hanya memutar bola matanya malas. TEMANnya itu selalu seperti anak kecil jika berasama dengan mamanya. Dan Nagita menganggap Raffi benar-benar anak mama. 

"Seharusnya kalian tidak bermain-main sampai seperti itu! Bagaimana kalau sampai ada setan lewat? Mama tidak ingin mempunyai cucu diluar nikah."

Raffi dan Nagita sama-sama membelalakkan mata dengan mulut terbuka setengah. Lalu mereka saling tatap sebentar, kemudian menggeleng-gelengkan kepala mereka. Bagi mereka pemikikiran Rahma terlalu ajaib.

Nagita menutup wajahnya dengan satu tangannya. Dia tidak mengerti kenapa Rahma bisa-bisanya berfikir sejauh itu. Yang benar saja!! Nagita memang mau memiliki anak bersama Raffi, tapi tidak diluar nikah juga!! Itu pun kalau Raffi mau menihkah dengannya!!

Astaga, Nagita! Apa yang baru saja kau fikirkan??!!

Sedangkan Raffi, dia menyandarkan tubuhnya disandaran sofa dan menatap mama nya dengan tatapan tak bisa dibaca.
"Memangnya menurut mama, Raffi sebejat itu ya?" Tanya Raffi dengan nada sedikit lirih berpura-pura sedih lebih tepatnya.

"Ya hal itu bisa saja terjadi. Dijaman sekarang itu hal biasa terjadi. Tapi mama tidak akan menolerin jika itu sampai benar-benar terjadi."

"Raffi nggak sebejat itu, ma. Oke? Raffi dan Nana sangat - sangat tahu batasan diantara kami. Mama nggak perlu mikir sejauh itu." Ucap Raffi lagi.

"Maaf, mama keterlaluan. Mama memang tidak harusnya mengatakan hal itu." Ada jeda cukup lama sebelum Rahma melanjutkan ucapannya yang membuat suasana diruamgan itu bertambah canggung.

"Heem, Raffi, Nana, kalian sudah mengenal sangat lama. Hem, kalian tidak berniat untuk menikah?"

Raffi yang mendengar itu langsung tersedak ludahnya sendiri. Sementara Nagita berusaha menutupi pipinya yang tiba-tiba saja memanas.

PERTANYAAN JENIS APA ITU??!!

"Ma, Raffi rasa mama tahu kalau Raffi dan Nana hanya berteman."

Dengar baik-baik Nagita! Raffi hanya mengganggap mu TEMAN!

HANYA TEMAN!!

Jangan berharap banyak!

Nagita menarik nafas panjang, sebelum memberikan senyum pada mama TEMANnya. "Iya Tan, kami hanya berteman." Ucap Nagita, membenarkan ucapan Raffi.

"Boleh tante jujur?" Tanya Rahma yang dijawab anggukan oleh Nagita.

"Tante tidak percaya ada pertemanan yang tidak dibumbui perasaan cinta antara laki-laki dan perempuan. Apalagi diantara kalian, kalian sudah berteman sejak satu, dua, tiga,....." Rahma mulai menghitung berapa lama anak bungsunya dan Nagita berteman.

"Hah! Hampir lima belas tahun! Kalian hampir berteman selama hampir lima belas tahun! Astaga! Tante benar-benar tidak percaya lima belas tahun kalian selalu bersama tanpa ada cinta?"

Oh ya ampun, Tante! Tante benar,tak ada pertemanan yang murni antara laki-laki dan perempuan. Aku mencintai anak tante! Namun sayangnya anak tante tidak! huh! Aku sungguh perlu dikasihani!. Batin Nagita.

"Mama, kenapa kita jadi ngebahas ini? Sebenarnya mama ada perlu apa jauh-jauh dari Bali ke Jalarta? Tidak mungkin hanya membahas ini kan?"

"Kamu mengusir mama, Raffi?"

"Astaga! Bukan ma. Gini, Raffi tadi mau pergi sama Nana. Raffi mau beli beberapa baju, baju Raffi hampir semuanya sudah kekecilan. Raffi butuh baju baru untuk Raffi pakai kerja besok. Kalau mama terus membicarakan hal tidak jelas seperti ini, Raffi nggak jadi beli baju dan besok hingga satu minggu kedepan Raffi akan pakai baju yang sangat ketat. Mama mau anak mama yang sangat amat tampan ini bekerja dengan baju yang kekecilan?" Ucap Raffi panjang lebar.

"Baiklah baiklah. Itu sama saja kamu mengusir mama. Tapi sayangnya, mama akan menginap disini sampai besok. Nanti malam mama harus menghadiri acara resepsi pernikahan anak teman mama, dan mama mau kamu ikut. Kalau kalian mau pergi sekarang, silahkan. Tapi ingat, jangan sampai malam." Ucap Rahma lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar yang biasa ditempatinya saat berada di apartmen Raffi.

"Ayo!" Ucap Raffi pada Nagita setelah mengambil kemeja untuk dipakainya.

>>>>><<<<<<

"Maaf, nyokap gue tadi." Ucap Raffi memulai percakapan mereka saat memasuki mobil.

"Hmm.." Respon Nagita sekenaknya sembari menghidupkan radio.

"Na, ntar pilih bajunya yang warna netral aja. Jangan yang ngepas banget juga, risih gue nya."

"Iya. Bawel banget sih?" Ucap Nagita yang masih sibuk mencari siaran radio  yang menurutnya bagus.

Cukuplah saja berteman dengan ku
Janganlah kau meminta lebih
Ku tak mungkin mencintaimu
Kita berteman saja
Teman tapi mesra

"Njiirr lagu tahun kapan nih diputar lagi?" Rutuk Nagita saat Radio itu memutarkan lagu Ratu- Teman Tapi Mesra.

Ini lagu ngejek gue apa gimana nih? Kayak lo sama gue ya Fi? Temen, tapi mesra. Pikir Nagita dalam hati.

Elah mikir apaan sih lo Na!!

Tangan Nagita kembali terulur untuk mengganti siaran radio itu.

Sudah sewindu, ku di dekatmu.
Ada di setiap pagi, di sepanjang harimu.
Tak mungkin bila engkau tak tahu,
bila ku menyimpan rasa yang kupendam sejak lama.

Kita nyaris dua windu, Fi! Tapi lo nggak nyadar-nyadar! Kampret ini lagu! Batin Nagita, tangannya kembali terulur untuk mengganti siaaran radio yang jelas-jelas memutarkan lagu yang menyindirnya habis-habisan ini.

"Elah, Na! Di tukar-tukan mulu. Ini aja kenapa sih? Suaranya Tulus bagus ini." Ucap Raffi menghentikan gerakkan tangan Nagita.

Lagunya gue banget! Ntar gue baper ribet urusannya Raffi!!

"Hmm.." Nagita hanya bergumam, menuruti perkataan Raffi untuk tak menukar siaran radio kampret itu.

Nagita berusaha tak mendengarkan lanjutan lirik lagu Tulus - Sewindu yang awalnya saja sudah menyindir. Hingga lagu itu berakhir Nagita memainkan ponselnya.

"Gimana? Lagunya Tulus pas banget kan buat kalian semua yang udah kasih perhatian ke orang yang kalian suka, tapi sayangnya orangnya nggak nyadar-nyadar. Kasian!" Suara penyiar radio itu terdengar sangat mengejek Nagita.

Eh? Penyiar kampret! Ngeledek nih orang.

"Nah kali ini gue bakal putarin lagu yang ada di salah satu Album terbaru Meghan Trainor - Thank you. Buat semua yang terjebak friendzone mari kita dengerin Meghan Trainor - Just A Friend To You." Lanjut penyiar itu lagi.

Ini kenapa pada muterin lagu begini? Awas kalau nyindir gue lagi!

Why you gotta hug me
Like that every time you see me?
Why you always making me laugh
Swear you're catching feelings

Kampret! Ini lagu, astagaaaa.

I loved you from the start
So it breaks my heart
When you say I'm just a friend to you
Cause friends don't do the things we do

Gue nggak dari awal sih, dari tengah-tengah. Tapi bener gue sakit hati!
Ia bener juga, mana ada temen yang kayak kita berdua.

Everybody knows you love me too
Tryna be careful with the words I use
I say it cause I'm dying to
I'm so much more than just a friend to you

Kata si Intan semua orang tahu, kalau lo suka sama gue. Tapi apa gue harus nyatain perasaan gue?

When there's other people around
You never wanna kiss me
You tell me it's too late to hang out
And you say you miss me

And I loved you from the start
So it breaks my heart

When you say I'm just a friend to you
Cause friends don't do the things we do
Everybody knows you love me to
Tryna be careful with the words I use
I say it cause I'm dying to
I'm so much more than just a friend to you

You...

You say I'm just a friend to you
Friends don't do the things we do
Everybody knows you love me too
Tryna be careful with the words I use
I say it cause I'm dying to
I'm so much more than just a friend to you

A friend to you
A friend to you
A friend to you

Kampret!!

Setelah lagu itu habis, Nagita langsung mematikan radio itu dan tak mengeluarkan sepatah katapun lagi. Dia benar-benar merutuki Meghan Trainor yang menyanyikan lagu yang membuatnya baper setengah mati sekarang.

♡♡♡♡♡

Sudah dua minggu berlalu dan Nagita memutuskan untuk tidak menemui Raffi dulu sekarang. Mereka tetap saling mengabari satu sama lain tapi Nagita selalu mencari alasan jika Raffi memintanya bertemu. Bukannya apa, Nagita hanya ingin memantapkan hatinya dulu.

Gara-gara mendengarkan lagu Meghan dua minggu lalu itu, Nagita menjadi kefikiran untuk mengungkapkan perasaannya langsung pada Raffi. Masa bodoh jika setelah ini dia dan Raffi jadi menjauh. Yang pinting dia sudah mengungkapkan isi hatinya. Pekara Raffi membalas perasaannya atau tidak itu urusan nanti. Seperti kata Intan, setidaknya dia sudah jujur tentang perasaannya. Dan juga seperti kata Meghan Trainor dilagunya itu, Nagita sudah sekarat karena memendam cinta itu sendirian.

Oke! Baiklah Nagita akan menemui Raffi besok. Nagita mengambil ponsel di sakunya dan mengirimkan persan pada Raffi.

Too : Anak Monyet 🐵

Besok pagi gue ke Appartmen lo ya?
Jangan kemana-mana.
Ada yang mau gue omongin.

Setelah mengetikkan pesan itu, Nagita kembali memasukkan ponselnya kedalam tas dan mengambil kunci mobilnya. Menjalankan mobilnya kesebuah tempat makan untuk mengisi perutnya yang kosong.

♡♡♡♡♡

Nagita mendengus kesal, menyibakkan gorden yang berada dikamar Raffi selebar-lebarnya, membiarkan cahaya matahari yang sudah mengeluarkan cahanya yang begitu terik masuk kedalam kamar laki-laki itu.

Namun Raffi yang masih tertidur dengan posisi tengkurap sama sekali tidak terusik sedikitpun karena cahaya itu. Dia tetap berada di alam mimpinya yang panjang.

Nagita yang melihat itu hanya menggeleng-gelengkan bisa kepalanya. Dia sudah biasa melihat Raffi seperti ini.

Tadi Nagita datang sekitar pukul sembilan dan tentu saja Raffi masih tidur. Nagita tahu pin appartment Raffi, jadi dia tinggal masuk saja tanpa harus menunggu tuan pemalas ini bangun.

Nagita juga sudah membereskan appartemen, memasak untuk makan siang, dan menonton TV hingga dia bosan. Tapi, Raffi belum juga bangun hingga jam setengah satu.

"Anak monyet, bangun!" Nagita memukul-mukul tubuh Raffi dengan bantal sekuat yang ia mampu. Bukannya Nagita sadis hanya saja Raffi tak akan bangun jika dibangunkan dengan cara pelan, jadi siksa saja sekalian.

"RAFFIIIII BANGOOON!!" Teriak Nagita yang hanya dijawab dengan erangan tak suka oleh Raffi.

"Dasar anak monyet!" Nagita kesal sendiri karena tidak bisa membangunkan Raffi. Akhirnya dengan seluruh tenaga yang ia miliki, untum membalikkan posisi tengkurap Raffi menjadi terlentang. Setelah berhasil Nagita naik ketempat tidur dan duduk diperut Raffi. Sebodo dengan Raffi yang akan keberatan.

Nagita mengelurkan tangannya hidung Raffi, ibu jari dan telunjuknya pengapit hidung Raffi dengan kuat.

Lima detik...........Raffi tidak bereaksi apapun.

Sepuluh detik........ Raffi mulai menyeritkan keningnya karena tidurnya mulai terusik.

Tiga belas detik........ Raffi membuka mulut dan matanya. Mencoba mencari udara yang tak didapatkannya.

"Astaga!!" Raffi menepis tangan Nagita dengan cepat kemudian mengambil oksigen sebanyak yang dia mampu. Nafasnya masih tak beraturan, Raffi mengeram marah pada Nagita yang sudah tertawa terbahak-bahak diatas perutnya.

"Lo mau bunuh gue ya??"

"Enggak, cuma mau bangunin doang." Ucap Nagita disela tawanya tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"Turun!" Geram Raffi.

"Enggak! Kalau gue turun lo tidur lagi. Bangun lah, Fi. Udah siang banget inee!!" Bukannya turun Nagita malah menekan-nekan perut Raffi dengan lumayan kuat.

"Argh! Lo beneran mau bunuh gue ternyata. Turun!" Uap Raffi semakin kesal. Tidurnya terganggu dan sekarang Nagita menduduki perutnya membuat Raffi susuah bernafas.

"Enggak mau! Lo bangun dulu!" Kukuh Nagita.

Raffi menggelengkan kepalanya dan berdecak kesal namun detik berikutnya senyum miring tercetak jelas dibibirnya. Dan itu membuat Raffi terlihat lebih tampan dimata Nagita.

"Beneran nggak mau turun?" Tanya Raffi pelan, tak ada jawaban dari Nagita.

Dengan sekali sentak Raffi menarik tubuh Nagita hingga sepenuhnya menimpah dirinya. Menghiraukan pekik-kan kaget Nagita, Raffi kini sudah memeluk erat tubuh Nagita.

"Huuaaa Raffiiiii!! Lo mau ngapain??" Tanya Nagita panik, posisi mereka sangat-sangat tidak pantas sekarang. Jantung Nagita berdetak berkali-kali lipat dari biasanya, dia sama sekali tidak bisa melepaskannya pelukan Raffi padanya walaupun Nagita sudah berusaha menggerak-gerakkan tubuhnya agar bisa terlepas.

"Na lo jangan gerak-gerak gitu. Adek gue jadi bangun kan." Ucap Raffi pelan, tepat ditelinga Nagita.

Tubuh Nagita menegang. Raffi bilang apa tadi? Adek? Adeknya bangun? A-adek! "RAFFI MESUUUMM!!" Teriak Nagita dengan wajah memerah hingga ketelinga. Dengan sekuat tenaga yang dia miliki, Nagita berusaha melepaskan pelukkan Raffi namun tetap saja tenaga Raffi lebih kuat darinya.

"Makanya jangan ngisengin gue!" Raffi membalikkan posisi mereka, kini Nagita berada dibawa kungkuhan Raffi. Senyum mengejek terpampang di wajah Raffi, "eh, kurcaci! Muka lo merah banget sampe kekuping."

Rasanya Nagita ingin mengubur dirinya hidup-hidup sekarang juga. Mengumpati Raffi dengan segala macam jenis hewan di kebun binatang sana.

"Anak monyet! AWAS!!!" Teriak Nagita.

Raffi hanya senyum-senyum tak jelas lalu turun, berjalan menuju kamar mandi meninggalkan Nagita yang terus dan tanpa henti mengumpati Raffi.

*****

"Nagitaaaaa. Lapeerr!!" Teriak Raffi begitu keluar dari kamar, membuat Nagita berdecak kesal.

Raffi seakan melupakan bercandaannya tadi yang sangat kelewatan menurut Nagita. Emang Raffi kampret!

"Nggak usah teriak-teriak!" Ucap Nagita galak dari dapur, dia masih kesal dan malu karena bercandaan Raffi tadi.

"Lapeerr!" Rengek Raffi sembari memegangi perutnya mengeluarkan bunyi. Ouch! Cacing-cacing didalam perut Raffi sudah demo didalam sana.

"Sini makan! Gue udah masak." Walaupun kesal, Nagita tetap saja tidak tega tidak memberi makan TEMAN nya ini.

"Aye aye captain!" Ucap Raffi semangat lalu berjalan kemeja makan. Begitu duduk Raffi langsung mengambil nasi beserta lauk pauknya dengan cepat.

"Ini." Nagita meletakkan segelas jus jeruk didekat Raffi lalu duduk dan mulai ikut menyantap makan siang.

"Raffi lo kayak orang nggak makan seminggu tau nggak! Pelan-pelan napa sih?" Ucap Nagita melihat Raffi yang makan persis orang tidak makan seminggu. Nagita sudah selesai dari tadi namun sepertinya Raffi tak akan berhenti jika meja ini belum benar-benar kosong.

"Gu...we em.."

"Habisin dulu yang dimulut itu!" Nagita memukul pelan tangan Raffi.

Raffi memutar bola matanya kesal, perlakuan Nagita persis seperti mamanya. "Gue terakhir makan kemaren pagi. Jadi gue laper banget ini." Ucap Raffi lalu kembali memakan makanannya.

"Lo ngapain aja sampe nggak makan? Mau mati ya?"

"Enggak lah! Gue banyak kerjaan, buat nafas aja gue susah apa lagi makan."

"Bego!" Nagita melemparkan serbet kewajah Raffi. "Kalau lo sakit gimana hah? Makan itu penting! Lo itu ya."

"Elah Na! Gue nggak papa ini." Jawab Raffi acuh membuat Nagita berdecak kesal.

*****

Setelas selesai makan siang, Raffi dan Nagita memilih untuk tidur-tiduran di depan TV tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Nagita sudah menimbang-nimbang kapan dia akan memgatakan perasaannya pada Raffi. Dan juga mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk kalau-kalau Raffi hanya menganggapnya teman dan akan menjahuinya.

"Kita kayak suami istri ya Na?" Ucap Radfi tiba-tiba.

"Hah? Lo bilang apa tadi?" Nagita kaget, pasti dia salah dengar.

"Lo udah pendek budek lagi! Nggak, nggak ada. Lupain aja." Raffi mengibaskan tangannya acuh.

Hening cukup lama.....

"Fi?"

"Hmm?"

"Gue mau ngomong sesuatu."

"Pa'an? Biasanya langsung omong juga."

"Tapi gue mau lo janji, kalau lo nggak bakal ngejahui gue karena hal ini. Cukup abaikan aja, anggap gue nggak pernah ngomongin ini. Gue...."

"Apaan sih Na?" Raffi bangkit dari tidurnya dan duduk menghadap kearah Nagita sepenuhnya. "Ngomong aja kali. Gue nggak bakalan ngejahuin lo apapun yang terjadi dan sampai kapanpun. Gue janji. Ada apa?" Tanya Raffi menatap Nagita dengan intens.

Ditatap seperti itu oleh Rdfi membuat Nagita menjadi gugup setengah mati. Ini tak seperti bayangan Nagita, seharusnya dia tidak segugup ini. Bahkan saat dia sedang menangani kasus besar saja dia tak segugup ini!

Nagita dengan canggung ikut duduk menghadap Raffi, namun Nagita terus menundukkan kepalanya tanpa mau menatap Raffi.

"Mau ngomong apa?" Tanya Raffi.

"Beneran janji ya, Fi?"

"Iya. Lo bikin gue penasaran mampus ini!"
.
.
"Fi, kita ini apa sih?"

"Hah?"

"Gue suka sama lo, Fi. Gue cinta sama lo. Gue nggak tahu mulai dari kapan tapi sekarang gue bener-bener cinta sama lo. Gue mau nanya lo ini, nganggap gue apa?"

Raffi tercengang. Ini sama sekali bukan seperti perkiraannya. Nagita mencintainya! Oh GOD!

"Na, tapi lo tahu gue nganggap lo sebagai teman, sahabat, bahkan saudara. Nggak seharusnya lo...."

Nagita merasa jantungnya diremas begitu kuat, rasanya begitu sakit. Nagita sudah menyiapkan diri atas jawaban Raffi ini tqpi Nagita tak tahu kalau rasanya akan sesakit ini.

"Iya gue ngerti. Gue cuma mau bilang apa yang gue rasain, udah itu aja. Lupain aja Fi." Nagita tetap menundukkan kepalanya tak mau menatap Raffi dengan air mata yang siap jatuh jika ia mengedipkan matanya sekali saja.

"Na gue..."

"Elah Fi. Udah lo nggak usah baper, gue cuma mau bilang aja. Gue juga tau lo nganggap gue temen, gue aja yang baperan selama ini. Lo udah janji nggak bakal ngejauhin gue, awas aja kalau lo berani. Geseran gue mau pipis bentar." Lalu dengan cepat Nagita bangkit dari duduknya dan masuk kekamar mandi yang ada di kamar Raffi.

Jelaskan? Raffi hanya menganggapnya TEMAN........

TAMAT.......

Cerita ini hanya fiktif belaka.

Untuk komentar, kritik dan saran
silahkan dikolom komentar dibawah atau  ke akun twitter aku

@Liaa_RA17




Minggu, 07 Juni 2015

HINGGA AKHIR NAFASKU Part 7

Raffi berjalan menghampiri gigi dan terus memperhatikan gigi dia melihat gigi berusaha melepaskan genggaman tangan laki2 itu dan itu membuat Raffi sedikit tersenyum walaupun laki2 yang bersama gigi itu terus mengeratkan genggamannya
"malam gi" sapa Raffi langsung mengacak acak Rambut calon istrinya itu
"Raffii!!" ucap gigi kaget dan langsung menghempaskan tangan Andre
Andre yang melihatnya benar2 bingung dia seperti pernah melihat Raffi tapi dia lupa.
"aku boleh duduk kan" ucap Raffi
"ya, kmu duduk sini" ucap gigi mempersilahkan Raffi duduk disebelahnya.
Raffi pun duduk disebelah gigi
"dia siapa gi?" tanya Andre
"kenalin ini Raffi calon suami aku" ucap gigi
"raffi" ucap Raffi memperkenalkan dirinya
"Andre" ucap Andre menatap Raffi
"ya dia Raffi, dia orang yg selalu gigi bandingkan dengan aku saat masih pacaran" batin Andre yang kini mulai mengingatnya karna andre pernah melihat foto raffi bersama tmn2 gigi yg lainnya di ruang kerja gigi
"lagi pada ngapain disini" tanya Raffi
"emm enggak kok" jwb gigi gugup dia takut Raffi salah faham dan akan marah padanya
"kami cuma makan malam kok" ucap Andre
"oh ya kalau gitu silahkan lanjutkan" ucap Raffi
"emm aku mau pulang" ucap gigi
"tpi kan makan malamnya belum selesai, ga enak sama andre, kamu makan aja dulu aku tunggu dimobil ya" ucap Raffi
"ga, aku mau pulang" ucap gigi
"andre aku duluan ya" ucap gigi lalu berdiri dari duduknya diikuti Raffi
"balik duluan ya, maaf kalu saya ngeganggu" ucap Raffi lalu pergi keluar dari restoran itu
"sialan bukannya dia di Australia kenapa sekarang ada di Indonesia dan kenapa juga gigi bilang dia calon suami gigi, apa mereka akan menikah" batin Andre

dimobil gigi hanya diam dia benar2 takut kalau Raffi marah
"kamu kenapa diam aja, ga kangen sama aku" ucap Raffi lansung merangkul gigi
"kamu ga marah?" tanya gigi
"kenapa aku harus marah?" tanya Raffi balik
"soal direstoran tadi" ucap gigi
"ngapain aku harus marah, aku tadi liat kok kamu berusaha ngelepasin tangannya walaupun mungkin dia terlalu erat genggam tangan kamu" jawab Raffi
"maafin aku ya, seharusnya aku ga pergi sama dia " ucap gigi
"udah jangan dibahas lagi" ucap Raffi
"tpi apa kamu ga cemburu?" tanya gigi
"ya jelaslah aku cemburu, laki2 mana yg ga cemburu liat calon istrinya pegangan tangan sama cowok lain"
"trus kenapa kmu ga marah"
"kan tdi aku udah bilang, aku liat kamu mau ngelepasin tangannya itu tandanya kmu ga suka dia pegang tangan kamu, dan aku ga mau marah2 ga jelas aku mau denger penjelasannya dari kamu, sekarang aku mau coba kamu jelasin ke aku kenapa kamu bisa direstoran sama dia dan kenapa telfon aku ga kamu angkat"
gigi pun menceritakan semuanya hingga Raffi datang.
"dan kalau soal telfon kamu aku ga tau hpnya tdi aku silent" ucap gigi menunjukkan hp nya
"udah jelaskan, untung aku ga marah2 semunya akan selesai dengan cepat kalau kita saling omongin, aku ga mau kejadian waktu itu terulang lagi" ucap Raffi lalu mencium pucuk kepala gigi
"makasih ya" ucap gigi
"pak berhenti didepan pak" ucap Raffi tiba2 kesupirnya
"baik mas"
"loh kita mau ngapain?" tanya gigi heran
"kita makan dulu ya, aku laper kmu juga tdi ga jdi makan kan" ucap Raffi
kemudian Raffi dan gigi pun masuk kesebuah rumah makan yang cukup sederhana
"kamu mau pesen apa?" tanya Raffi
"samain aja sama kamu" jwb gigi
Raffi pun memesan makanan untuk mereka berdua. dan tak lama makanan pun datang
"ayo makan" ucap Raffi lalu dia mulai memakan makanannya dengan lahap
sementara gigi bukannya makan malah asik melihatin Raffi, sadar gigi tak kunjung memakan makanannya Raffi pun menghentikan makannya
"kamu kenapa ga makan, ga suka ya? nanti kita cari restoran lagi ya" ucap Raffi
"enggak kok, aku cuma heran liat kamu" jwb gigi
"heran kenapa? ada yang salah sama aku?" tanya Raffi bingung
"kmu masih mau makan ditempat kaya gini padahal kamu bisa makan direstoran mana aja yg kamu suka dan walaupun itu restoran paling mahal sekalipun" ucap gigi
"gi aku jga manusia biasa, bukan raja yg harus makan ditempat yang paling bagus. lagian disini rasanya enak" ucap Raffi lalu menyuapin gigi
"enak kan, sekarang kamu makan, nanti kamu sakit" ucap Raffi
gigi pun memakan makanannya hingga habis.
setelah selesai makan Raffi pun menghantarkan gigi pulang

di mobil Raffi menyandarkan kepalanya di pundak gigi
"fi aku mau nanya sesuatu sama kamu" ucap gigi
"mau nanya apa?" tanya Raffi
"kamu selama di Bali ngapain aja sih?" tanya gigi
"kenapa sih nanya nya kaya gitu, ya aku kerja lah sayang" jawab Raffi
"ga bohong kan, kmu ga pergi ketempat yang aneh2 kan? ga pergi sama cewek2 gitu kan"
Raffi menatap aneh kearah gigi
"kenapa sih nanyanya gitu banget, kamu kenapa sih?"
"ga aku cuma mau mastiin aja kalau foto ini ga bener" ucap gigi memberikan foto2 yg diterimanya kemarin
Raffi melihat foto2 itu
"kamu percaya itu aku?" tanya Raffi
namun gigi hanya diam
"lihat aku" ucap Raffi menggenggam tangan gigi
"ini bukan aku dan aku ga akan pernah ngelakuin hal yang akan buat kamu marah dan sakit hati seperti ini, aku akan buktiin kekamu malau foto ini hanya editan, kamu percaya kan sama aku" ucap Raffi.
sejenak gigi terdiam lalu menganggukkan kepalanya
"ya aku percaya sama kamu" jawab gigi
"makasih sayang" ucap Raffi kemudian kembali bersandar dipundak gigi dan menggenggam erat tangan calon istrinya itu.

Hari demi hari, minggu demi minggu, semua mereka lewati bersama, semua cobaan sebelum menikah mereka lewati dengan baik, masalah2 yg dtng mereka selesikan dengan saling membicarakannya dengan baik.
Hingga kini dihari yang mereka nantikan pun tiba.
Raffi dan Gigi duduk bersampingan wajah gugup terlihat jelas diraut wajah Raffi walaupun dia berusaha tersenyum namun tetap saja dia masih terliahat gugup. tak jauh beda dengan Raffi, Gigi pun demikian namun gigi tak terlalu menunjukkan kalau dirinya sangatlah gugup.
Raffi membaca ijab qabul dengan lancar dan dengan sekali tarikan nafas dan mereka pun sah menjadi sepasang calon suami istri. tanpa disadari saat Raffi mengucapkan ijab qabul gigi meneteskan air matanya, tentu saja air mata kebahagiaan.
kini waktunya mereka bersalaman dgn tetamu yang berdatangan tak terkecuali Dama dan yg lainnya beserta pasangan mereka.
"akhirnya kalian sah juga" ucap Dama langsung memeluk Raffi
"thanks ya ini juga berkat kalian" ucap Raffi
"selamat pak bos, sebentar lagi gue nyusul" ucap bily
"kaya punya calonnya aja" ucap Irwan
"santai ntar malem gue kenalin ke lo semua" ucap billy
lalu mereka pun asik berfoto bersama.

Dan malam ini juga resepsi pernikahan mereka diadakan dengan sangat meriah dan mewah.
semua larut dalam pesta keduanya tak terkeculi billy yang dtang bersama pasangannya
"hey kenalin ni pacar gue" ucap billy menggandeng kekasihnya
"serius lo bil?" ucap irwan
"serius lah, kenalin namanya Syahnaz" ucap billy memperkenalkan kekasihnya
mereka pun sling berkenalan satu sma lain
"udah yuk kita ke pengantinnya, sekalian ngenalin pacar baru gue pasti si Raffi cengo" ucap billy
"kok gitu?" tanya dinar bingung
"liat aja nanti" ucap billy
lalu mereka pun menghampiri Raffi dan gigi
"syahnaz kenapa gandengan sama billy" tanya Raffi heran begitu billy dan syahnaz memberikan selamat
"jelas gandengan dong, kan dia pacar gue" ucap billy
"pacar?, syahnaz pacar lo?" ucap Raffi tak percaya
"emang lo kenal fi?" tanya Dinar
"kenallah orang syahnaz sekretaris gue" ucap Raffi yang membuat yang lainnya cengo.

Hari demi hari mereka lalui sebagai pasangan suami istri yang sangat bahagia dan selalu romantis. kini sudah 3 bulan mereka lalui bersama.
pagi ini sepertinya ada yang salah dengan raffi, Raffi yang biasanya semangat kekantor kini malah jadi males, dia hanya berdiam diri ditempat tidurnya padahal gigi sudah menyuruhnya untuk mandi dan gigi sekarang tengah menyiapkan sarapan untuk Raffi.
"ya ampun Raffi kok ga turun2 sih" gerutu gigi
akhirnya gigi pun kembali masuk kekamar mereka
"ya ampun yang, kok masih ditempat tidur siih" ucap gigi menghampiri Raffi dan duduk dipinggir tempat tidur
"kamu ga kekantor? ini udah jam setengah 8 loh" ucap gigi membuka selimut suaminya yang dari tadi menutupi seluruh tubuh Raffi
"aku males yang, aku ga mau kekantor" ucap Raffi manja
"kamu kenapa? kamu sakit?" tanya gigi lalu meletakkan punggung tangannya dikening Raffi
"ga panas, kamu kenapa sih?" tanya gigi heran
Raffi memindahkan kepalanya ke pangkuan gigi dan memeluk pinggang gigi
"aku mau sama kamu aja" ucap Raffi tanpa membuka matanya
"ih sayang kamu kenapa sih, ga biasanya kaya gini" tanya gigi tambah heran
"iiihh kamu ih, jangan banyak tanya, aku cuma mau kamu sama aku aja satu harian ya" ucap Raffi manja
"ya udah, tapi kamu mandi dulu trus kita sarapan ya" ucap gigi sambil membelai lembut pipi suaminya itu
"nanti dulu yang, sejam lagi ya" ucap Raffi
"ih, kok sejam lagi sih, ayo sekarang" ucap gigi
"tapi ak...."
tiba tiba Raffi langsung turun dari tempat tidur dan berlari kekamar mandi
"yang kamu kenapa" tanya gigi panik dan langsung menyusul Raffi
wleeek wleek wleeek
"yang kmu kenapa? kenapa muntah2 gini" tanya gigi sambil mengusap punggung suaminya yg masih muntah.
"aku ga papa" ucap raffi lalu mencuci mulutnya
kemudian mereka kembali ke tepat tidur
"yang kamu sakit ya, kita kedokter ya" ucap gigi
"engga, aku ga mau kedokter aku mau disini aja sama kamu" ucap Raffi kembali ke posisi sblm dia muntah tdi.
"kalau ga mau kedokter kamu sarapannya" ucap gigi
"ia, tapi kamu yang suapin"
"ia ia, udah kamu tunggu sini ya" ucap gigi lalu turun untuk mengambil roti yg sudah disiapkannya tadi lalu kembali kekamar.
"ini yang, ayo duduk dulu" ucap gigi
Raffi pun duduk lalu gigi menyuapinya hingga habis.
"sekarang kamu mandi ya, bau tau" ucap gigi
"ia, tapi kamu jgn kemana2 ya" ucap Raffi
"ia, emang aku mau kemana sih" ucap gigu
lalu Raffi pun pergi mandi sebelum itu Raffi mencium pipi Gigi lalu berlari menuju kamar mandi.
setelah Raffi selesai mandi mereka pun turun kebawah dan menonton tv sambil bercanda tawa.
"yang aku pengen cupcake" ucap raffi
"cupcake?" tanya gigi
"ia aku pengen cupcake"
"yaudah aku suruh pak romi beli yah"
"ga mau, aku mau kmu yng buat"
"tapiii....."
"aku maunya kamu yg buat, kalo beli mending ga usah sekalian"
"ih kamu itu aneh tau ga"
"ya udah deh, kalau ga mau buatin, aku pergi aja deh" ucap Raffi ngambek lalu beranjak dari duduknya namun gigi dengan cepat menahannya
"ih kamu tuh aneh banget sih"
"mau buatin ga, kalau ga jangan ditahan akunya" ucap Raffi
"ia ia, aku buatin sekarang" ucap gigi
"nah gitu dong" ucap Raffi lalu memeluk gigi

singkat cerita setalh gigi selesai membuat cupcake untuk Raffi mereka pun memakannya berdua, mereka saling suap2an.
malam harinya saat akan hendak tidur Raffi lagi lagi muntah
"aduh yang kamu kenapa sih, kita kedokter aja yuk, atau dokternya aku suruh kesini" ucap gigi
"aku ga papa kok yang, kita tidur aja ya aku lemes banget" ucap Raffi
gigi pun menurutinya.

besok paginya saat gigi bangun dia sudah mendengar suara Raffi yg sedang mundah dikamar mandi
"ya ampun Raffi" ucap gigi langsung menghampiri raffi namun saat gigi akan masuk kekamar mandi Raffi keluar sambil mengelap mulutnya dengan tisu
"kmu udah bangun?" tanya Raffi
"kamu masih mual ya" tanya gigi
"udah enggak kok, oia tadi aku udah siapin sarapan buat kamu tu di atas meja kamu makannya, aku mau kekantor dulu" ucap Raffi yang memang sudah berpakaian rapi
"kamu emangnya bangun jam berapa?"
"jam 6 tadi, udah ya aku kekantor dulu udah kesiangan" ucap Raffi mengecup kening istrinya lalu pergi.
sementara gigi hanya diam terpaku, dia benar2 di buat bingung dengan sikap suaminya belakangan ini.

siang harinya gigi sedang berada di toko kuenya
dia sedang berbincang2 dengan dinar yang kebetulan mampir, mereka terlihat sangat asik mengobrol.
"oia gi gimana kabar suami lo si Raffi?" tanya Dinar
"engga ngerti lah din" jawab gigi
"loh kok gitu? emang raffi kenapa"
"masa nih ya, semalem dia tuh manja banget sampe ga mau kerja, minta cupcake dan harus gue yang ngebuatin" ucap gigi
"tapi itu kan wajar gi, secara lo istrinya kalo dia manja itu wajar kali gi"
"tapi ini beda din, masa satu harian gue dipeluuukin terus, gue ga boleh jauh dari dia"
"wah aneh juga sih, sakit kali dia gi"
"kayanya sih soalnya dia muntah2 terus, tdi pagi jga masih muntah2 tapi badannya ga panas, dia juga bilang ga papa" jelas gigi
"jangan2 lo hamiil giii" ucap Dinar
"gila lo, kalo gue hamil gue yg muntah2 bukan dia"
"eh gi, dulu abang gue juga gitu dia yg muntah2 ngidam yg aneh2 istrinya malah nyantai aja"
"masa sih?".
"coba lo dah telat belom?"
"ia sih, gue udah telat hampir 3inggu"
"ga salah lagi gi lo pasti hamil" ucap dinar
"tapi......."
tiba2 hp gigi berdering "billy?"
"halo bil" ucap gigi
"em gi lo dimana?"
"di toko gue, kenapa?"
"enggak gi, gue cma mau nanya si Raffi lo kasih makan apaan ampe muntah2 gini" tanya billy
"Raffi muntah2?"
"ia, nih tapi dibawa kerumah sakit ga mau"
"ywd gue kesana sekarang" ucap gigi lalu mematikan telfonnya
"Raffi kenapa gi?" tanya dinar
"dia muntah2 lagi, gue tinggal dulu ya" ucap gigi cipika cipiki lalu pergi meninggalkan dinar.

sesampainya dikantor Raffi gigi langsung menuju ruangan Raffi
"yang" panggil gigi lalu menghampiri raffi yang terduduk lemas disofa
"kamu kenapa kesini?" tanya Raffi heran
"kamu kerumah sakit ya, muka kamu pucet loh" ucap Gigi
belum lagi Raffi sempat berbicara gigi kembali berbicara
"bil, tolong suruh pak romi siapin mobil ya, trus  bilang juga ke syahnaz semua kegitan Raffi hari ini ditunda aja" perintah gigi
"ia gi" jwb bily
"yang ga usah"
"udah jgn protes ayo ikut aku" ucap gigi mengajak Raffi

setelah dokter memeriksa Raffi, Gigi langsung menanyakan kondisi suaminya itu
"gimana kondisi suami saya dok?" tanya gigi
"suami ibu baik2 saja, hanya sekarang mungkin dia sedikit lemas karna banyak mengeluarkan cairan" ucap dokter
"ini saya berikan vitamin agar suami ibu bisa kembali fit" ucap dokter
"trimakasih dok" ucap gigi lalu pergi bersama Rafi
"tuh kan aku ga papa yang" ucap Raffi
"apa bener aku hamil" batin gigi
"yaaang kmu kok jdi diem aja sih" tanya Raffi
"yang, kita kesana dulu ya" ucap gigi sambil menunjuk bagian kandungan rumah sakit itu
"mau ngapain?" tanya Raffi heran
"udah ikut aja" ucap gigi

lalu gigi pun memeriksakan dirinya ke dokter kandungan dia ingin memastikan apakan perkataan Dinar itu benar. setelah diperiksa gigi  raffi pun menghadap dokter
"kalian ini pengantin baru ya" tanya dokter
"ia dok" jwb raffi
dokter itu tersenyum
"selamat ya, sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua" ucap dokter itu
"maksudnya?" tanya raffi dan gigi bersamaan
"ya sekarang ibu sedang mengandung"
"istri saya hamil ?" "saya hamil?" ucap mereka lagi bersamaan
"benar" jwb dokter itu
"kamu hamil yang" "aku hamil yang" ucap mereka lagi2 bersamaan lalu raffi langsung memeluk gigi
"kalian berdua ini kompak sekali ya" ucap dokter itu
"maaf dok" ucap Raffi melepaskan pelukannya tapi tetap menggenggam tangan gigi
dokter itu pun menjelskan tentang kehamilan gigi. sedangkan gigi dan raffi terlihat sangat bersemangat mendengarkannya dan mereka juga menanyakan apa2 saja yang harus dilakukan dan tdk boleh dilakukan.


semenjak saat itu raffi semakin perhatian kepada gigi dan mengurangi waktu kerjanya.
setiap bulannya dia rutin mengantarkan gigi untuk periksa kandungan, Raffi selalu berusaha berada disamping gigi, Raffi pun menjadi sangat protectif dia tak mengizinkan gigi untuk melakukan pekerjaan yang membuatnya lelah, mengatur makan gigi, mengingatkan gigi untuk minum susu hamil dan sebagainya.

kini hari yang dinanti tiba
gigi menggenggam erat tangan suaminya sangat erat, sesekali ia menjambak rambut raffi dan kembali menggenggam tangan raffi keringatnya mengucur
membasahi wajahnya. Raffi sedari tadi terus memberikan semangat kepada istrinya hingga beberapa menit kemudian lahirlah seorang bayi laki2 yang sangat tampan, putih dan menggemaskan. setelah bayi itu dibersihkan oleh suster Raffi langsung mengadzani putranya itu kemudian mencium keningnya lalu meletakkannya disisi ibunya.

Bayi laki2 yang lahir tepat ditanggal 17 September bersaman dgn tanggal lahir dan tanggal pernikahan kedua orang tunya itu diberi nama RAFKA ABQARI AHMAD

---BEBERAPA TAHUH KEMUDIAN---

sekarang bayi tampan dan menggemaskan itu telah berubah menjadi seorang remaja yang sangat tampan, wajahnya sangat mirip dengan Raffi. Dia menjadi kebanggaan Raffi dan Gigi satu satunya. dia tumbuh menjadi anak laki2 yang pintar dan selalu membanggakan orang tuanya dalam berbagai hal, dia menyelesaikan S1 dan S2 nya dengan hasil nyaris sempurna dan banyak hal2 lain yang bisa dibanggakan darinya.

"Papa hari ini kekantor ga kekantor lagi ya?" tanya Rafka sambil mengoleskan selai dirotinya
"enggak, papa mau dirumah saja" ucap Raffi
"hmm, kmu kapan mau kenalin Rania (Pacar Rafka) ke mama sama papa" tanya gigi
"ia, katanya mau dikenalin sama papa dan mama" sambung Raffi
"rencananya nanti malam pa, ma biar sekalian makan malem bareng" ucap Rafka
"bagus deh, nanti mama akan siapin semuanya. ya udah lanjutin lagi sarapannya" ucap gigi
setelah selesai sarapan Rafka pun pamit untuk pergi kekantor. dan meninggalkan Raffi dan Gigi berdua dirumah.

Raffi dan gigi terlihat santai duduk di taman belakang rumah mereka
"yang ga kerasa ya sekarang kita udah tua" ucap Raffi
"iaa, sekarang rambut kamu udah ubanan" ucap gigi menyandarkan kepalanya di pundak Raffi
"kamu juga, tapi kmu masih belum berubah, kamu masih tetap cantik" ucap Raffi membelai Rambut gigi
"Rasanya baru kemarin kita nikah sekarang anak kita yang akan nikah" ucap gigi
"ia, nanti kalau Rafka sudah nikah kita bakal jadi opa dan oma"
"ia, dan kita bakal gendong baby lagi" ucap gigi
lalu mereka asik mengingat masa masa saat mereka masih pacaran, menikakah dan mempunyai anak
"yang, kalau nanti aku nyusul papa (sudah meninggal) kamu jaga diri ya" ucap Raffi
"ih kamu apaan sih,  kok jadi ngomongin itu"
"suatu saat nanti memang aku akan menyusul papa, dan aku mau diwaktu terakhir ku nanti kamu dan Rafka tepat berada disamping ku"
tanpa sadar gigi menitihkan air matanya lalu memeluk tubuh Raffi erat
"jangan menangis" ucap Raffi yang tau kalu istrinya itu sedang menangis
"aku ga suka kamu ngomong kaya gitu, aku ga mau jauh dari kamu" ucap gigi
"aku akan selalu disamping mu hingga akhir nafasku nanti" ucap Raffi membalas pelukan gigi

malam harinya
"ass ma pa" sapa Rafka lalu mencium tangan mama papanya diikuti oleh Rania
"malem om tante" sapa Rania
"malem, ayo kita makan malam dulu" ajak gigi
"ya tan" jwb Rania
mereka pun makan malam sambil mengobrol ringan.
setelah selesai makan mereka pun asik mengobrol hingga pukul 10 dan Rafka pun menghantarkan Rania pulang.

Hari pun berganti, hari ini langit terlihat  sangat cerah keluarga kecil Raffi asik bercengkrama diruang keluarga, entah mengapa rasanya hari ini mereka ingin menghabiskan waktu mereka dirumah dan hanya bertiga saja. dari pagi hingga malam datang mereka habiskan bersama.
kini Raffi dan Rafka tengah asik mengobrol di balkon kamar Rafka
"ka, kalau nanti papa pergi jaga mama ya" ucap raffi
"emang papa mau kemana?" tanya Rafka bingung
"suatu saat nanti pasti papa akan pergi ketempat istirahat papa yang terakhir, dan papa mau disaat papa beristirahat disana kamu jaga mama kamu ya"
"papa ngomong apaan sih, ngapain jadi bahas itu"
"ka janji ya, jangan bikin mama kamu nangis, jaga mama kamu"
"paa, tanpa papa minta Rafka akan selalu ngelakuin hal itu, papa kenapa jadi ngomongin hal spt ini sih"
"kaa, papa udah ga muda lagi, mungkin sebentar lagi papa akan nyusul opa munawar, jadi disaat itu datang kamu yang akan gantiin posisi papa sebagai kepala rumah tangga, jagain mama kamu dan walaupun nanti kamu udah nikah jangan tinggalin mama sendiri ya, mama kamu itu ga bisa tinggal sendirian."
"pa, Rafka ga suka papa ngomongin hal ini, Papa dan mama akan selalu bersama Rafka sampai kapan pun"
"ga ka, nanti papa akan ninggalin kalian walaupun papa ga tau itu kapan"
Rafka hanya diam, sekarang perasaannya ga karuan dia merasa ada yang aneh dengan perkataan papanya.
sementara Raffi melihat bintang2 dilangit sana.
tiba2 seseorang datang dan merangkul keduanya dari belakang
"kalian kenapa belum tidur" tanya wanita itu
"mah" ucap Rafka
ya wanita itu adalah gigi, gigi pun kemudian duduk dipangkuan Raffi
"papa kamu udah lama disini? mama ditinggalin gitu aja dikamar" ucap gigi
Raffi hanya tersenyum lalu mengacak acak rambut gigi.
memang tadinya Raffi dan gigi sudah di kamar mereka namun karna Raffi tak bisa tidur dia masuk kekamar Rafka.
"udah ma, dua jam an lah" jawab Rafka
"kamu itu ya" ucap gigi sambil mencubit pipi Raffi
"aaaww sakit maa" ucap Raffi
"biarin, makanya jangan ninggalin mama sendiarian" ucap gigi
"ya ampun, mama sama papa kaya anak ABG lagi pacaran tau" ucap Rafka
"emang ia?" tanya gigi
"ma, lihat deh bintang2 nya bagus ya" ucap Raffi mengalihkan pembicaraan lalu memeluk gigi
"ia, bintangnya bagus" ucap gigi lalu menggenggam tangan Raffi yg kini melingkar di tubuhnya.
"bener2 deh, Rafka uda kaya obat nyamuk disini" ucap Rafka
"kamu ini, udah deh kita tidur yuk, udah malem banget" ucap gigi
"ia, papa juga udah ngntuk" ucap Raffi
"ya udah yuk" ucap gigi lalu bangkit dari duduknya
"kita tidur bertiga ya" ucap Raffi membuat anak dan istrinya langsung menatapnya
"kenapa? kan udah lama kita ga tidur bertiga" ucap Raffi
"paa Rafka udah gede, udah mau nikah lagi masa ia tidur sama papa mama" protes Rafka
"lah emang kenapa? mama walau udah nikah juga kadang tidur sama oma ga papa" ucap gigi
"tapi kan mama cewek" ucap Rafka
"papa juga dulu sering tidur bareng oma, tapi kalau kamu ga mau jga  gapapa, tapi kamu jangan nyesalnya" ucap Raffi lalu berlalu bersama gigi
"ih papa apaan sih dari tadi ngomongnya ngelantur" gerutu Rafka lalu berbaring di kasurnya

"udah yuk tidur" ucap gigi lalu menarik selimutnya
tiba tiba Raffi mengecup keningnya sangaaat lama kemudian mengacak acak rambut istrinya itu
"kamu kenapa?" tanya gigi heran mendapat perlakuan seperti itu
"udah kita tidur ya" ucap Raffi sambil mencium tangan gigi yang sedari tadi dia genggam.
tiba2 terdengar suara ketukan pintu
"maa paa Rafka masuk ya" ucapnya
"ya masuk kaa" sahut gigi
"katanya ga mau tidur bareng papa mama" ucap Raffi begitu melihat Rafka
"ga tau kenapa jdi pengen tidur sama papa" ucap Rafka lalu langsung berbaring disebelah Raffi
"udah sekarang kita tidur ya" ucap gigi
lalu mereka sumua pun terlelap

kini pagi sudah datang dengan, namun langit tak secerah kemarin, langit terlihat mendung bersamaan dengan turunnya rintik hujan.
gigi perlahan membuka matanya duduk lalu merenggangkan tubuhnya, matanya melihat dua orang yang masih tertidur nyenyak mereka berdua terlihat sangat mirip. tak lama Rafka juga mulai membuka matanya
"pagi maa" sapanya lalu duduk dan sedikit merengganggkan tubuhnya
"pagi juga anak mama" ucap gigi sambil tersenyum
"ih papa bangunnya lama" ucap Rafka melihat papanya masih tertidur
"untung kamu ga nurun papa kamu, tapi ka liat deh papa kamu kalau lagi tidur gini kelihatan lucu yaa" ucap gigi lalu membelai wajah Raffi
"ka kok badan papa dingin gini" ucap gigi
"pa, bangun paa udah siang" ucap gigi lagi membangunkan suaminya namun tak ada respon sama sekali
"pa ayo dong bangun, udah siang niiih" ucap Rafka sedikit menarik lengan Raffi
"ka papa kok ga bangun sih, biasanya ga begini" ucap gigi mulai panik
entah mengapa rasanya jantung Rafka tak karuan fikiran2 aneh muncul di otaknya. Rafka memegang pergelangan tangan Raffi mencoba mencari denyut nadinya namun dia tak merasakannya, Rafka mencoba mencari denyut nadi Raffi dilehernya namun hasilnya sama, tak terasa air matanya mulai menetes didekatkannya telinganya tepat di dada Raffi lalu metetakkan kedua jarinya di hidung Raffi. Badannya terasa sangat lemas airmatanya terus mengalir
"ka, kamu kenapa ka, papa kenapa?" tanya gigi
"pa, ayo banguuun paaa" ucap gigi menggoyangkan tubuh Raffi
"ma, pa..pa u dah ga a da" ucap Rafka terbata
"kamu gila ya, papa kamu masih disini" bentak gigi
"paaa ayo bangun, bangun paaa" ucap gigi yang kini juga menangis
Gigi mencoba mengikuti apa yg dilakukan Rafka di mencoba mencari denyut nadi Raffi namun......
"sayaaang ayo banguuun, ini ga mungkin" ucap gigi histeris
"ma, mama tenang" ucap Rafka
"tenang gimana, papa kamu kaaa, papa kamu, cepat panggilin dokter ka cepat kaaa" ucap gigi
"tapi ma, papa udah ga ada" ucap Rafka berusaha tegar
"ga papa kamu cuma tidur , cepat ka panggil dokter" ucap gigi
Rafka pun keluar dari kamar itu lalu memanggil pembantunya
"biiiiii, biibiiiiiiiiii" teriaknya dari dpn pintu kamar Raffi
"ia den" sahut bibi dari bawah
"cepat panggilkan dokter eka, cepaaaat biii" ucap Rafka
"baik den" ucap bibi langsung berlari memanggil dokter eka yang kebetulan adalah tetangga mereka.
"mana ka" tanya gigi yang masih menangis
"ma, mama harus kuat" ucap Rafka
"sayang ayo banguun, bentar lagi dokter datang ayoo bangun" ucap gigi lalu memeluk tubuh Raffi.
tak lama dokter eka pun datang diantarkan oleh bibi
"dok, tolong periksa suami saya, dia gapapakan dok" ucap gigi
"ia bu, akan saya periksa" ucap dokter eka lalu mengambil stetoskopnya kemudian memeriksa Raffi
"maaf bu, pak Raffi sudah meninggal" ucap dokter itu
"ga, dokter bohong, suami saya masih hidup, dia cuma tidur ayo periksa lagi" ucap gigi
"tapi bu, pak Raffi..."
"gaak, Sayang ayo banguuun, buka mata kamuuuu, ayo bangun" ucap gigi histeris
"ma, mama ga boleh gini" ucap Rafka
"ka papa kamu masih hidup kan, papa kmuu"
belum selesai lagi dia bicara tiba tiba gigi jatuh pingsan
"ma, mama! dok tolong mama saya" ucap Rafka
dokter pun segera memeriksa Gigi

gigi tersadar dari pingsannya, dia melihat sekelilingnya sudah ada beberapa orang disana mulai dari mamanya, caca beserta suami dan anaknya serta beberapa orang lainnya
"raffiiiiiii" teriak gigi lalu langsung bangkit dan mencari suaminya
Gigi melihat tubuh suaminya itu sudah ditutup dengan kain
"ga, Raffi masih hidup" ucap gigi histeris
"mbak lo harus tenangin diri lo" ucap caca langsung memeluk kakaknya itu
"ca, Raffi ca" ucap gigi
"mbak harus sabar"
sementara Rafka berusaha untuk tegar walaupun sebenarnya dia tak mampu menahan air matanya.

seminggu berlalu Gigi masih saja terus menangis, tubuh nya terlihat lemas, dia  masih saja tak mau beranjak dari kamarnya dia terus memeluk bantal yang terakhir dipakai suaminya
"ma, udah dong jangan gini terus" ucap Rafka
"ma, mama sayangkan sama papa, kalau mama sayang mama jangan sedih terus" ucap Rafka memeluk gigi
"ka papa kamu" ucap gigi
"papa akan selalu ada ma, dihati mama dan Rafka selamanya" ucap Rafka
"ma tadi pak Pratama memberikan ini, katanya ini titipan dari papa sekitar 2bln lalu" ucap Rafka menunjukkan sebuah cd yang dia pegang dari tadi
"kita liat bareng ya" ucap rafka lagi.
Rafka dan gigi pun melihat isi cd itu

Terlihat disana Raffi sedang duduk menghadap kamera
"hay istri ku tercinta dan anak papa tersayang" ucap Raffi sambil melambaikan tangannya
"istri ku jangan nangis dong, Rafka hapusin air mata mama buat papa ya" ucapnya lagi
  "tu ma, jangan nangis" ucap Rafka lalu menghapus air mata mamanya kemudian merangkul erat mamanya
"makasih ya ka" ucap Raffi
"sayang kamu jangan nangis lagi ya, aku ga suka liat kamu nangis"
"saat kalian liat video ini mungkin papa udah ga ada disamping kalian, tapi kalian ga boleh sedih"
"papa udah ga muda lagi, ini sudah waktunya papa ninggalin kalian jaga diri kaliannya dan kamu Rafka jaga mama kamu ya jangan biarin mama kamu nangis lagi"
"Sayang maafin aku ya, selama hidup ku aku belum bisa jadi suami yang sempurna buat kamu, aku belum bisa mewujudkan semua keinginan kamu, tapi kmu harus tau satu hal aku sangat mencintai kamu Nagita Slavinna, aku mencintai kamu hingga akhir nafasku"
"Rafka Abqari Ahmad putra papa satu satunya, kebanggaan papa mungkin saat ini kamu udah jadi suami atau mungkin kamu udah menjadi ayah untuk anak kamu. tetaplah jadi Rafka nya papa dan mama jaga mama kamu, jangan biarin dia nangis gara2 kmu dan jangan pernah tinggalin mama kamu ya, papa sangat menyanyangi kamu"
"sekarang kita lihat semua kenangan kita ya"
kemudian terlihat disaat Raffi melamar gigi, mengucapkan ijab qabul, resepsi pernikahan mereka, liburan mereka kebeberapa negara sebelum gigi melahirkan, acara empat bulanan, acara tujuh bulanan.
"sayang lihat waktu kamu mempertaruhkan nyawa kamu untuk melahirkan anak kita Rafka"
video saat gigi melahirkan dimana dia benar2 berjuang antara hidup dan mati
"mama kamu hebat kan ka"
lalu terlihat video saat acara aqiqahan Rafka, saat Rafka belajar berjalan, saat Rafka mulai bisa memanggil mama dan papa, saat Rafka belajar membaca dan menulis, saat Rafka mulai masuk sekolah, ikut perlombaan, ikut karate, dan video video kebersamaan lainnya termasuk saat Rafka diwisuda dan menjadi mahasiswa terbaik di kampusnya.
"semua udah kita lalui bersama, terimakasih ya Istriku, kamu selalu ada untuk aku disaat aku susah maupun senang, trimakasih sudah memberikan aku seorang anak yang sangat tampan dan selalu membanggakan ku. Rafka makasih ya sayang udah jadi anak kesayangan papa jadi anak kebanggaan papa, sejak kamu lahir didunia ini kamu itu penyemangat papa untuk hidup, kamu alasan papa untuk tetap kuat. sekarang lanjutkan lah hidup kalian walau tanpa ada papa disamping kalian tapi percayalah papa selalu dihati kalian"
"makasih Istri dan anakku sudah selalu bersama papa hingga akhir nafas papa. kalian jangan sedih lagi ya. papa sudah tenang di tempat peristirhattan papa, jangan lupa main kesana ya, doain papa"
"Dada 👋👋muaaaach 😘"
Video itu diakhiri dengan rangkaian foto2 kebersamaan mereka

saat melihat video itu tanpa disadari gigi dan Rafka sama2 menitihkan air mata
Rafka segera menghapus air matanya kemudian menghapus air mta mamanya
"mama dengerkan, papa ga suka liat mama nangis" ucap Rafka
"ia mama ga akan sedih lagi" ucap gigi lalu memeluk Rafka

Mereka pun mulai menata hari - hari mereka tanpa kehadiran Raffi di sisi mereka.

--SELESAI--

INI CUMA FIKTIF!!
jangan dianggap serius.
Maaf bila cerbung ini tidak berkenan dengan kalian.
Trimakasih sudah membaca cerbung Lia dari awal hingga akhir.
Untuk komentar, kritik dan saran
silahkan ke akun twitter aku
@Liaa_RA17

Sabtu, 06 Juni 2015

HINGGA AKHIR NAFASKU Part 6

sesampainya dirumah gigi raffi langsung mengetuk pintunya namun kini Raffi tak lagi ditemani irwan karna irwan sudah memiliki janji dengan orang lain
"gi, gigi giiii" panggil RAffi sambil mengetuk pintu rumah gigi
namun tak ada yang membukakan pintu untuk Raffi
"gi buka pintunya gi aku mohon, aku bisa jelasin semuanya gi" teriak Raffi
"gi, gigiiiiiiii"
"gi semua itu cuma salah faham gii" teriak Raffi

sementara gigi dikamarnya masih saja menangis ditemani oleh mama rita
"gi, cobalah temui Raffi, mungkin dia benar ini semua cuma salah faham" ucap mama sambil mengelus Rambut gigi
"ga ma, gigi ga mau"
"tapi sayang masalah ini ga akan selesai kalau kamu begini terus" nasehat mama
"gigi ga mau ketemu Raffi mah, sekarang gigi cuma mau sama mama" ucap gigi memeluk mamanya sambil menangis
"baiklah kalau itu keinginan kamu, tapi berhentilah menangis" ucap mama rita.

"gi, aku ga akan pergi dari sini sebelum kamu dengerin penjelasan aku, aku tau kamu denger aku gi" teriak Raffi lagi
"gi, gigiiiiii"
suara Raffi makin membuat gigi menangis disatu sisi dia masih merasakan sakit hati karna perbuatan Raffi dan disisi lain gigi benar2 tak tega dengan Raffi.
setelah sedari tadi menangis gigi kini tertidur dipangkuan mamanya sementara RAffi masih saja berharap gigi keluar dan mau mendengarkan penjelasannya
namun sayang hingga pagi hari gigi tak kunjung keluar walaupun begitu Raffi masih juga tak beranjak dari depan rumah gigi penampilannya kacau, kantung matanyanya terlihat jelas, wajahnya sangat lelah namun Raffi seakan tak memperdulikannya yang ada di fikirannya adalah nagita, nagita dan nagita
tiba2 mama rita membuka pintu, mendengar suara pintu Raffi langsung menghampiri mama rita
"Raffi kamu masih disini?" ucap mama rita
"tan tolong izinin Raffi ketemu sama gigi, Raffi harus ngejelasin ini semua ke gigi tan, Raffi mohon tan" ucap Raffi memohon
"Raffi tante percaya kamu ga akan mungkin ngelakuin itu, tapi gigi belum mau ketemu sama kamu" ucap mama rita
"tante tolong tan, tolong bujukin gigi tan. Raffi punya bukti kalau semua ini cuma salah faham, Raffi mohon tan" ucap Raffi
"baik lah, akan tante usahakan, sekarang kamu masuk dulu"
"makasih tan, makasiiih" ucap Raffi lalu mengikuti mama rita masuk
"kamu duduk dulu, biar tante panggilkan gigi" ucap mama rita kemudian menaiki anak tangga menuju kamar gigi.
bukannya duduk Raffi malah mondar mandir ga jelas
"giii" panggil mama
"ia ma" jwb gigi
"kamu ikut mama kebawah sebentar ya"
"mau ngapain ma, Raffi masih dibawahya"
"emm, udah ayo ikut mama aja" ucap mama
gigi pun mengikuti mamanya sampai dibawah gigi melihat Raffi sedang mondar mandir
"maaa" ucap gigi
"bicarakannlah dengan baik2" ucap mama rita
"gigi, aku mohon dengerin aku" ucap Raffi menghampiri gigi
"ga, aku ga mau" ucap gigi berusaha kembali ke atas
namun dengan cepat Raffi menahan tangan gigi
"gi aku mohon dengerin aku dulu gi, aku mohon gi" ucap Raffi
"aku, aku ga mau" ucap gigi kembli menangis
"gigi, cobalah dengarkan penjelasan Raffi dulu" ucap mama
"tapi maa"
"gi aku mohon, aku janji setelah aku jelasin semuanya aku akan ikuti semua kemauan kamu sekalipun kamu minta aku untuk pergi dari hidup kamu" ucap Raffi
akhirnya gigi pun mau mendengarkan Raffi sedangkan mama rita lebih memilih pergi agar raffi dan gigi bisa menyelesaikan masalahnya.
Raffi pun segera memutarkan rekaman cctv yang dari semalam berada di tangannya.
melihat rekaman itu gigi kembali menangis namun dengan cepat Raffi menghapus air mata gigi
"gi, aku mohon maafin aku, aku bener2 ga tau putri akan ngelakuin itu. aku mohon percayalah" ucap Raffi berlutut didepan gigi
gigi langsung memeluk Raffi
"harusnya aku yang minta maaf, seharusnya aku ngedengerin penjelasan kamu dari semalam" ucap gigi menangis
"berhentilah menangis, yang penting kamu udah tau semuanya" ucap Rafgi mengelus rambut gigi kemudian merenggangkan pelukannya dan kembali menghapus airmata gigi
"emm, fii" ucap gigi
"ya, kmu ga akan minta aku untuk pergi dari kamu kan" ucap Raffi
gigi menggelengkan kepalanya
"bagus deh, jadi kamu mau ngomong apa" tanya Raffi
"kamu belum mandi ya" ucap gigi
"emm belom, aku bau ya" ucap Raffi sambil mencium badannya sendiri
gigi pun mengangguk
"abisnya kamu ga bukain pintu buat aku"
"jdi kmu semalaman diluar?"
"ia"
"maafin aku ya, gara2 akuu…"
"ga ini semua bukan salah kamu, ini semua keinginan aku untuk nungguin kamu" ucap Raffi
"kamu tunggu disini" ucap gigi lalu pergi begitu saja
"gi, kamu mau kemana" tanya Raffi bingung
tak lama gigi kembali dengan membawa kotak p3k, dan air
"kamu mau ngapain" tanya Raffi
"kamu sini deket aku" ucap gigi
kemudian Gigi membersihkan wajah Raffi dengan kain basah kemudian mengobati lebam2 di wajah Raffi
"pasti kamu belum obatin dari semalam, maaf ini semua gara2 aku" ucap gigi
"makasih, udah seperhatian ini sama aku, semua ini ga ada apa2nya dibandingkan rasa sakit aku kalau aku sampai kehilangan kamu" ucap Raffi
"udah, kamu diem dulu" ucap gigi.
setelah selesai gigi menyuapkan roti yang diantar bi siti ke Raffi
"kamu jga pasti belum makan dari semalam, sekarang kamu makan dulu, aku ga mau kamu sakit" ucap gigi
raffi pun memakannya.

sementara itu kini irwan janjian dengan dinar dan billy.
irwan pun menjelaskan semuanya ke dinar dan billy walaupun mereka sempat tak percaya namun irwan berhasil meyakinkan mereka
"astaga, ga seharusnya gue mukulin Raffi" ucap billy menyesal
sementara Dinar hanya terdiam namun tiba2 saja dia bangkit dri duduknya
"ada hal yang harus gue urus" ucap dinar lalu berlalu begitu saja
"si dinar kenapa?" tanya irwan
"mana gue tau, tapi sekarang apa Raffi udah ngejelasinnya ke Gigi?' tanya Billy
"gue ga tau bil, gue harap sih udah" ucap irwan

sekarang Raffi telah selesai mandi dan untungnya dia membawa baju dimobilnya
"sekarang peluk aku lagi mau ga? aku udah wangi" ucap Raffi membentangkan tangannya
"ih apaan sih, malu tau ada mama" ucap gigi
"mana, ga ada kok" ucap Raffi langsung memeluk gigi
"ya ampun, semalam aja nangis nangisan, sekarang main peluk2kan aja" ucap mama rita tiba2 dtng
"eh tante maaf tan" ucap Raffi nyengir lalu melepaskan pelukannya
"ia, sekarang udah jelaskan semuanya" ucap mama
Raffi dan gigi hanya mengangguk
"ini sebagai pembelajaran untuk kalian berdua, lain kali kalau ada masalah langsung diomongin baik2 jangan sampai berlarut2" ucap mama rita
"ia ma" jwb gigi
"yaudah kalau gitu mama kekamar dulu" ucap mama lalu pergi
"yang aku pulang dulu ya" ucap Raffi
"ia, tapi kamu yakin mau nyetir sendiri?"
"ia emang kenapa"
"kamu ga liat kantung mata kamu ini, kamu belum tidur semalam, aku ga ngizinin kamu nyetir sendirian"
"tapi aku harus pulang"
"kamu diantar supir aku, kalau ga, ga usah pulang"
"iya udah, terserah kamu aja"
akhirnya Raffi pun pulang diantar supir gigi dan benar saja sepanjang perjalanan Raffi tertidur.

Dinar rupanya menuju kantor Raffi
"mana ruangan putri sekretaris pak Raffi" tanya dinar kesalah satu pegawain
"disitu bu" jwbnya sambil menunjukkan ruangan putri
"oh, makasih ya" ucap dinar langsung menuju ruangan putri
"eh, din ngapain disini" tanya putri
Plaaaak tamparan dinar mendarat di pipi kiri putri
"aaaw apaan sih lo din" ucap putri memegang pipinya
Plaaaak kini tamparan dinar mengenai pipi kanan dinar
"dinar, maksud lo apaan sih" bentak putri
"lo pantes nerima itu, karna lo udah ngerusak hubungan raffi gigi dan satunya lagi karna lo hampir ngerusak persahabatan gue dan Raffi" ucap dinar.
"tpi yg ngelakuin itu semua Raffi, bukan gue" ucap Putri membela diri
dan sekali lagi
Plaaak tamparan itu didapatkan putri
"itu karna lo udah ngefitnah Raffi, gue ga nyangka lo selicik itu put, kami udah tau yang sebenarnya jadi jangan pernah coba2 ngefinah Raffi lagi" ucap dinar kemudian pergi meninggalkan putri
"minggir minggir" ucap dinar saat keluar karna pegawai lain dari tadi asik melihati mereka
"sialan liat aja lo, gue bakal balas semuanya" ucap putri

setelah dari kantor Raffi dinar bergegas menuju rumah gigi
"gi, lo udah tau semua kan" tanya dinar
"ya din, gue udah tau semuanya" jwb gigi
"syukurlah, gue uda beri pelajaran tu si putri" ucap dinar
"maksudnya?"
"udah lo ga perlu tau" ucap dinar

keesokkan harinya
Raffi mulai bekerja kembali tentunya dengan tumpukan berkas2 yang kini bertambah banyak tapi sebelum raffi mulai bekerja Raffi memanggil Putri keruangannya.
Putri pun duduk di depan Raffi
"ada apa fi" tanya putri
"ini surat pemecatan kamu, dan sekrang silahkan keluar dari rungan saya" ucap Raffi
"tpi fi, kmu ga bisa mecat aku gitu aja" ucap putri tak terima
"silahkan keluar" ucap Raffi lagi
"fi, kmu ga bisa………"
"aku bisa, sekarang keluar atau aku panggil satpam" ucap Raffi
"gak fi, kamu ga boleh mecat aku" ucap putri lagi
Raffi mengangkat gagang tlpnya
"panggil satpam keruangan saya sekarang" ucap Raffi lalu kembali menaruh gagang tlp itu
"fi kamu ga punya alasan buat mecat aku "
satpam pun datang
"permisi pak"
"bawa dia keluar dari ruangan saya, dan pastikan dia tak kembali masuk keruangan ini" ucap Raffi
satpam itu pun langsung membawa putri keluar dari ruangan Raffi.
Dan saat ini raffi sudah mempunyai pengganti putri sebagai sekretarisnya dan juga pengganti pak alex sebagai wakilnya.

saat jam makan siang billy masuk keruangan Raffi
"fii" panggil Billy
"ya, kenapa bil" tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas dimejanya
"fi gue minta maaf soal yang kemaren" ucap billy
Raffi menatap kearah billy
"lo santai aja, gue ga marah kok" ucap Raffi
"tapi fi.."
"tpi gue bakal marah kalo lo terus terusan minta maaf" ucap Raffi
"ya udah terserah lo, eh fi tu sekretaris baru lo, cepat amat lo nyarinya"
"gue sebenarnya udah mau mecat putri dari lama, cuma gue harus cari gantinya, karna gue udah ada gantinya gue langsung pecat putri dan langsung nyuruh dia kerja" ucap Raffi
"ooh, bagus kalo gitu, eh tapi fi lo gak laper, udah jam makan siang nih" ucap billy
tiba2 thandphone Raffi berdering dan Raffi langsung mengangkatnya
"ya sayaang" ucap Raffi
"eemm, iya nih aku lagi makan"
"beneran, kalo ga percaya tanya billy nih aku makan bareng billy" raffi mengedipkan matanya memberikan kode ke billy
"ya ya gi ini gue lagi makan ma Raffi ditraktir lagi" ucap billy
"tuh kan, yaudah kamu jangan lupa makan juga ya sayang"
"ia, bye sayaaang muach" ucap Raffi mengakhiri pembicaraan
"karna lo udah nyuruh gue bohong, lo harus tanggung jawab atas kebohongan gue" ucap billy
"ia ia, gue yang traktir" ucap Raffi
kemudian mereka pun pergi untuk makan siang

Hari demi hari mereka lewati.
Gigi, mamanya dan mama amy disibukkan gengan persiapan pernikahan Raffi gigi. Disaat gigi sibuk mempersiapkan pernikahan mereka Raffi masih sja sibuk dengan pekerjaannnya dikantor.
siang ini mereka akan  melakukan fitting pertama baju pengantin namun hingga jam setengah dua Raffi belum menunjukkan batang hidungnya.
"duh si Raffi kemana sih" gerutu Gigi
"udalah gi palingan bentar lagi dia datang" ucap Dinar
"tapi din kan kemaren janjinya jam 1 ini udah setengah dua  gue ga enak sama lo, harusnya lo kan bisa ngerjain yang lain" ucap gigi
"yaelah gi, sama gue ini udalah santai aja, nah dari pada lo ngegerutu sendiri mending lo yang fitting duluan" ucap dinar
"yaudah deh" ucap gigi
kemudian gigi pun mencoba baju pengantinnya dan memang sudah cukup pas hanya beberapa saja yg harus dibenahi agar lebih sempurna.
saat gigi selesai mencoba baju pengantinnya Raffi baru datang dengan helm dikepalanya dan nafas terengah engah.
"maaf ya, aku telat" ucap Raffi menghampiri gigi
gigi hanya diam lalu duduk di kursi tak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Raffi yang sadar gigi marah langsung menghampiri gigi dan duduk didepan gigi
"maafin aku ya, tadi macet banget beneran deh" ucap Raffi
namun gigi hanya diam dan tak menggubris perkataan Raffi
"gi aku beneran minta maaf ya sayang, jangan ngambek ya" ucap Raffi
gigi melihat kearah raffi. niat ingin memarahi Raffi luntur seketika begitu melihat raffi dengan helm dikepalanya, keringat yang mengucur di wajahnya dan wajah yang kelihatan sangat lelah.
"gi jgan diam aja dong aku minta maaf" ucap Raffi lagi
gigi hanya diam kemudian melepaskan helm dikepala Raffi kemudian mengelap keringat Raffi dan memberikan minumnya untuk Raffi.
Raffi hanya diam kebingungan lalu meminum minuman yang diberikan oleh gigi
"kamu udah ga marah kan" ucap Raffi
"udah sana cobain bajunya, dinar udah nungguin" ucap gigi
Raffi pun menurutinya.
setelah selesai Raffi kembali menghampiri gigi dan kini duduk disamping gigi
"yang" panggil Raffi
"emmm"
"yang kamu masih marah?"
"enggak"
"kalo enggak kenapa diam doang jangan diam doang dong, ngomong apa kek gitu" ucap Raffi
melihat dinar akan menghampiri mereka gigi segera bangkit dari duduknya lalu sedikit menghampiri dinar
"makasih ya din, kalo gitu gue balik dulu" ucap gigi lal cipika cipiki dengan dinar
Raffi dibuat tambah bingung melihat tingkah gigi lalu ikut pamit dengan dinar dan menyusul gigi.
"gi tunggu dulu dong, aku anter kamu pulang ya" ucap Raffi menahan gigi
"mana mobilnya" tanya gigi
Raffi melihat mobilnya yang baru datang
"itu ayo" ucap Raffi kemudian gigi pun mengikutinya
"pak, bapak pulang aja. biar saya yg bawa mobilnya, ni ongkos  untuk bapak pulang" ucap Raffi kesupirnya karna memang pada saat ke butik dinar Raffi menggunakan ojek.
diperjalanan gigi hanya diam dan Raffi yang menyadari akan hal itu berusaha untuk kembali meminta maaf
"yang jangan diam aja dong" ucap Raffi
"yang aku bener2 minta maaf, tdi itu aku lupa" ucap Raffi jujur.
"tapi tadikan aku uda nelfon kamu dari jam 12, trus kenapa ga diangkat" ucap gigi
"tdi aku masih banyak kerjaan gi, maafin aku ya" ucap Raffi lagi
"seharusnya kamu ingat, masa untuk pernikahan kamu aja kamu ga ingat" ucap gigi
"ya maaf yang, aku janji ini terakhir kali aku lupa kaya gini, beneran deh kamu jangan marah lagi ya, maafin aku" ucap Raffi
"ia ia" ucap gigi
"kalo dimaafin senyum dong masa masih cemberut gitu, senyum dong" ucap Raffi
gigi pun meberikan senyuman manisnya
"nah gitu dong" ucap Raffi lali mengacak acak Rambut gigi.
"nah udah sampe, kmu istirahat ya" ucap Raffi begitu didepan rumah Gigi
"kamu ga mampir dulu" tawar gigi
"enggak, aku mau balik lagi kekantor" jwb Raffi
gigi melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 4
"ini udah jam pulang kerja Raffi" ucap gigi
"bentar aja" ucap gigi
"terserah kamu deh, yaudah kamu hati2 ya" ucap gigi lalu akan membuka pintu mobilnya.
Baru saja gigi akan keluar terdengar suara perut Raffi yang membuatnya langsung melihat kearah Raffi dan menutup pintunya lagi
"loh kenapa?" tanya Raffi heran
"kmu udah makan siang?" tanya gigi
"haaa em u udah kok, udah" jawab Raffi gugup
"bohooong" ucap gigi
"bee beneran kok, aku udah makan" ucap Raffi
"trus kenapa tadi perutnya bunyi"
"em eng enggak kok, kamu salah denger" elak Raffi
"ga aku ga salah denger, kmu bohong" ucap gigi lalu memanyunkan bibirnya
"ia ia, aku belom makan" ucap Raffi
"udah jangan manyun gitu lagi dong" ucap Raffi mencolek dagu gigi
"kamu itu jangan terlalu mikirin pekerjaan kamu doang, kesehatan kamu itu lebih penting Raffi" ucap gigi
"ia ia maafin aku ya, jangan marah dong" bujuk Raffi
namun gigi hanya diam
"ia nanti habis dari kantor aku makan deh" ucap Raffi
mendengar perkataan Raffi tadi membuat gigi membulatkan matanya
"kmu bilang abis dari kantor?" ucap gigi dengan nada tinggi
"ia, abis dari kantor" jwb Raffi santai
"kalau kamu pulang dari kantor itu namanya kmu makan malam Raffi" ucap gigi
"ya abis mau gimana lagi aku harus kekantor dulu, abis itu baru deh aku makan" ucap Raffi kemudian menoleh kearah gigi namun gigi sudah tak ada
"lah si gigi ilang kemna?" ucap Raffi sendiri
"ayo turun" ucap gigi yang ternyata sudah berada diluar mobil dan menarik Raffi keluar dari mobilnya
"lo yang, mau kemana aku harus kekantor dulu" ucap Raffi bingung
"udah kamu harus ikut aku" ucap gigi terus menarik Raffi masuk kedalam rumahnya

"eh udah pulang, gimana fittingnya" tanya mama rita begitu melihat raffi gigi
"lancar kok ma" ucap gigi lalu menyalam tangan mamanya diikuti oleh Raffi
"tapi Raffinya kok ditarik2 gitu sih gi" tanya mama rita
"mama masak kan ma?" tanya gigi
"ia" jwb mama
gigi pun langsung menarik Raffi kemeja makan kemudin menyuruhnya duduk dan segera mengambilkan makanan untuk Raffi
"sekarang makan sampe habis" ucap gigi lalu duduk disamping Raffi
"kalian kenapa sih" tanya mama rita heran
"ini mah, dia belom makan dari tadi siang, trus mau balik ke kantor lagi" jls gigi
mama rita hanya menggelengkan kepalanya lalu pergi meninggalkan mereka berdua
"udah makan, tunggu apa lagi" ucap gigi melihat Raffi yang belum memakan makanannya
"tapi gi, aku harus kekantor" ucap Raffi
"Raffiiiii ayo makan" ucap gigi
tak ingin melihat calonn istrinya itu marah lagi Raffi pun memakan makanannya
"udah" ucap Raffi
"apanya yang udah, kamu baru makan 4 suap, ayo makan lagi" ucap gigi
"tdi udah lebih dari 4 suap yang" ucap Raffi
"bohong, ayo makan lagi" ucap gigi
namun Raffi hanya diam, melihat Raffi begitu gigi pun mengambil piring Raffi kemudian menyuapkan makanannya kemulut Raffi
"aaaa" ucap gigi membuka mulutnya
"tapi yang aku udah kenyang"
"enggak ayo buka mulutnya" paksa gigi
akhirnya Raffi pun mengalah, gigi menyuapi Raffi hingga habis
"selesai" ucap gigi kemudiam memberikan minum untuk Raffi. Raffi pun meminumnya
Raffi melihat jam tangannya yg menunjukkan pukul 5 kemudian dia menghela nafas panjang lalu menatap gigi yang tersenyum
"aku balik ya, aku mau kekantor dulu" ucap Raffi
"ga usah, kan bisa besok mending kamu pulang trus istirahat, aku ga mau kamu sakit karna kelelahan" ucap gigi
"tapi yaang"
gigi langsung memasang wajah BT dan memalingkan wajahnya dari Raffi
"ia ia aku ga kekantor, aku langsung pulang" ucap Raffi seakan mengerti raut wajah gigi
"ya udah hati2 ya" ucap gigi tersenyum manis.
Raffi pun akhirnya pulang.

seminggu setelah itu kini Raffi harus pergi ke Bali untuk mengurus perusahaannya disana selama 5hari.
"kamu disana jangan terlalu capek, dan satu lagi jangan lupa makan" ucap gigi
"siap bos" ucap Raffi memberi hormat
"ih Raffi apaan sih" ucap gigi
"yaudah kamu jga kalo ga ada aku jgn macem2 ya apalagi kalo kamu sampe selingkuh!" ucap Raffi
"apaan sih, yang ada kmu tu yang selingkuh" ucap gigi
"emang aku mau selingkuh sama siapa coba" tanya Raffi mencolek dagu gigi
tiba2 sekretaris Rafi datang untuk memberitahu pesawat akan segera berangkat
"permisi pak, sebentar lagi pesawat akan segera berangkat" ucapnya
selama dia berbicara gigi memandanginya dari atas hingga bawah. gigi memang baru pertama kali bertemu dengan sekretaris Raffi ini.
"ia, kamu duluan nanti saya menyusul" ucap Raffi
kemudian sekretaris Raffi pun itu pergi.
"ih kamu ngapain sih liatinnya gitu banget" ucap Raffi
"ga papa, cantik ya" ucap gigi
"cantikkan kamu lah, kenapa sih cemburu ya"
"enggak, yaudah kmu pergi sana gih"
"yakin ga cemburu, aku cuma pergi berdua loh sama dia" goda Raffi
"ya udah pergi sana, selamat berdua duaan ya" ucap gigi
Raffi langsung memeluk gigi
"jangan gitu dong ngomongnya, aku kan bakal ketemu client disana jadi ga cuma berdua doang kok" jelas Raffi tanpa melepaskan pelukannya
"ia ia, udah sana nanti ketinggalan pesawat lagi" ucap gigi sedikit merenggangkan pelukannya
"yaudah, aku berangkat ya" ucap Raffi lalu mengecup kening gigi.
"hati2 ya" ucap gigi
Raffi pun pergi, setelah Raffi masuk gigi pun segera bergegs ke tokonya

4hari sudah berlalu dan besok malam Raffi akan kembali kejakarta.
gigi akan segera pulang kerumah karna hari sudah sore namun saat akan pulang salah satu karyawannya memberikan sesuatu ke gigi
"apa ini, dari siapa" tanya gigi
"kurang tau bu, tadi kurir yang mengantarkannya" jawab pegawai itu
"oh ya sudah, trimakaauh" ucap gigi lalu pergi menuju mobilnya.
sesampainya dirumah gigi langsung mandi kemudian makan bersama dengan keluarganya setelah selesai makan mereka berbincang bincang
"gi gimana persiapan pernikahan kamu?" tanya papa
"udah 60% persen pa" jwb gigi
"bagus lah, kamu jangan terlalu capek mengurusnya" ucap papa
"ia pa, lagian gigi juga seneng ngelakuinnya" ucap gigi
" oia kapan kalian akan membeli cincin pernikahannya" tanya papa
"kata Raffi sih nanti pa, setelah dia balik dari Bali" jwb gigi
"mbak gue ikut ya" ucap caca
"nah lo ngapain ikut, emang lo make cincin jga gitu" ucap gigi
"enggak sih, tapi…"
"yaudah lo diem nyantai aja dirumah, ngapain ikut" potong gigi
"udah jangan ribut" ucap mama
mereka pun asik berbincang hingga pukul 10 malam.
"mah pa, gigi kekamarnya udah ngantuk" ucap gigi.
"ia, mama sama papa juga mau istirahat, kamu jga cha istirahat" ucap mama
lalu mereka kembali kekamar masing2
saat akan tidur gigi teringat akan kiriman yang belum sempat dia buka tadi
gigi pun mengambilnya kemudian membukanya didalammya terdapat tulisan
"DIA TAK AKAN PERNAH MENJADI MILIK MU!!!"
"apaan sih maksudnya" gerutu gigi
lalu gigi mendapatkan beberapa foto disana. ya itu adalah foto Raffi bersama beberapa orang perempuan yang seperti berada di sebuah club malam.
"ga ini ga mungkin Raffi" batin gigi
gigi pun segera mengambil handphonenya kemudian menelfon Raffi namun hingga berulang kali Raffi tak kunjung mengangkatnya. gigi benar2 bingung namun untuk kali ini dia tak ingin berburuk sangka terhadap Raffi dia berusa tenang hingga Raffi pulang nanti dan memberikan penjelasannya tentang foto2 itu walaupun sebenarnya gigi sangat takut bila foto2 itu benar. dan untuk kali ini juga gigi tak ingin memberitahu siapapun karna dia takut kalau nantinya orang yg diberitahunya menjadi emosi dan bisa jadi kejadian dulu terulang lagi billy memukuli Raffi hingga babak belur

keesokkan sore setelah selesai dari tokonya gigi berniat segera ke bandara untuk menjemput Raffi walaupun Raffi melarangnya namun baru saja keluar dari tokonya seseorang datang menghampirinya.
"hay gi" sapa orang itu
"Andre" ucap gigi kaget
ya andre adalah mantan gigi sebelum Raffi kembali ke Indonesia
"apa kabar gi" tanyanya
"baik baik kok" jawab gigi
"eh gi lo ada waktu ga, gue pengen ngobrol sama lo" ucap Andre
"tpi ndre gue mau...."
"udalah kali ini aja, sebentar doang kok" potong andre
gigi hanya diam ntah apa yang ada difikirannya.
"kalo diem berarti ia" ucap Andre lalu mengajak gigi ke mobilnya.
sementara Raffi baru saja sampai dijakarta dan dia langsung menelfon gigi namun gigi tak mengangkat telfonnya. karna gigi tak mengangkatnya Raffi mencoba menghubungi caca berharap gigi sedang berada dirumah
"halo ca, mbak gigi dirumah?" tanya Raffi
"enggak kak, mbak gigi belom pulang" jawab cava
"oh makasih ya" ucap Raffi lalu mematikan telfonnya
Raffi pun bergegas le toko gigi, berharap gigi masih disana
"bu Nagita dimana?" tanya Raffi pada salah satu karyawan
"buk nagita sudah pulang pak" jawabnya
"sudah lama?"
"sudah lumayan lama pak, tdi ibu Nagita pulang bersama pak Andre" jelas karyawan itu
"andre? ya sudah trima kasih" ucap Raffi lalu kembali kemobilnya.
"andre? kaya pernah denger tapi siapa ya" batin raffi
lalu Raffi mencoba mencari keberadaan gigi lewat GPS dan Raffi pun langsung menuju dimana gigi berada.

sesampainya disebuah restoran Andre langsung mangajak gigi masuk dan langsung memesan makanan
"emm gi mau pesen apa?" tanya Andre
"gue pesen jus juruk aja" ucap gigi
"makanannya enggak?"
"enggak"
Andre pun memesan kan makanan untuk gigi.
gigi akan mengambilnya hpnya ditas dia ingin memastikan apakan Raffi sudah di jakarta atau belum. namun belum lagi gigi mengambilnya Andre menggenggam tangan gigi
"andre apaan sih" ucap gigi melepaskan genggaman andre
"maaf gi, maaf kalo kamu ga suka" ucap Andre
"tapi gi aku ingin bilang kekamu kalau aku mau balikan sama kamu" ucap andre lagi
mendengar perkataan andre itu membuat gigi kaget bukan main
"tapi aku ga bisa, aku..."
"gi aku mohon kita kan putus dgn baik2 aku yakin pasti kita bisa memulainya dari awal" potong Andre kembali menggenggam tangan gigi
"maaf andre aku ga bisa, aku akan..."
"kamu pasti bisa gi, kita bisa nyatuin cinta kita lagi aku yakin gi" potong andre lagi dan kini tambah mengeratkan genggamannya dikedua tangan gigi
Raffi yang baru saja sampai dan langsung melihat itu terlihat sangat emosi dan langsung menghampiri gigi dan andre

BERSAMBUNG.....



Cerita ini hanya fiktif belaka,
Untuk komentar, kritik dan saran
silahkan ke akun twitter aku
@Liaa_RA17
thanks for reading......