Minggu, 07 Juni 2015

HINGGA AKHIR NAFASKU Part 7

Raffi berjalan menghampiri gigi dan terus memperhatikan gigi dia melihat gigi berusaha melepaskan genggaman tangan laki2 itu dan itu membuat Raffi sedikit tersenyum walaupun laki2 yang bersama gigi itu terus mengeratkan genggamannya
"malam gi" sapa Raffi langsung mengacak acak Rambut calon istrinya itu
"Raffii!!" ucap gigi kaget dan langsung menghempaskan tangan Andre
Andre yang melihatnya benar2 bingung dia seperti pernah melihat Raffi tapi dia lupa.
"aku boleh duduk kan" ucap Raffi
"ya, kmu duduk sini" ucap gigi mempersilahkan Raffi duduk disebelahnya.
Raffi pun duduk disebelah gigi
"dia siapa gi?" tanya Andre
"kenalin ini Raffi calon suami aku" ucap gigi
"raffi" ucap Raffi memperkenalkan dirinya
"Andre" ucap Andre menatap Raffi
"ya dia Raffi, dia orang yg selalu gigi bandingkan dengan aku saat masih pacaran" batin Andre yang kini mulai mengingatnya karna andre pernah melihat foto raffi bersama tmn2 gigi yg lainnya di ruang kerja gigi
"lagi pada ngapain disini" tanya Raffi
"emm enggak kok" jwb gigi gugup dia takut Raffi salah faham dan akan marah padanya
"kami cuma makan malam kok" ucap Andre
"oh ya kalau gitu silahkan lanjutkan" ucap Raffi
"emm aku mau pulang" ucap gigi
"tpi kan makan malamnya belum selesai, ga enak sama andre, kamu makan aja dulu aku tunggu dimobil ya" ucap Raffi
"ga, aku mau pulang" ucap gigi
"andre aku duluan ya" ucap gigi lalu berdiri dari duduknya diikuti Raffi
"balik duluan ya, maaf kalu saya ngeganggu" ucap Raffi lalu pergi keluar dari restoran itu
"sialan bukannya dia di Australia kenapa sekarang ada di Indonesia dan kenapa juga gigi bilang dia calon suami gigi, apa mereka akan menikah" batin Andre

dimobil gigi hanya diam dia benar2 takut kalau Raffi marah
"kamu kenapa diam aja, ga kangen sama aku" ucap Raffi lansung merangkul gigi
"kamu ga marah?" tanya gigi
"kenapa aku harus marah?" tanya Raffi balik
"soal direstoran tadi" ucap gigi
"ngapain aku harus marah, aku tadi liat kok kamu berusaha ngelepasin tangannya walaupun mungkin dia terlalu erat genggam tangan kamu" jawab Raffi
"maafin aku ya, seharusnya aku ga pergi sama dia " ucap gigi
"udah jangan dibahas lagi" ucap Raffi
"tpi apa kamu ga cemburu?" tanya gigi
"ya jelaslah aku cemburu, laki2 mana yg ga cemburu liat calon istrinya pegangan tangan sama cowok lain"
"trus kenapa kmu ga marah"
"kan tdi aku udah bilang, aku liat kamu mau ngelepasin tangannya itu tandanya kmu ga suka dia pegang tangan kamu, dan aku ga mau marah2 ga jelas aku mau denger penjelasannya dari kamu, sekarang aku mau coba kamu jelasin ke aku kenapa kamu bisa direstoran sama dia dan kenapa telfon aku ga kamu angkat"
gigi pun menceritakan semuanya hingga Raffi datang.
"dan kalau soal telfon kamu aku ga tau hpnya tdi aku silent" ucap gigi menunjukkan hp nya
"udah jelaskan, untung aku ga marah2 semunya akan selesai dengan cepat kalau kita saling omongin, aku ga mau kejadian waktu itu terulang lagi" ucap Raffi lalu mencium pucuk kepala gigi
"makasih ya" ucap gigi
"pak berhenti didepan pak" ucap Raffi tiba2 kesupirnya
"baik mas"
"loh kita mau ngapain?" tanya gigi heran
"kita makan dulu ya, aku laper kmu juga tdi ga jdi makan kan" ucap Raffi
kemudian Raffi dan gigi pun masuk kesebuah rumah makan yang cukup sederhana
"kamu mau pesen apa?" tanya Raffi
"samain aja sama kamu" jwb gigi
Raffi pun memesan makanan untuk mereka berdua. dan tak lama makanan pun datang
"ayo makan" ucap Raffi lalu dia mulai memakan makanannya dengan lahap
sementara gigi bukannya makan malah asik melihatin Raffi, sadar gigi tak kunjung memakan makanannya Raffi pun menghentikan makannya
"kamu kenapa ga makan, ga suka ya? nanti kita cari restoran lagi ya" ucap Raffi
"enggak kok, aku cuma heran liat kamu" jwb gigi
"heran kenapa? ada yang salah sama aku?" tanya Raffi bingung
"kmu masih mau makan ditempat kaya gini padahal kamu bisa makan direstoran mana aja yg kamu suka dan walaupun itu restoran paling mahal sekalipun" ucap gigi
"gi aku jga manusia biasa, bukan raja yg harus makan ditempat yang paling bagus. lagian disini rasanya enak" ucap Raffi lalu menyuapin gigi
"enak kan, sekarang kamu makan, nanti kamu sakit" ucap Raffi
gigi pun memakan makanannya hingga habis.
setelah selesai makan Raffi pun menghantarkan gigi pulang

di mobil Raffi menyandarkan kepalanya di pundak gigi
"fi aku mau nanya sesuatu sama kamu" ucap gigi
"mau nanya apa?" tanya Raffi
"kamu selama di Bali ngapain aja sih?" tanya gigi
"kenapa sih nanya nya kaya gitu, ya aku kerja lah sayang" jawab Raffi
"ga bohong kan, kmu ga pergi ketempat yang aneh2 kan? ga pergi sama cewek2 gitu kan"
Raffi menatap aneh kearah gigi
"kenapa sih nanyanya gitu banget, kamu kenapa sih?"
"ga aku cuma mau mastiin aja kalau foto ini ga bener" ucap gigi memberikan foto2 yg diterimanya kemarin
Raffi melihat foto2 itu
"kamu percaya itu aku?" tanya Raffi
namun gigi hanya diam
"lihat aku" ucap Raffi menggenggam tangan gigi
"ini bukan aku dan aku ga akan pernah ngelakuin hal yang akan buat kamu marah dan sakit hati seperti ini, aku akan buktiin kekamu malau foto ini hanya editan, kamu percaya kan sama aku" ucap Raffi.
sejenak gigi terdiam lalu menganggukkan kepalanya
"ya aku percaya sama kamu" jawab gigi
"makasih sayang" ucap Raffi kemudian kembali bersandar dipundak gigi dan menggenggam erat tangan calon istrinya itu.

Hari demi hari, minggu demi minggu, semua mereka lewati bersama, semua cobaan sebelum menikah mereka lewati dengan baik, masalah2 yg dtng mereka selesikan dengan saling membicarakannya dengan baik.
Hingga kini dihari yang mereka nantikan pun tiba.
Raffi dan Gigi duduk bersampingan wajah gugup terlihat jelas diraut wajah Raffi walaupun dia berusaha tersenyum namun tetap saja dia masih terliahat gugup. tak jauh beda dengan Raffi, Gigi pun demikian namun gigi tak terlalu menunjukkan kalau dirinya sangatlah gugup.
Raffi membaca ijab qabul dengan lancar dan dengan sekali tarikan nafas dan mereka pun sah menjadi sepasang calon suami istri. tanpa disadari saat Raffi mengucapkan ijab qabul gigi meneteskan air matanya, tentu saja air mata kebahagiaan.
kini waktunya mereka bersalaman dgn tetamu yang berdatangan tak terkecuali Dama dan yg lainnya beserta pasangan mereka.
"akhirnya kalian sah juga" ucap Dama langsung memeluk Raffi
"thanks ya ini juga berkat kalian" ucap Raffi
"selamat pak bos, sebentar lagi gue nyusul" ucap bily
"kaya punya calonnya aja" ucap Irwan
"santai ntar malem gue kenalin ke lo semua" ucap billy
lalu mereka pun asik berfoto bersama.

Dan malam ini juga resepsi pernikahan mereka diadakan dengan sangat meriah dan mewah.
semua larut dalam pesta keduanya tak terkeculi billy yang dtang bersama pasangannya
"hey kenalin ni pacar gue" ucap billy menggandeng kekasihnya
"serius lo bil?" ucap irwan
"serius lah, kenalin namanya Syahnaz" ucap billy memperkenalkan kekasihnya
mereka pun sling berkenalan satu sma lain
"udah yuk kita ke pengantinnya, sekalian ngenalin pacar baru gue pasti si Raffi cengo" ucap billy
"kok gitu?" tanya dinar bingung
"liat aja nanti" ucap billy
lalu mereka pun menghampiri Raffi dan gigi
"syahnaz kenapa gandengan sama billy" tanya Raffi heran begitu billy dan syahnaz memberikan selamat
"jelas gandengan dong, kan dia pacar gue" ucap billy
"pacar?, syahnaz pacar lo?" ucap Raffi tak percaya
"emang lo kenal fi?" tanya Dinar
"kenallah orang syahnaz sekretaris gue" ucap Raffi yang membuat yang lainnya cengo.

Hari demi hari mereka lalui sebagai pasangan suami istri yang sangat bahagia dan selalu romantis. kini sudah 3 bulan mereka lalui bersama.
pagi ini sepertinya ada yang salah dengan raffi, Raffi yang biasanya semangat kekantor kini malah jadi males, dia hanya berdiam diri ditempat tidurnya padahal gigi sudah menyuruhnya untuk mandi dan gigi sekarang tengah menyiapkan sarapan untuk Raffi.
"ya ampun Raffi kok ga turun2 sih" gerutu gigi
akhirnya gigi pun kembali masuk kekamar mereka
"ya ampun yang, kok masih ditempat tidur siih" ucap gigi menghampiri Raffi dan duduk dipinggir tempat tidur
"kamu ga kekantor? ini udah jam setengah 8 loh" ucap gigi membuka selimut suaminya yang dari tadi menutupi seluruh tubuh Raffi
"aku males yang, aku ga mau kekantor" ucap Raffi manja
"kamu kenapa? kamu sakit?" tanya gigi lalu meletakkan punggung tangannya dikening Raffi
"ga panas, kamu kenapa sih?" tanya gigi heran
Raffi memindahkan kepalanya ke pangkuan gigi dan memeluk pinggang gigi
"aku mau sama kamu aja" ucap Raffi tanpa membuka matanya
"ih sayang kamu kenapa sih, ga biasanya kaya gini" tanya gigi tambah heran
"iiihh kamu ih, jangan banyak tanya, aku cuma mau kamu sama aku aja satu harian ya" ucap Raffi manja
"ya udah, tapi kamu mandi dulu trus kita sarapan ya" ucap gigi sambil membelai lembut pipi suaminya itu
"nanti dulu yang, sejam lagi ya" ucap Raffi
"ih, kok sejam lagi sih, ayo sekarang" ucap gigi
"tapi ak...."
tiba tiba Raffi langsung turun dari tempat tidur dan berlari kekamar mandi
"yang kamu kenapa" tanya gigi panik dan langsung menyusul Raffi
wleeek wleek wleeek
"yang kmu kenapa? kenapa muntah2 gini" tanya gigi sambil mengusap punggung suaminya yg masih muntah.
"aku ga papa" ucap raffi lalu mencuci mulutnya
kemudian mereka kembali ke tepat tidur
"yang kamu sakit ya, kita kedokter ya" ucap gigi
"engga, aku ga mau kedokter aku mau disini aja sama kamu" ucap Raffi kembali ke posisi sblm dia muntah tdi.
"kalau ga mau kedokter kamu sarapannya" ucap gigi
"ia, tapi kamu yang suapin"
"ia ia, udah kamu tunggu sini ya" ucap gigi lalu turun untuk mengambil roti yg sudah disiapkannya tadi lalu kembali kekamar.
"ini yang, ayo duduk dulu" ucap gigi
Raffi pun duduk lalu gigi menyuapinya hingga habis.
"sekarang kamu mandi ya, bau tau" ucap gigi
"ia, tapi kamu jgn kemana2 ya" ucap Raffi
"ia, emang aku mau kemana sih" ucap gigu
lalu Raffi pun pergi mandi sebelum itu Raffi mencium pipi Gigi lalu berlari menuju kamar mandi.
setelah Raffi selesai mandi mereka pun turun kebawah dan menonton tv sambil bercanda tawa.
"yang aku pengen cupcake" ucap raffi
"cupcake?" tanya gigi
"ia aku pengen cupcake"
"yaudah aku suruh pak romi beli yah"
"ga mau, aku mau kmu yng buat"
"tapiii....."
"aku maunya kamu yg buat, kalo beli mending ga usah sekalian"
"ih kamu itu aneh tau ga"
"ya udah deh, kalau ga mau buatin, aku pergi aja deh" ucap Raffi ngambek lalu beranjak dari duduknya namun gigi dengan cepat menahannya
"ih kamu tuh aneh banget sih"
"mau buatin ga, kalau ga jangan ditahan akunya" ucap Raffi
"ia ia, aku buatin sekarang" ucap gigi
"nah gitu dong" ucap Raffi lalu memeluk gigi

singkat cerita setalh gigi selesai membuat cupcake untuk Raffi mereka pun memakannya berdua, mereka saling suap2an.
malam harinya saat akan hendak tidur Raffi lagi lagi muntah
"aduh yang kamu kenapa sih, kita kedokter aja yuk, atau dokternya aku suruh kesini" ucap gigi
"aku ga papa kok yang, kita tidur aja ya aku lemes banget" ucap Raffi
gigi pun menurutinya.

besok paginya saat gigi bangun dia sudah mendengar suara Raffi yg sedang mundah dikamar mandi
"ya ampun Raffi" ucap gigi langsung menghampiri raffi namun saat gigi akan masuk kekamar mandi Raffi keluar sambil mengelap mulutnya dengan tisu
"kmu udah bangun?" tanya Raffi
"kamu masih mual ya" tanya gigi
"udah enggak kok, oia tadi aku udah siapin sarapan buat kamu tu di atas meja kamu makannya, aku mau kekantor dulu" ucap Raffi yang memang sudah berpakaian rapi
"kamu emangnya bangun jam berapa?"
"jam 6 tadi, udah ya aku kekantor dulu udah kesiangan" ucap Raffi mengecup kening istrinya lalu pergi.
sementara gigi hanya diam terpaku, dia benar2 di buat bingung dengan sikap suaminya belakangan ini.

siang harinya gigi sedang berada di toko kuenya
dia sedang berbincang2 dengan dinar yang kebetulan mampir, mereka terlihat sangat asik mengobrol.
"oia gi gimana kabar suami lo si Raffi?" tanya Dinar
"engga ngerti lah din" jawab gigi
"loh kok gitu? emang raffi kenapa"
"masa nih ya, semalem dia tuh manja banget sampe ga mau kerja, minta cupcake dan harus gue yang ngebuatin" ucap gigi
"tapi itu kan wajar gi, secara lo istrinya kalo dia manja itu wajar kali gi"
"tapi ini beda din, masa satu harian gue dipeluuukin terus, gue ga boleh jauh dari dia"
"wah aneh juga sih, sakit kali dia gi"
"kayanya sih soalnya dia muntah2 terus, tdi pagi jga masih muntah2 tapi badannya ga panas, dia juga bilang ga papa" jelas gigi
"jangan2 lo hamiil giii" ucap Dinar
"gila lo, kalo gue hamil gue yg muntah2 bukan dia"
"eh gi, dulu abang gue juga gitu dia yg muntah2 ngidam yg aneh2 istrinya malah nyantai aja"
"masa sih?".
"coba lo dah telat belom?"
"ia sih, gue udah telat hampir 3inggu"
"ga salah lagi gi lo pasti hamil" ucap dinar
"tapi......."
tiba2 hp gigi berdering "billy?"
"halo bil" ucap gigi
"em gi lo dimana?"
"di toko gue, kenapa?"
"enggak gi, gue cma mau nanya si Raffi lo kasih makan apaan ampe muntah2 gini" tanya billy
"Raffi muntah2?"
"ia, nih tapi dibawa kerumah sakit ga mau"
"ywd gue kesana sekarang" ucap gigi lalu mematikan telfonnya
"Raffi kenapa gi?" tanya dinar
"dia muntah2 lagi, gue tinggal dulu ya" ucap gigi cipika cipiki lalu pergi meninggalkan dinar.

sesampainya dikantor Raffi gigi langsung menuju ruangan Raffi
"yang" panggil gigi lalu menghampiri raffi yang terduduk lemas disofa
"kamu kenapa kesini?" tanya Raffi heran
"kamu kerumah sakit ya, muka kamu pucet loh" ucap Gigi
belum lagi Raffi sempat berbicara gigi kembali berbicara
"bil, tolong suruh pak romi siapin mobil ya, trus  bilang juga ke syahnaz semua kegitan Raffi hari ini ditunda aja" perintah gigi
"ia gi" jwb bily
"yang ga usah"
"udah jgn protes ayo ikut aku" ucap gigi mengajak Raffi

setelah dokter memeriksa Raffi, Gigi langsung menanyakan kondisi suaminya itu
"gimana kondisi suami saya dok?" tanya gigi
"suami ibu baik2 saja, hanya sekarang mungkin dia sedikit lemas karna banyak mengeluarkan cairan" ucap dokter
"ini saya berikan vitamin agar suami ibu bisa kembali fit" ucap dokter
"trimakasih dok" ucap gigi lalu pergi bersama Rafi
"tuh kan aku ga papa yang" ucap Raffi
"apa bener aku hamil" batin gigi
"yaaang kmu kok jdi diem aja sih" tanya Raffi
"yang, kita kesana dulu ya" ucap gigi sambil menunjuk bagian kandungan rumah sakit itu
"mau ngapain?" tanya Raffi heran
"udah ikut aja" ucap gigi

lalu gigi pun memeriksakan dirinya ke dokter kandungan dia ingin memastikan apakan perkataan Dinar itu benar. setelah diperiksa gigi  raffi pun menghadap dokter
"kalian ini pengantin baru ya" tanya dokter
"ia dok" jwb raffi
dokter itu tersenyum
"selamat ya, sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua" ucap dokter itu
"maksudnya?" tanya raffi dan gigi bersamaan
"ya sekarang ibu sedang mengandung"
"istri saya hamil ?" "saya hamil?" ucap mereka lagi bersamaan
"benar" jwb dokter itu
"kamu hamil yang" "aku hamil yang" ucap mereka lagi2 bersamaan lalu raffi langsung memeluk gigi
"kalian berdua ini kompak sekali ya" ucap dokter itu
"maaf dok" ucap Raffi melepaskan pelukannya tapi tetap menggenggam tangan gigi
dokter itu pun menjelskan tentang kehamilan gigi. sedangkan gigi dan raffi terlihat sangat bersemangat mendengarkannya dan mereka juga menanyakan apa2 saja yang harus dilakukan dan tdk boleh dilakukan.


semenjak saat itu raffi semakin perhatian kepada gigi dan mengurangi waktu kerjanya.
setiap bulannya dia rutin mengantarkan gigi untuk periksa kandungan, Raffi selalu berusaha berada disamping gigi, Raffi pun menjadi sangat protectif dia tak mengizinkan gigi untuk melakukan pekerjaan yang membuatnya lelah, mengatur makan gigi, mengingatkan gigi untuk minum susu hamil dan sebagainya.

kini hari yang dinanti tiba
gigi menggenggam erat tangan suaminya sangat erat, sesekali ia menjambak rambut raffi dan kembali menggenggam tangan raffi keringatnya mengucur
membasahi wajahnya. Raffi sedari tadi terus memberikan semangat kepada istrinya hingga beberapa menit kemudian lahirlah seorang bayi laki2 yang sangat tampan, putih dan menggemaskan. setelah bayi itu dibersihkan oleh suster Raffi langsung mengadzani putranya itu kemudian mencium keningnya lalu meletakkannya disisi ibunya.

Bayi laki2 yang lahir tepat ditanggal 17 September bersaman dgn tanggal lahir dan tanggal pernikahan kedua orang tunya itu diberi nama RAFKA ABQARI AHMAD

---BEBERAPA TAHUH KEMUDIAN---

sekarang bayi tampan dan menggemaskan itu telah berubah menjadi seorang remaja yang sangat tampan, wajahnya sangat mirip dengan Raffi. Dia menjadi kebanggaan Raffi dan Gigi satu satunya. dia tumbuh menjadi anak laki2 yang pintar dan selalu membanggakan orang tuanya dalam berbagai hal, dia menyelesaikan S1 dan S2 nya dengan hasil nyaris sempurna dan banyak hal2 lain yang bisa dibanggakan darinya.

"Papa hari ini kekantor ga kekantor lagi ya?" tanya Rafka sambil mengoleskan selai dirotinya
"enggak, papa mau dirumah saja" ucap Raffi
"hmm, kmu kapan mau kenalin Rania (Pacar Rafka) ke mama sama papa" tanya gigi
"ia, katanya mau dikenalin sama papa dan mama" sambung Raffi
"rencananya nanti malam pa, ma biar sekalian makan malem bareng" ucap Rafka
"bagus deh, nanti mama akan siapin semuanya. ya udah lanjutin lagi sarapannya" ucap gigi
setelah selesai sarapan Rafka pun pamit untuk pergi kekantor. dan meninggalkan Raffi dan Gigi berdua dirumah.

Raffi dan gigi terlihat santai duduk di taman belakang rumah mereka
"yang ga kerasa ya sekarang kita udah tua" ucap Raffi
"iaa, sekarang rambut kamu udah ubanan" ucap gigi menyandarkan kepalanya di pundak Raffi
"kamu juga, tapi kmu masih belum berubah, kamu masih tetap cantik" ucap Raffi membelai Rambut gigi
"Rasanya baru kemarin kita nikah sekarang anak kita yang akan nikah" ucap gigi
"ia, nanti kalau Rafka sudah nikah kita bakal jadi opa dan oma"
"ia, dan kita bakal gendong baby lagi" ucap gigi
lalu mereka asik mengingat masa masa saat mereka masih pacaran, menikakah dan mempunyai anak
"yang, kalau nanti aku nyusul papa (sudah meninggal) kamu jaga diri ya" ucap Raffi
"ih kamu apaan sih,  kok jadi ngomongin itu"
"suatu saat nanti memang aku akan menyusul papa, dan aku mau diwaktu terakhir ku nanti kamu dan Rafka tepat berada disamping ku"
tanpa sadar gigi menitihkan air matanya lalu memeluk tubuh Raffi erat
"jangan menangis" ucap Raffi yang tau kalu istrinya itu sedang menangis
"aku ga suka kamu ngomong kaya gitu, aku ga mau jauh dari kamu" ucap gigi
"aku akan selalu disamping mu hingga akhir nafasku nanti" ucap Raffi membalas pelukan gigi

malam harinya
"ass ma pa" sapa Rafka lalu mencium tangan mama papanya diikuti oleh Rania
"malem om tante" sapa Rania
"malem, ayo kita makan malam dulu" ajak gigi
"ya tan" jwb Rania
mereka pun makan malam sambil mengobrol ringan.
setelah selesai makan mereka pun asik mengobrol hingga pukul 10 dan Rafka pun menghantarkan Rania pulang.

Hari pun berganti, hari ini langit terlihat  sangat cerah keluarga kecil Raffi asik bercengkrama diruang keluarga, entah mengapa rasanya hari ini mereka ingin menghabiskan waktu mereka dirumah dan hanya bertiga saja. dari pagi hingga malam datang mereka habiskan bersama.
kini Raffi dan Rafka tengah asik mengobrol di balkon kamar Rafka
"ka, kalau nanti papa pergi jaga mama ya" ucap raffi
"emang papa mau kemana?" tanya Rafka bingung
"suatu saat nanti pasti papa akan pergi ketempat istirahat papa yang terakhir, dan papa mau disaat papa beristirahat disana kamu jaga mama kamu ya"
"papa ngomong apaan sih, ngapain jadi bahas itu"
"ka janji ya, jangan bikin mama kamu nangis, jaga mama kamu"
"paa, tanpa papa minta Rafka akan selalu ngelakuin hal itu, papa kenapa jadi ngomongin hal spt ini sih"
"kaa, papa udah ga muda lagi, mungkin sebentar lagi papa akan nyusul opa munawar, jadi disaat itu datang kamu yang akan gantiin posisi papa sebagai kepala rumah tangga, jagain mama kamu dan walaupun nanti kamu udah nikah jangan tinggalin mama sendiri ya, mama kamu itu ga bisa tinggal sendirian."
"pa, Rafka ga suka papa ngomongin hal ini, Papa dan mama akan selalu bersama Rafka sampai kapan pun"
"ga ka, nanti papa akan ninggalin kalian walaupun papa ga tau itu kapan"
Rafka hanya diam, sekarang perasaannya ga karuan dia merasa ada yang aneh dengan perkataan papanya.
sementara Raffi melihat bintang2 dilangit sana.
tiba2 seseorang datang dan merangkul keduanya dari belakang
"kalian kenapa belum tidur" tanya wanita itu
"mah" ucap Rafka
ya wanita itu adalah gigi, gigi pun kemudian duduk dipangkuan Raffi
"papa kamu udah lama disini? mama ditinggalin gitu aja dikamar" ucap gigi
Raffi hanya tersenyum lalu mengacak acak rambut gigi.
memang tadinya Raffi dan gigi sudah di kamar mereka namun karna Raffi tak bisa tidur dia masuk kekamar Rafka.
"udah ma, dua jam an lah" jawab Rafka
"kamu itu ya" ucap gigi sambil mencubit pipi Raffi
"aaaww sakit maa" ucap Raffi
"biarin, makanya jangan ninggalin mama sendiarian" ucap gigi
"ya ampun, mama sama papa kaya anak ABG lagi pacaran tau" ucap Rafka
"emang ia?" tanya gigi
"ma, lihat deh bintang2 nya bagus ya" ucap Raffi mengalihkan pembicaraan lalu memeluk gigi
"ia, bintangnya bagus" ucap gigi lalu menggenggam tangan Raffi yg kini melingkar di tubuhnya.
"bener2 deh, Rafka uda kaya obat nyamuk disini" ucap Rafka
"kamu ini, udah deh kita tidur yuk, udah malem banget" ucap gigi
"ia, papa juga udah ngntuk" ucap Raffi
"ya udah yuk" ucap gigi lalu bangkit dari duduknya
"kita tidur bertiga ya" ucap Raffi membuat anak dan istrinya langsung menatapnya
"kenapa? kan udah lama kita ga tidur bertiga" ucap Raffi
"paa Rafka udah gede, udah mau nikah lagi masa ia tidur sama papa mama" protes Rafka
"lah emang kenapa? mama walau udah nikah juga kadang tidur sama oma ga papa" ucap gigi
"tapi kan mama cewek" ucap Rafka
"papa juga dulu sering tidur bareng oma, tapi kalau kamu ga mau jga  gapapa, tapi kamu jangan nyesalnya" ucap Raffi lalu berlalu bersama gigi
"ih papa apaan sih dari tadi ngomongnya ngelantur" gerutu Rafka lalu berbaring di kasurnya

"udah yuk tidur" ucap gigi lalu menarik selimutnya
tiba tiba Raffi mengecup keningnya sangaaat lama kemudian mengacak acak rambut istrinya itu
"kamu kenapa?" tanya gigi heran mendapat perlakuan seperti itu
"udah kita tidur ya" ucap Raffi sambil mencium tangan gigi yang sedari tadi dia genggam.
tiba2 terdengar suara ketukan pintu
"maa paa Rafka masuk ya" ucapnya
"ya masuk kaa" sahut gigi
"katanya ga mau tidur bareng papa mama" ucap Raffi begitu melihat Rafka
"ga tau kenapa jdi pengen tidur sama papa" ucap Rafka lalu langsung berbaring disebelah Raffi
"udah sekarang kita tidur ya" ucap gigi
lalu mereka sumua pun terlelap

kini pagi sudah datang dengan, namun langit tak secerah kemarin, langit terlihat mendung bersamaan dengan turunnya rintik hujan.
gigi perlahan membuka matanya duduk lalu merenggangkan tubuhnya, matanya melihat dua orang yang masih tertidur nyenyak mereka berdua terlihat sangat mirip. tak lama Rafka juga mulai membuka matanya
"pagi maa" sapanya lalu duduk dan sedikit merengganggkan tubuhnya
"pagi juga anak mama" ucap gigi sambil tersenyum
"ih papa bangunnya lama" ucap Rafka melihat papanya masih tertidur
"untung kamu ga nurun papa kamu, tapi ka liat deh papa kamu kalau lagi tidur gini kelihatan lucu yaa" ucap gigi lalu membelai wajah Raffi
"ka kok badan papa dingin gini" ucap gigi
"pa, bangun paa udah siang" ucap gigi lagi membangunkan suaminya namun tak ada respon sama sekali
"pa ayo dong bangun, udah siang niiih" ucap Rafka sedikit menarik lengan Raffi
"ka papa kok ga bangun sih, biasanya ga begini" ucap gigi mulai panik
entah mengapa rasanya jantung Rafka tak karuan fikiran2 aneh muncul di otaknya. Rafka memegang pergelangan tangan Raffi mencoba mencari denyut nadinya namun dia tak merasakannya, Rafka mencoba mencari denyut nadi Raffi dilehernya namun hasilnya sama, tak terasa air matanya mulai menetes didekatkannya telinganya tepat di dada Raffi lalu metetakkan kedua jarinya di hidung Raffi. Badannya terasa sangat lemas airmatanya terus mengalir
"ka, kamu kenapa ka, papa kenapa?" tanya gigi
"pa, ayo banguuun paaa" ucap gigi menggoyangkan tubuh Raffi
"ma, pa..pa u dah ga a da" ucap Rafka terbata
"kamu gila ya, papa kamu masih disini" bentak gigi
"paaa ayo bangun, bangun paaa" ucap gigi yang kini juga menangis
Gigi mencoba mengikuti apa yg dilakukan Rafka di mencoba mencari denyut nadi Raffi namun......
"sayaaang ayo banguuun, ini ga mungkin" ucap gigi histeris
"ma, mama tenang" ucap Rafka
"tenang gimana, papa kamu kaaa, papa kamu, cepat panggilin dokter ka cepat kaaa" ucap gigi
"tapi ma, papa udah ga ada" ucap Rafka berusaha tegar
"ga papa kamu cuma tidur , cepat ka panggil dokter" ucap gigi
Rafka pun keluar dari kamar itu lalu memanggil pembantunya
"biiiiii, biibiiiiiiiiii" teriaknya dari dpn pintu kamar Raffi
"ia den" sahut bibi dari bawah
"cepat panggilkan dokter eka, cepaaaat biii" ucap Rafka
"baik den" ucap bibi langsung berlari memanggil dokter eka yang kebetulan adalah tetangga mereka.
"mana ka" tanya gigi yang masih menangis
"ma, mama harus kuat" ucap Rafka
"sayang ayo banguun, bentar lagi dokter datang ayoo bangun" ucap gigi lalu memeluk tubuh Raffi.
tak lama dokter eka pun datang diantarkan oleh bibi
"dok, tolong periksa suami saya, dia gapapakan dok" ucap gigi
"ia bu, akan saya periksa" ucap dokter eka lalu mengambil stetoskopnya kemudian memeriksa Raffi
"maaf bu, pak Raffi sudah meninggal" ucap dokter itu
"ga, dokter bohong, suami saya masih hidup, dia cuma tidur ayo periksa lagi" ucap gigi
"tapi bu, pak Raffi..."
"gaak, Sayang ayo banguuun, buka mata kamuuuu, ayo bangun" ucap gigi histeris
"ma, mama ga boleh gini" ucap Rafka
"ka papa kamu masih hidup kan, papa kmuu"
belum selesai lagi dia bicara tiba tiba gigi jatuh pingsan
"ma, mama! dok tolong mama saya" ucap Rafka
dokter pun segera memeriksa Gigi

gigi tersadar dari pingsannya, dia melihat sekelilingnya sudah ada beberapa orang disana mulai dari mamanya, caca beserta suami dan anaknya serta beberapa orang lainnya
"raffiiiiiii" teriak gigi lalu langsung bangkit dan mencari suaminya
Gigi melihat tubuh suaminya itu sudah ditutup dengan kain
"ga, Raffi masih hidup" ucap gigi histeris
"mbak lo harus tenangin diri lo" ucap caca langsung memeluk kakaknya itu
"ca, Raffi ca" ucap gigi
"mbak harus sabar"
sementara Rafka berusaha untuk tegar walaupun sebenarnya dia tak mampu menahan air matanya.

seminggu berlalu Gigi masih saja terus menangis, tubuh nya terlihat lemas, dia  masih saja tak mau beranjak dari kamarnya dia terus memeluk bantal yang terakhir dipakai suaminya
"ma, udah dong jangan gini terus" ucap Rafka
"ma, mama sayangkan sama papa, kalau mama sayang mama jangan sedih terus" ucap Rafka memeluk gigi
"ka papa kamu" ucap gigi
"papa akan selalu ada ma, dihati mama dan Rafka selamanya" ucap Rafka
"ma tadi pak Pratama memberikan ini, katanya ini titipan dari papa sekitar 2bln lalu" ucap Rafka menunjukkan sebuah cd yang dia pegang dari tadi
"kita liat bareng ya" ucap rafka lagi.
Rafka dan gigi pun melihat isi cd itu

Terlihat disana Raffi sedang duduk menghadap kamera
"hay istri ku tercinta dan anak papa tersayang" ucap Raffi sambil melambaikan tangannya
"istri ku jangan nangis dong, Rafka hapusin air mata mama buat papa ya" ucapnya lagi
  "tu ma, jangan nangis" ucap Rafka lalu menghapus air mata mamanya kemudian merangkul erat mamanya
"makasih ya ka" ucap Raffi
"sayang kamu jangan nangis lagi ya, aku ga suka liat kamu nangis"
"saat kalian liat video ini mungkin papa udah ga ada disamping kalian, tapi kalian ga boleh sedih"
"papa udah ga muda lagi, ini sudah waktunya papa ninggalin kalian jaga diri kaliannya dan kamu Rafka jaga mama kamu ya jangan biarin mama kamu nangis lagi"
"Sayang maafin aku ya, selama hidup ku aku belum bisa jadi suami yang sempurna buat kamu, aku belum bisa mewujudkan semua keinginan kamu, tapi kmu harus tau satu hal aku sangat mencintai kamu Nagita Slavinna, aku mencintai kamu hingga akhir nafasku"
"Rafka Abqari Ahmad putra papa satu satunya, kebanggaan papa mungkin saat ini kamu udah jadi suami atau mungkin kamu udah menjadi ayah untuk anak kamu. tetaplah jadi Rafka nya papa dan mama jaga mama kamu, jangan biarin dia nangis gara2 kmu dan jangan pernah tinggalin mama kamu ya, papa sangat menyanyangi kamu"
"sekarang kita lihat semua kenangan kita ya"
kemudian terlihat disaat Raffi melamar gigi, mengucapkan ijab qabul, resepsi pernikahan mereka, liburan mereka kebeberapa negara sebelum gigi melahirkan, acara empat bulanan, acara tujuh bulanan.
"sayang lihat waktu kamu mempertaruhkan nyawa kamu untuk melahirkan anak kita Rafka"
video saat gigi melahirkan dimana dia benar2 berjuang antara hidup dan mati
"mama kamu hebat kan ka"
lalu terlihat video saat acara aqiqahan Rafka, saat Rafka belajar berjalan, saat Rafka mulai bisa memanggil mama dan papa, saat Rafka belajar membaca dan menulis, saat Rafka mulai masuk sekolah, ikut perlombaan, ikut karate, dan video video kebersamaan lainnya termasuk saat Rafka diwisuda dan menjadi mahasiswa terbaik di kampusnya.
"semua udah kita lalui bersama, terimakasih ya Istriku, kamu selalu ada untuk aku disaat aku susah maupun senang, trimakasih sudah memberikan aku seorang anak yang sangat tampan dan selalu membanggakan ku. Rafka makasih ya sayang udah jadi anak kesayangan papa jadi anak kebanggaan papa, sejak kamu lahir didunia ini kamu itu penyemangat papa untuk hidup, kamu alasan papa untuk tetap kuat. sekarang lanjutkan lah hidup kalian walau tanpa ada papa disamping kalian tapi percayalah papa selalu dihati kalian"
"makasih Istri dan anakku sudah selalu bersama papa hingga akhir nafas papa. kalian jangan sedih lagi ya. papa sudah tenang di tempat peristirhattan papa, jangan lupa main kesana ya, doain papa"
"Dada 👋👋muaaaach 😘"
Video itu diakhiri dengan rangkaian foto2 kebersamaan mereka

saat melihat video itu tanpa disadari gigi dan Rafka sama2 menitihkan air mata
Rafka segera menghapus air matanya kemudian menghapus air mta mamanya
"mama dengerkan, papa ga suka liat mama nangis" ucap Rafka
"ia mama ga akan sedih lagi" ucap gigi lalu memeluk Rafka

Mereka pun mulai menata hari - hari mereka tanpa kehadiran Raffi di sisi mereka.

--SELESAI--

INI CUMA FIKTIF!!
jangan dianggap serius.
Maaf bila cerbung ini tidak berkenan dengan kalian.
Trimakasih sudah membaca cerbung Lia dari awal hingga akhir.
Untuk komentar, kritik dan saran
silahkan ke akun twitter aku
@Liaa_RA17

Sabtu, 06 Juni 2015

HINGGA AKHIR NAFASKU Part 6

sesampainya dirumah gigi raffi langsung mengetuk pintunya namun kini Raffi tak lagi ditemani irwan karna irwan sudah memiliki janji dengan orang lain
"gi, gigi giiii" panggil RAffi sambil mengetuk pintu rumah gigi
namun tak ada yang membukakan pintu untuk Raffi
"gi buka pintunya gi aku mohon, aku bisa jelasin semuanya gi" teriak Raffi
"gi, gigiiiiiiii"
"gi semua itu cuma salah faham gii" teriak Raffi

sementara gigi dikamarnya masih saja menangis ditemani oleh mama rita
"gi, cobalah temui Raffi, mungkin dia benar ini semua cuma salah faham" ucap mama sambil mengelus Rambut gigi
"ga ma, gigi ga mau"
"tapi sayang masalah ini ga akan selesai kalau kamu begini terus" nasehat mama
"gigi ga mau ketemu Raffi mah, sekarang gigi cuma mau sama mama" ucap gigi memeluk mamanya sambil menangis
"baiklah kalau itu keinginan kamu, tapi berhentilah menangis" ucap mama rita.

"gi, aku ga akan pergi dari sini sebelum kamu dengerin penjelasan aku, aku tau kamu denger aku gi" teriak Raffi lagi
"gi, gigiiiiii"
suara Raffi makin membuat gigi menangis disatu sisi dia masih merasakan sakit hati karna perbuatan Raffi dan disisi lain gigi benar2 tak tega dengan Raffi.
setelah sedari tadi menangis gigi kini tertidur dipangkuan mamanya sementara RAffi masih saja berharap gigi keluar dan mau mendengarkan penjelasannya
namun sayang hingga pagi hari gigi tak kunjung keluar walaupun begitu Raffi masih juga tak beranjak dari depan rumah gigi penampilannya kacau, kantung matanyanya terlihat jelas, wajahnya sangat lelah namun Raffi seakan tak memperdulikannya yang ada di fikirannya adalah nagita, nagita dan nagita
tiba2 mama rita membuka pintu, mendengar suara pintu Raffi langsung menghampiri mama rita
"Raffi kamu masih disini?" ucap mama rita
"tan tolong izinin Raffi ketemu sama gigi, Raffi harus ngejelasin ini semua ke gigi tan, Raffi mohon tan" ucap Raffi memohon
"Raffi tante percaya kamu ga akan mungkin ngelakuin itu, tapi gigi belum mau ketemu sama kamu" ucap mama rita
"tante tolong tan, tolong bujukin gigi tan. Raffi punya bukti kalau semua ini cuma salah faham, Raffi mohon tan" ucap Raffi
"baik lah, akan tante usahakan, sekarang kamu masuk dulu"
"makasih tan, makasiiih" ucap Raffi lalu mengikuti mama rita masuk
"kamu duduk dulu, biar tante panggilkan gigi" ucap mama rita kemudian menaiki anak tangga menuju kamar gigi.
bukannya duduk Raffi malah mondar mandir ga jelas
"giii" panggil mama
"ia ma" jwb gigi
"kamu ikut mama kebawah sebentar ya"
"mau ngapain ma, Raffi masih dibawahya"
"emm, udah ayo ikut mama aja" ucap mama
gigi pun mengikuti mamanya sampai dibawah gigi melihat Raffi sedang mondar mandir
"maaa" ucap gigi
"bicarakannlah dengan baik2" ucap mama rita
"gigi, aku mohon dengerin aku" ucap Raffi menghampiri gigi
"ga, aku ga mau" ucap gigi berusaha kembali ke atas
namun dengan cepat Raffi menahan tangan gigi
"gi aku mohon dengerin aku dulu gi, aku mohon gi" ucap Raffi
"aku, aku ga mau" ucap gigi kembli menangis
"gigi, cobalah dengarkan penjelasan Raffi dulu" ucap mama
"tapi maa"
"gi aku mohon, aku janji setelah aku jelasin semuanya aku akan ikuti semua kemauan kamu sekalipun kamu minta aku untuk pergi dari hidup kamu" ucap Raffi
akhirnya gigi pun mau mendengarkan Raffi sedangkan mama rita lebih memilih pergi agar raffi dan gigi bisa menyelesaikan masalahnya.
Raffi pun segera memutarkan rekaman cctv yang dari semalam berada di tangannya.
melihat rekaman itu gigi kembali menangis namun dengan cepat Raffi menghapus air mata gigi
"gi, aku mohon maafin aku, aku bener2 ga tau putri akan ngelakuin itu. aku mohon percayalah" ucap Raffi berlutut didepan gigi
gigi langsung memeluk Raffi
"harusnya aku yang minta maaf, seharusnya aku ngedengerin penjelasan kamu dari semalam" ucap gigi menangis
"berhentilah menangis, yang penting kamu udah tau semuanya" ucap Rafgi mengelus rambut gigi kemudian merenggangkan pelukannya dan kembali menghapus airmata gigi
"emm, fii" ucap gigi
"ya, kmu ga akan minta aku untuk pergi dari kamu kan" ucap Raffi
gigi menggelengkan kepalanya
"bagus deh, jadi kamu mau ngomong apa" tanya Raffi
"kamu belum mandi ya" ucap gigi
"emm belom, aku bau ya" ucap Raffi sambil mencium badannya sendiri
gigi pun mengangguk
"abisnya kamu ga bukain pintu buat aku"
"jdi kmu semalaman diluar?"
"ia"
"maafin aku ya, gara2 akuu…"
"ga ini semua bukan salah kamu, ini semua keinginan aku untuk nungguin kamu" ucap Raffi
"kamu tunggu disini" ucap gigi lalu pergi begitu saja
"gi, kamu mau kemana" tanya Raffi bingung
tak lama gigi kembali dengan membawa kotak p3k, dan air
"kamu mau ngapain" tanya Raffi
"kamu sini deket aku" ucap gigi
kemudian Gigi membersihkan wajah Raffi dengan kain basah kemudian mengobati lebam2 di wajah Raffi
"pasti kamu belum obatin dari semalam, maaf ini semua gara2 aku" ucap gigi
"makasih, udah seperhatian ini sama aku, semua ini ga ada apa2nya dibandingkan rasa sakit aku kalau aku sampai kehilangan kamu" ucap Raffi
"udah, kamu diem dulu" ucap gigi.
setelah selesai gigi menyuapkan roti yang diantar bi siti ke Raffi
"kamu jga pasti belum makan dari semalam, sekarang kamu makan dulu, aku ga mau kamu sakit" ucap gigi
raffi pun memakannya.

sementara itu kini irwan janjian dengan dinar dan billy.
irwan pun menjelaskan semuanya ke dinar dan billy walaupun mereka sempat tak percaya namun irwan berhasil meyakinkan mereka
"astaga, ga seharusnya gue mukulin Raffi" ucap billy menyesal
sementara Dinar hanya terdiam namun tiba2 saja dia bangkit dri duduknya
"ada hal yang harus gue urus" ucap dinar lalu berlalu begitu saja
"si dinar kenapa?" tanya irwan
"mana gue tau, tapi sekarang apa Raffi udah ngejelasinnya ke Gigi?' tanya Billy
"gue ga tau bil, gue harap sih udah" ucap irwan

sekarang Raffi telah selesai mandi dan untungnya dia membawa baju dimobilnya
"sekarang peluk aku lagi mau ga? aku udah wangi" ucap Raffi membentangkan tangannya
"ih apaan sih, malu tau ada mama" ucap gigi
"mana, ga ada kok" ucap Raffi langsung memeluk gigi
"ya ampun, semalam aja nangis nangisan, sekarang main peluk2kan aja" ucap mama rita tiba2 dtng
"eh tante maaf tan" ucap Raffi nyengir lalu melepaskan pelukannya
"ia, sekarang udah jelaskan semuanya" ucap mama
Raffi dan gigi hanya mengangguk
"ini sebagai pembelajaran untuk kalian berdua, lain kali kalau ada masalah langsung diomongin baik2 jangan sampai berlarut2" ucap mama rita
"ia ma" jwb gigi
"yaudah kalau gitu mama kekamar dulu" ucap mama lalu pergi
"yang aku pulang dulu ya" ucap Raffi
"ia, tapi kamu yakin mau nyetir sendiri?"
"ia emang kenapa"
"kamu ga liat kantung mata kamu ini, kamu belum tidur semalam, aku ga ngizinin kamu nyetir sendirian"
"tapi aku harus pulang"
"kamu diantar supir aku, kalau ga, ga usah pulang"
"iya udah, terserah kamu aja"
akhirnya Raffi pun pulang diantar supir gigi dan benar saja sepanjang perjalanan Raffi tertidur.

Dinar rupanya menuju kantor Raffi
"mana ruangan putri sekretaris pak Raffi" tanya dinar kesalah satu pegawain
"disitu bu" jwbnya sambil menunjukkan ruangan putri
"oh, makasih ya" ucap dinar langsung menuju ruangan putri
"eh, din ngapain disini" tanya putri
Plaaaak tamparan dinar mendarat di pipi kiri putri
"aaaw apaan sih lo din" ucap putri memegang pipinya
Plaaaak kini tamparan dinar mengenai pipi kanan dinar
"dinar, maksud lo apaan sih" bentak putri
"lo pantes nerima itu, karna lo udah ngerusak hubungan raffi gigi dan satunya lagi karna lo hampir ngerusak persahabatan gue dan Raffi" ucap dinar.
"tpi yg ngelakuin itu semua Raffi, bukan gue" ucap Putri membela diri
dan sekali lagi
Plaaak tamparan itu didapatkan putri
"itu karna lo udah ngefitnah Raffi, gue ga nyangka lo selicik itu put, kami udah tau yang sebenarnya jadi jangan pernah coba2 ngefinah Raffi lagi" ucap dinar kemudian pergi meninggalkan putri
"minggir minggir" ucap dinar saat keluar karna pegawai lain dari tadi asik melihati mereka
"sialan liat aja lo, gue bakal balas semuanya" ucap putri

setelah dari kantor Raffi dinar bergegas menuju rumah gigi
"gi, lo udah tau semua kan" tanya dinar
"ya din, gue udah tau semuanya" jwb gigi
"syukurlah, gue uda beri pelajaran tu si putri" ucap dinar
"maksudnya?"
"udah lo ga perlu tau" ucap dinar

keesokkan harinya
Raffi mulai bekerja kembali tentunya dengan tumpukan berkas2 yang kini bertambah banyak tapi sebelum raffi mulai bekerja Raffi memanggil Putri keruangannya.
Putri pun duduk di depan Raffi
"ada apa fi" tanya putri
"ini surat pemecatan kamu, dan sekrang silahkan keluar dari rungan saya" ucap Raffi
"tpi fi, kmu ga bisa mecat aku gitu aja" ucap putri tak terima
"silahkan keluar" ucap Raffi lagi
"fi, kmu ga bisa………"
"aku bisa, sekarang keluar atau aku panggil satpam" ucap Raffi
"gak fi, kamu ga boleh mecat aku" ucap putri lagi
Raffi mengangkat gagang tlpnya
"panggil satpam keruangan saya sekarang" ucap Raffi lalu kembali menaruh gagang tlp itu
"fi kamu ga punya alasan buat mecat aku "
satpam pun datang
"permisi pak"
"bawa dia keluar dari ruangan saya, dan pastikan dia tak kembali masuk keruangan ini" ucap Raffi
satpam itu pun langsung membawa putri keluar dari ruangan Raffi.
Dan saat ini raffi sudah mempunyai pengganti putri sebagai sekretarisnya dan juga pengganti pak alex sebagai wakilnya.

saat jam makan siang billy masuk keruangan Raffi
"fii" panggil Billy
"ya, kenapa bil" tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas dimejanya
"fi gue minta maaf soal yang kemaren" ucap billy
Raffi menatap kearah billy
"lo santai aja, gue ga marah kok" ucap Raffi
"tapi fi.."
"tpi gue bakal marah kalo lo terus terusan minta maaf" ucap Raffi
"ya udah terserah lo, eh fi tu sekretaris baru lo, cepat amat lo nyarinya"
"gue sebenarnya udah mau mecat putri dari lama, cuma gue harus cari gantinya, karna gue udah ada gantinya gue langsung pecat putri dan langsung nyuruh dia kerja" ucap Raffi
"ooh, bagus kalo gitu, eh tapi fi lo gak laper, udah jam makan siang nih" ucap billy
tiba2 thandphone Raffi berdering dan Raffi langsung mengangkatnya
"ya sayaang" ucap Raffi
"eemm, iya nih aku lagi makan"
"beneran, kalo ga percaya tanya billy nih aku makan bareng billy" raffi mengedipkan matanya memberikan kode ke billy
"ya ya gi ini gue lagi makan ma Raffi ditraktir lagi" ucap billy
"tuh kan, yaudah kamu jangan lupa makan juga ya sayang"
"ia, bye sayaaang muach" ucap Raffi mengakhiri pembicaraan
"karna lo udah nyuruh gue bohong, lo harus tanggung jawab atas kebohongan gue" ucap billy
"ia ia, gue yang traktir" ucap Raffi
kemudian mereka pun pergi untuk makan siang

Hari demi hari mereka lewati.
Gigi, mamanya dan mama amy disibukkan gengan persiapan pernikahan Raffi gigi. Disaat gigi sibuk mempersiapkan pernikahan mereka Raffi masih sja sibuk dengan pekerjaannnya dikantor.
siang ini mereka akan  melakukan fitting pertama baju pengantin namun hingga jam setengah dua Raffi belum menunjukkan batang hidungnya.
"duh si Raffi kemana sih" gerutu Gigi
"udalah gi palingan bentar lagi dia datang" ucap Dinar
"tapi din kan kemaren janjinya jam 1 ini udah setengah dua  gue ga enak sama lo, harusnya lo kan bisa ngerjain yang lain" ucap gigi
"yaelah gi, sama gue ini udalah santai aja, nah dari pada lo ngegerutu sendiri mending lo yang fitting duluan" ucap dinar
"yaudah deh" ucap gigi
kemudian gigi pun mencoba baju pengantinnya dan memang sudah cukup pas hanya beberapa saja yg harus dibenahi agar lebih sempurna.
saat gigi selesai mencoba baju pengantinnya Raffi baru datang dengan helm dikepalanya dan nafas terengah engah.
"maaf ya, aku telat" ucap Raffi menghampiri gigi
gigi hanya diam lalu duduk di kursi tak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Raffi yang sadar gigi marah langsung menghampiri gigi dan duduk didepan gigi
"maafin aku ya, tadi macet banget beneran deh" ucap Raffi
namun gigi hanya diam dan tak menggubris perkataan Raffi
"gi aku beneran minta maaf ya sayang, jangan ngambek ya" ucap Raffi
gigi melihat kearah raffi. niat ingin memarahi Raffi luntur seketika begitu melihat raffi dengan helm dikepalanya, keringat yang mengucur di wajahnya dan wajah yang kelihatan sangat lelah.
"gi jgan diam aja dong aku minta maaf" ucap Raffi lagi
gigi hanya diam kemudian melepaskan helm dikepala Raffi kemudian mengelap keringat Raffi dan memberikan minumnya untuk Raffi.
Raffi hanya diam kebingungan lalu meminum minuman yang diberikan oleh gigi
"kamu udah ga marah kan" ucap Raffi
"udah sana cobain bajunya, dinar udah nungguin" ucap gigi
Raffi pun menurutinya.
setelah selesai Raffi kembali menghampiri gigi dan kini duduk disamping gigi
"yang" panggil Raffi
"emmm"
"yang kamu masih marah?"
"enggak"
"kalo enggak kenapa diam doang jangan diam doang dong, ngomong apa kek gitu" ucap Raffi
melihat dinar akan menghampiri mereka gigi segera bangkit dari duduknya lalu sedikit menghampiri dinar
"makasih ya din, kalo gitu gue balik dulu" ucap gigi lal cipika cipiki dengan dinar
Raffi dibuat tambah bingung melihat tingkah gigi lalu ikut pamit dengan dinar dan menyusul gigi.
"gi tunggu dulu dong, aku anter kamu pulang ya" ucap Raffi menahan gigi
"mana mobilnya" tanya gigi
Raffi melihat mobilnya yang baru datang
"itu ayo" ucap Raffi kemudian gigi pun mengikutinya
"pak, bapak pulang aja. biar saya yg bawa mobilnya, ni ongkos  untuk bapak pulang" ucap Raffi kesupirnya karna memang pada saat ke butik dinar Raffi menggunakan ojek.
diperjalanan gigi hanya diam dan Raffi yang menyadari akan hal itu berusaha untuk kembali meminta maaf
"yang jangan diam aja dong" ucap Raffi
"yang aku bener2 minta maaf, tdi itu aku lupa" ucap Raffi jujur.
"tapi tadikan aku uda nelfon kamu dari jam 12, trus kenapa ga diangkat" ucap gigi
"tdi aku masih banyak kerjaan gi, maafin aku ya" ucap Raffi lagi
"seharusnya kamu ingat, masa untuk pernikahan kamu aja kamu ga ingat" ucap gigi
"ya maaf yang, aku janji ini terakhir kali aku lupa kaya gini, beneran deh kamu jangan marah lagi ya, maafin aku" ucap Raffi
"ia ia" ucap gigi
"kalo dimaafin senyum dong masa masih cemberut gitu, senyum dong" ucap Raffi
gigi pun meberikan senyuman manisnya
"nah gitu dong" ucap Raffi lali mengacak acak Rambut gigi.
"nah udah sampe, kmu istirahat ya" ucap Raffi begitu didepan rumah Gigi
"kamu ga mampir dulu" tawar gigi
"enggak, aku mau balik lagi kekantor" jwb Raffi
gigi melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 4
"ini udah jam pulang kerja Raffi" ucap gigi
"bentar aja" ucap gigi
"terserah kamu deh, yaudah kamu hati2 ya" ucap gigi lalu akan membuka pintu mobilnya.
Baru saja gigi akan keluar terdengar suara perut Raffi yang membuatnya langsung melihat kearah Raffi dan menutup pintunya lagi
"loh kenapa?" tanya Raffi heran
"kmu udah makan siang?" tanya gigi
"haaa em u udah kok, udah" jawab Raffi gugup
"bohooong" ucap gigi
"bee beneran kok, aku udah makan" ucap Raffi
"trus kenapa tadi perutnya bunyi"
"em eng enggak kok, kamu salah denger" elak Raffi
"ga aku ga salah denger, kmu bohong" ucap gigi lalu memanyunkan bibirnya
"ia ia, aku belom makan" ucap Raffi
"udah jangan manyun gitu lagi dong" ucap Raffi mencolek dagu gigi
"kamu itu jangan terlalu mikirin pekerjaan kamu doang, kesehatan kamu itu lebih penting Raffi" ucap gigi
"ia ia maafin aku ya, jangan marah dong" bujuk Raffi
namun gigi hanya diam
"ia nanti habis dari kantor aku makan deh" ucap Raffi
mendengar perkataan Raffi tadi membuat gigi membulatkan matanya
"kmu bilang abis dari kantor?" ucap gigi dengan nada tinggi
"ia, abis dari kantor" jwb Raffi santai
"kalau kamu pulang dari kantor itu namanya kmu makan malam Raffi" ucap gigi
"ya abis mau gimana lagi aku harus kekantor dulu, abis itu baru deh aku makan" ucap Raffi kemudian menoleh kearah gigi namun gigi sudah tak ada
"lah si gigi ilang kemna?" ucap Raffi sendiri
"ayo turun" ucap gigi yang ternyata sudah berada diluar mobil dan menarik Raffi keluar dari mobilnya
"lo yang, mau kemana aku harus kekantor dulu" ucap Raffi bingung
"udah kamu harus ikut aku" ucap gigi terus menarik Raffi masuk kedalam rumahnya

"eh udah pulang, gimana fittingnya" tanya mama rita begitu melihat raffi gigi
"lancar kok ma" ucap gigi lalu menyalam tangan mamanya diikuti oleh Raffi
"tapi Raffinya kok ditarik2 gitu sih gi" tanya mama rita
"mama masak kan ma?" tanya gigi
"ia" jwb mama
gigi pun langsung menarik Raffi kemeja makan kemudin menyuruhnya duduk dan segera mengambilkan makanan untuk Raffi
"sekarang makan sampe habis" ucap gigi lalu duduk disamping Raffi
"kalian kenapa sih" tanya mama rita heran
"ini mah, dia belom makan dari tadi siang, trus mau balik ke kantor lagi" jls gigi
mama rita hanya menggelengkan kepalanya lalu pergi meninggalkan mereka berdua
"udah makan, tunggu apa lagi" ucap gigi melihat Raffi yang belum memakan makanannya
"tapi gi, aku harus kekantor" ucap Raffi
"Raffiiiii ayo makan" ucap gigi
tak ingin melihat calonn istrinya itu marah lagi Raffi pun memakan makanannya
"udah" ucap Raffi
"apanya yang udah, kamu baru makan 4 suap, ayo makan lagi" ucap gigi
"tdi udah lebih dari 4 suap yang" ucap Raffi
"bohong, ayo makan lagi" ucap gigi
namun Raffi hanya diam, melihat Raffi begitu gigi pun mengambil piring Raffi kemudian menyuapkan makanannya kemulut Raffi
"aaaa" ucap gigi membuka mulutnya
"tapi yang aku udah kenyang"
"enggak ayo buka mulutnya" paksa gigi
akhirnya Raffi pun mengalah, gigi menyuapi Raffi hingga habis
"selesai" ucap gigi kemudiam memberikan minum untuk Raffi. Raffi pun meminumnya
Raffi melihat jam tangannya yg menunjukkan pukul 5 kemudian dia menghela nafas panjang lalu menatap gigi yang tersenyum
"aku balik ya, aku mau kekantor dulu" ucap Raffi
"ga usah, kan bisa besok mending kamu pulang trus istirahat, aku ga mau kamu sakit karna kelelahan" ucap gigi
"tapi yaang"
gigi langsung memasang wajah BT dan memalingkan wajahnya dari Raffi
"ia ia aku ga kekantor, aku langsung pulang" ucap Raffi seakan mengerti raut wajah gigi
"ya udah hati2 ya" ucap gigi tersenyum manis.
Raffi pun akhirnya pulang.

seminggu setelah itu kini Raffi harus pergi ke Bali untuk mengurus perusahaannya disana selama 5hari.
"kamu disana jangan terlalu capek, dan satu lagi jangan lupa makan" ucap gigi
"siap bos" ucap Raffi memberi hormat
"ih Raffi apaan sih" ucap gigi
"yaudah kamu jga kalo ga ada aku jgn macem2 ya apalagi kalo kamu sampe selingkuh!" ucap Raffi
"apaan sih, yang ada kmu tu yang selingkuh" ucap gigi
"emang aku mau selingkuh sama siapa coba" tanya Raffi mencolek dagu gigi
tiba2 sekretaris Rafi datang untuk memberitahu pesawat akan segera berangkat
"permisi pak, sebentar lagi pesawat akan segera berangkat" ucapnya
selama dia berbicara gigi memandanginya dari atas hingga bawah. gigi memang baru pertama kali bertemu dengan sekretaris Raffi ini.
"ia, kamu duluan nanti saya menyusul" ucap Raffi
kemudian sekretaris Raffi pun itu pergi.
"ih kamu ngapain sih liatinnya gitu banget" ucap Raffi
"ga papa, cantik ya" ucap gigi
"cantikkan kamu lah, kenapa sih cemburu ya"
"enggak, yaudah kmu pergi sana gih"
"yakin ga cemburu, aku cuma pergi berdua loh sama dia" goda Raffi
"ya udah pergi sana, selamat berdua duaan ya" ucap gigi
Raffi langsung memeluk gigi
"jangan gitu dong ngomongnya, aku kan bakal ketemu client disana jadi ga cuma berdua doang kok" jelas Raffi tanpa melepaskan pelukannya
"ia ia, udah sana nanti ketinggalan pesawat lagi" ucap gigi sedikit merenggangkan pelukannya
"yaudah, aku berangkat ya" ucap Raffi lalu mengecup kening gigi.
"hati2 ya" ucap gigi
Raffi pun pergi, setelah Raffi masuk gigi pun segera bergegs ke tokonya

4hari sudah berlalu dan besok malam Raffi akan kembali kejakarta.
gigi akan segera pulang kerumah karna hari sudah sore namun saat akan pulang salah satu karyawannya memberikan sesuatu ke gigi
"apa ini, dari siapa" tanya gigi
"kurang tau bu, tadi kurir yang mengantarkannya" jawab pegawai itu
"oh ya sudah, trimakaauh" ucap gigi lalu pergi menuju mobilnya.
sesampainya dirumah gigi langsung mandi kemudian makan bersama dengan keluarganya setelah selesai makan mereka berbincang bincang
"gi gimana persiapan pernikahan kamu?" tanya papa
"udah 60% persen pa" jwb gigi
"bagus lah, kamu jangan terlalu capek mengurusnya" ucap papa
"ia pa, lagian gigi juga seneng ngelakuinnya" ucap gigi
" oia kapan kalian akan membeli cincin pernikahannya" tanya papa
"kata Raffi sih nanti pa, setelah dia balik dari Bali" jwb gigi
"mbak gue ikut ya" ucap caca
"nah lo ngapain ikut, emang lo make cincin jga gitu" ucap gigi
"enggak sih, tapi…"
"yaudah lo diem nyantai aja dirumah, ngapain ikut" potong gigi
"udah jangan ribut" ucap mama
mereka pun asik berbincang hingga pukul 10 malam.
"mah pa, gigi kekamarnya udah ngantuk" ucap gigi.
"ia, mama sama papa juga mau istirahat, kamu jga cha istirahat" ucap mama
lalu mereka kembali kekamar masing2
saat akan tidur gigi teringat akan kiriman yang belum sempat dia buka tadi
gigi pun mengambilnya kemudian membukanya didalammya terdapat tulisan
"DIA TAK AKAN PERNAH MENJADI MILIK MU!!!"
"apaan sih maksudnya" gerutu gigi
lalu gigi mendapatkan beberapa foto disana. ya itu adalah foto Raffi bersama beberapa orang perempuan yang seperti berada di sebuah club malam.
"ga ini ga mungkin Raffi" batin gigi
gigi pun segera mengambil handphonenya kemudian menelfon Raffi namun hingga berulang kali Raffi tak kunjung mengangkatnya. gigi benar2 bingung namun untuk kali ini dia tak ingin berburuk sangka terhadap Raffi dia berusa tenang hingga Raffi pulang nanti dan memberikan penjelasannya tentang foto2 itu walaupun sebenarnya gigi sangat takut bila foto2 itu benar. dan untuk kali ini juga gigi tak ingin memberitahu siapapun karna dia takut kalau nantinya orang yg diberitahunya menjadi emosi dan bisa jadi kejadian dulu terulang lagi billy memukuli Raffi hingga babak belur

keesokkan sore setelah selesai dari tokonya gigi berniat segera ke bandara untuk menjemput Raffi walaupun Raffi melarangnya namun baru saja keluar dari tokonya seseorang datang menghampirinya.
"hay gi" sapa orang itu
"Andre" ucap gigi kaget
ya andre adalah mantan gigi sebelum Raffi kembali ke Indonesia
"apa kabar gi" tanyanya
"baik baik kok" jawab gigi
"eh gi lo ada waktu ga, gue pengen ngobrol sama lo" ucap Andre
"tpi ndre gue mau...."
"udalah kali ini aja, sebentar doang kok" potong andre
gigi hanya diam ntah apa yang ada difikirannya.
"kalo diem berarti ia" ucap Andre lalu mengajak gigi ke mobilnya.
sementara Raffi baru saja sampai dijakarta dan dia langsung menelfon gigi namun gigi tak mengangkat telfonnya. karna gigi tak mengangkatnya Raffi mencoba menghubungi caca berharap gigi sedang berada dirumah
"halo ca, mbak gigi dirumah?" tanya Raffi
"enggak kak, mbak gigi belom pulang" jawab cava
"oh makasih ya" ucap Raffi lalu mematikan telfonnya
Raffi pun bergegas le toko gigi, berharap gigi masih disana
"bu Nagita dimana?" tanya Raffi pada salah satu karyawan
"buk nagita sudah pulang pak" jawabnya
"sudah lama?"
"sudah lumayan lama pak, tdi ibu Nagita pulang bersama pak Andre" jelas karyawan itu
"andre? ya sudah trima kasih" ucap Raffi lalu kembali kemobilnya.
"andre? kaya pernah denger tapi siapa ya" batin raffi
lalu Raffi mencoba mencari keberadaan gigi lewat GPS dan Raffi pun langsung menuju dimana gigi berada.

sesampainya disebuah restoran Andre langsung mangajak gigi masuk dan langsung memesan makanan
"emm gi mau pesen apa?" tanya Andre
"gue pesen jus juruk aja" ucap gigi
"makanannya enggak?"
"enggak"
Andre pun memesan kan makanan untuk gigi.
gigi akan mengambilnya hpnya ditas dia ingin memastikan apakan Raffi sudah di jakarta atau belum. namun belum lagi gigi mengambilnya Andre menggenggam tangan gigi
"andre apaan sih" ucap gigi melepaskan genggaman andre
"maaf gi, maaf kalo kamu ga suka" ucap Andre
"tapi gi aku ingin bilang kekamu kalau aku mau balikan sama kamu" ucap andre lagi
mendengar perkataan andre itu membuat gigi kaget bukan main
"tapi aku ga bisa, aku..."
"gi aku mohon kita kan putus dgn baik2 aku yakin pasti kita bisa memulainya dari awal" potong Andre kembali menggenggam tangan gigi
"maaf andre aku ga bisa, aku akan..."
"kamu pasti bisa gi, kita bisa nyatuin cinta kita lagi aku yakin gi" potong andre lagi dan kini tambah mengeratkan genggamannya dikedua tangan gigi
Raffi yang baru saja sampai dan langsung melihat itu terlihat sangat emosi dan langsung menghampiri gigi dan andre

BERSAMBUNG.....



Cerita ini hanya fiktif belaka,
Untuk komentar, kritik dan saran
silahkan ke akun twitter aku
@Liaa_RA17
thanks for reading......

Kamis, 04 Juni 2015

HINGGA AKHIR NAFASKU Part 5

dokter pun segera memeriksa raffi dan benar saja botol infus yang berikan keraffi sudah bercampur dengan sesuatu
"segera ganti botol infusnya" ucap dokter itu pada susternya
"segera ambil darah pasien, dan lakukan pemeriksaan" tambahnya
melihat hal itu mama amy terus menangis
"dok anak saya kenapa dok, anak saya gapapa kan dok" ucap mama amy panik
"ma tenang dulu" ucap papa.
"maaf bapak dan ibu silahkan tunggu diluar, agar dokter dapat konsentrasi menangani pasien" pinta salah satu suster
papa dan mama pun mengikuti ucapan suster untuk keluar ruangan
"pa, Raffi gimana pa" ucap mama
"sabar ma kita tunggu dokter memeriksa Raffi " ucap papa
salah satu suster keluar membawa sample darah raffi menuju labolaturium
mama amy terus menangis.
"mama tenang, Raffi akan baik2 saja" ucap papa menenangkan, papa mengajak mama duduk agar bisa sedikit tenang.
"mama tunggu disini, ada hal yg harus papa lakukan" ucap papa melinggalkan mama amy yang masih menangis
papa munawar meminta pihak rumah sakit mengechek kamera sisi tv untuk dapat melihat siapa dokter gadungan itu dan menelfon anak buahnya untuk mencari dokter gadungan itu dan juga menjaga ruangan Raffi

sementara gigi yang baru saja sampai rumah merasa ada yang aneh dengan dirinya, dia terus memikirkan Raffi
"gi kamu kenapa?" tanya mama rita yang melihat gigi
"ga tau ma, gigi kepikiran Raffi terus" ucap gigi
"mungkin kamu cuma kelelahan kan kamu dari kemarin ngejagain Raffi dirumah sakit" ucap mama
"tapi ini beda ma, gigi takut ada sesuatu dengan Raffi ma" ucap gigi
"yaudah kamu coba tlp dama atau yang lainnya yang ada disana" saran mama
"ga ada ma, mereka ga ada disana. yng ngejagain Raffi cuma mama papanya" jelas gigi
"udalah gi, sekarang mending kamu istirahat saja" ucap mama
gigu pun menuruti mamanya, dia masuk kekamarnya lalu mandi. setelah selesai perasaan gigi masih saja tak enak akhirnya dia memutuskan untuk kembali pergi kerumah sakit.

sementara itu mama amy dan papa munawar masih menunggu dokter keluar dari ruangan
begitu dokter keluar dari ruangan mama dan papa langsung menghampirinya
"dok bagaimana keadaan anak saya" tanya mama amy
"saya akan jelaskan diruangan saya, mari ikut saya" ucap dokter
papa pun mengikuti dokter sementara mama menilih masuk dan menemani Raffi
"silah kan duduk" ucap dokter mempersilahkan pak Munawar duduk
"jadi bagaimana kondisi putra saya dok" tanya papa
"di dalam tubuh pasien terdapat racun yang sangat berbahaya yang dapat mengakibatkan kematian, untungnya racun itu sudah berhasil kami keluarkan sebelum menjalan keseluruh tubuh jadi pasien masih bisa diselamatkan" jelas dokter
"lalu sekarang bagaimana keadaan putra saya dok" tanya papa
"pasien sekarang masih dalam keadaan sangat lemah dan masih dalam pantauan kami karna racun itu bisa saja masih mengendap ditubuhnya, maka dari itu dalam 12 jam ini bila pasien belum juga sadar kita akan lakukan tindakan selanjutnya" jawab dokter
"apa sekarang tidak ada tindakan yang dapat dilkukan agar seluruh racun itu benar2 keluar dari tubuh putra saya" tanya papa
"untuk sekarang kami sudah melakukan semaksimal mungkin pak" jwb dokter
"lakukan semua yang terbaik untuk kesembuhan anak saya" ucap papa
"kami pasti akan melakukan yang terbaik pak" ucap dokter
"baiklah, trimakasih ya dok, saya permisi dulu" ucap papa munawar menjabat tangan dokter lalu keluar dari ruangan dokter

sebelum masuk 2 orang pengawal sudah berada tepat di depan ruangan Raffi
"jangan izinkan siapapun masuk kecuali dokter dan suster, itupun kalian harus pastikan dokter dan suster itu terlebih dahulu" ucap papa munawar lalu masuk
sementara mama masih saja menangis disammping Raffi
"sudah ma jangan menangis terus, Raffi itu kuat pasti dia akan baik2 saja" ucap papa
"gimana pa? apa kata dokter? Raffi baik2 saja kan pa? tanya mama amy
"ya, Raffi akan segera sadar" ucap papa
tiba2 telfon papa munawar berdering.
papa munawar pun langsung mengangkatnnya lalu keluar dari ruangan Raffi
"bagaimana apa sudah ketemu" tanya papa munawar
"bagus, siapkan semuanya saya akan segera kesana" ucap papa lalu segera pergi meninggalkan rumah sakit.
sesampainya ditempat yang dimaksud papa munawar benar2 sangat emosi melihat 3orang laki2 dan 1 orang perempuan yng berada disana
"mereka ini adalah pelakunya pak" ucap salah satu orang suruhan pak munawar lalu menjelaskan apa saja yang mereka lakukan
"siapa yang menyuruh kalian" bentak papa
namun tak satu pun dari mereka menjawab pertanyaan itu
"jawab atau kalian akan menyesal" bentaknya lagi.
namun lagi2 keempatnya hanya diam
"baiklah kalau kalian tak mau mengatakannya" ucapnya lagi lalu memerintahkan anak buahnya untuk menghajar mereka
cukup lama mereka bertahan hingga membuat pak munawar tambah kesal
"beritau mereka apa yang terjadi bila mereka tak mengaku" perintahnya lagi.
"kami akan memasukkan kalian kepenjara dan keluarga kalian tak akan hidup tenang sampai kalian memberitahu siapa dalang dari semua ini" ucap salah satu anak buah pak munawar lalu melemparkan beberapa foto keluarga para penjahat itu.
ya orang suruhan pak munawar bukanlah orang2 sembarangan mereka mencari tau semuanya, kerna mereka sudah bisa menebak mereka tak akan memberi tahu siapa bosnya walau pun mereka disiksa habis2an
"sekarang sebutkan saja siapa dalang dari semua ini" bentak pak munawar
akhirnya salah satu dari mereka pun membuka mulut
"alex, alex wiranata adalah dalangnya" ucap perempuan itu
"Alex?, kurang ajar, berani2nya dia" ucap pak munawar kesal dan mengepal kedua tangannya
"bawa mereka kekantor polisi, dan sebagian ikut saya" ucapnya lagi lalu pergi diikuti beberapa anak buahnya

sementara gigi yg baru sampai rumah sakit langsung menuju ruangan Raffi namun sayang dia tak diizinkan masuk oleh kedua penjaga yg berada didepan pintu
"maaf anda tidak boleh masuk kedalam" ucap salah satu dari mereka
"tapi saya pacarnya, saya harus masuk" ucap gigi
"pak munawar melarang siapapun masuk salain dokter dan suster" jawab mereka
"tapi pak saya ini pacarnya, om munawar pasti mengizinkan saya masuk" ucap gigi memaksa masuk
mama amy yg mendengar keributan itu pun langsung keluar
"ada apa ini" tanya mama amy
"tante, aku ga diizinin masuk oleh mereka" adu gigi
"biarkan gadis ini masuk" ucap mama amy
lalu mama amy dan gigi pun masuk
"tante Raffi masih istirahatnya" tanya gigi
mama amy langsung memeluk gigi sambil menangis
"tan, tante kenapa?" tanya gigi
"Raffi gi, raffi kembali tak sadarkan diri" ucap mama amy
"bagaimana bisa tan?" tanya gigi panik
"ada dokter dan suster gadungan yang memasukkan racun ketubuh Raffi" jawab mama amy
gigi yang mendengarnya ikut menangis dan tak mampu lagi berkata apapun.

sementara itu kini pak munawar beserta polisi sudah berada tepat didepan rumah pak Alex
pak munawar mengetuk pintu, cukup lama hingga pak alex sendiri yang membuka pintu itu
"pak Munawar? kapan anda kembali dari autralia? dan kenapa ini ada Polisi?" ucap pak alex kaget
"masih punya nyali kamu bicara drngan saya setelah apa yang lamu lakukan dengan putra saya" ucap pak Munawar
"apa maksud bapak, saya sungguh tidak mengerti" ucap pak alex
mendengar itu pak munawar sungguh sangat emosi rasanya dia ingin memukul pak alex saat itu juga namun pak munawar berusaha menahan emosinya dan menjaga wibawanya
"dia pelakunya pak" ucapnya pada polisi
polisi2 itu pun segara menangkap pak alex lalu membawanya kemobil polisi walaupun pak alex mencoba melawannya.

dirumah sakit gigi duduk disebelah raffi sementara mama amy sudah tertidur disofa karna kelelahan
"Raffi sadarlah" ucap gigi menangis
"raffi ku mohon sadarlah sayang, kalau kamu tidak ingin aku menangis sadarlah fi, ayo sadar" ucapnya lagi
perlahan raffi membuka matanya dia hanya tersenyum
"raffi kamu sudah sadar" ucap gigi senang
raffi berusaha menjawab namun dia kesusahan karna kini ia menggunakan alat bantu pernafasan
"udah kamu jangan ngomong dulu, aku akan panggilkan dokter" ucap gigi lalu memencet bellnya
tak lama dokterpun datang dan langsung memeriksa RAffi
"bagai mana keadaannya dok" tanya gigi begitu dokter selesai
"sekarang kondosinya mulai membaik namun sekarang biarkan dia untuk tetap beristirahat, kalau begitu saya permisi dulu " ucap dokter lalu keluar
"sayang kmu dengarkan, kamu harus istirahat" ucap gigi
Raffi hanya tersenyum tubuhnya masih terasa lemas hingga dia pun tertidur

keesokkan paginya gigi dan mama amy sudah bangun
"gi, apa Rafi sudah sadar?" tanya mama
"udah tan, sekarang Raffi masih tidur" ucap gigi
"alhamdulillah, oia gi om sudah balik?" tanya mama amy lagi
"belum tan" jawab gigi
tiba tiba papa munawar, dama, billy, irwan dan Dinar masuk
"papa dari mana?" tanya mama amy begitu melihat papa munawar
"papa dari kantor polisi" jwb papa
"papa ngapain di kantor polisi?" tanya mama penasaran
"papa habis ketemu sama orang yang membuat anak kita celaka" jwb papa
"siapa pa" tanya mama
"ia om, siapa?" tanya gigi dan yang lainnya bersamaan
"Alex" jwb papa singkat
"apaaaaa" ucap billy, dama dan irwan bersamaan
"astaga, kenapa dia bisa berbuat seperti ini" ucap mama amy tak percaya
Raffi yang masih tertidur pun terbangun karna kebisingan itu
"maaaa" panggil Raffi
"Raffi kamu udah bangun sayang" ucap mama menghampiri Raffi
raffi hanya mengangguk,
"mama panggil dokter ya, biar kamu diperiksa dulu" ucap mama lalu memencet bellnya
dokter memeriksa raffi dan doktter melepaskan alat bantu pernafasan raffi karna keadaan raffi sudah mulai membaik.

10hari tlah berlalu kini kondosi Raffi semakin membaik tangannya sudah bisa digerakkan walaupun tak bisa terlalu banyak karna masih sedikit sakit. dan tentunya selama raffi dirawat gigi selalu setia menemaninya.
dan hari ini Raffi sudah diizinkan pulang
Raffi pulang bersama mama, papa dan gigi

dirumah raffi, gigi menemani Raffi duduk dihalaman belakang rumah Raffi
"gi makasih ya sayang kamu udah ngerawat aku selama aku sakit" ucap Raffi
"itu udah sepatutnya aku lakuin" ucap gigi lalu menyenderkan kepalanya dipundak Raffi
"sayang maafin aku juga, karna aku kamu jadi repot" ucap raffi
"Raffi berhentilah meminta maaf, kamu sudah mengatakan itu puluhan kali" ucap gigi
"baiklah, sekarang aku benar2 yakin kalau kamu adalah orang yang tepat untuk aku jadikan istriku dan kamu adalah satu2nya wanita yang ada dihatiku dan akan menemani hidupku hingga akhir nafasku nanti" ucap Raffi lalu mencium unjung kepala gigi
"Raffiii kamu yakin akan hanya ada aku wanita yang ada dihati kamu sampai kapanpun? tanya gigi
"ya aku yakin, disaat aku menikahimu nanti aku dan kamu akan menjadi kita dan tak akan pernah berubah menjadi aku dan kamu lagi sampai maut yang memisahkan kita" ucap Raffi lalu memeluk gigi

hari ini adalah hari dimana Raffi dan keluarganya akan melamar gigi
"ganteng banget lo fi" ucap Billy melihat Raffi yang baru selesai berpakaian
"haruslah, secara ini hari penting dalam hidup gue walaupun emang dari sananya gue udah ganteng" ucap Raffi
"yee lo mah demen muji diri sendiri"
"biarin"
"yaudah yuk fi, yang lain udah pada nunggu" ajak billy lalu mereka pun turun kebawah kemudian bergegas menuju Rumah nagita

sesampainya dirumah gigi, Raffi dan keluarganya disambut dengan baik, setelah sedikit berbincang2 kini acara lamaran pun dimulai
Nagita terlihat sangat cantik dan anggun menggunakan kebaya kuning dan raffi menggunakan batik dengan warna senada
Raffi mulai duduk berlutut menghadap nagita bak pangeran dan putri
"Nagita Slavina mau kah kamu menerima lamaran ku ini" tanya raffi
dan dijawab dengan cepat oleh gigi
"ia Raffi" jwbnya
para tamu pun bertepuk tangan meriah
kemudian Raffi mulai memasangkan cincin ke jari nagita.
acara dilanjutkan dengan menentukan tanggal pernikahan dan mereka telah menentukan akan menikah 6bulan dari sekarang yaitu di tanggal 17 september tepat dimana mereka juga berulang tahun yang ke 26
setelah semua rangkaian acara selesai Raffi gigi dan teman2nya terlihat asik mengobrol
"wah fi ga nyangka gue, lo bakal ngelamar gigi secepat ini" ucap billy
"ia apadahal beberapa minggu lalu nyatain cinta aja harus kita bohongin dulu" sambung billy
"itu yang namanya kekuatan cinta" ucap Raffi lalu menggenggam tangan gigi
"aduuuh, pegangan aja terus mau pada bikin gue ngiri lo semua ya" ucap billy melihat semua sahabat2nya bersama pasangannya masing2
"makanya bil cari pacaar" ledek irwan
"lihat aja lo semua ya, kalau nanti gue udah nemuin orang yang tepat gue akan langsung nikahin dia" ucap billy
"beneran ye lo bil" ucap dinar
"ia, tenang aja lo semua kalau bisa gue yang duluan nikah dari pada si Dama" ucap billy
"wah gila ni anak, gue aja nikahnya minggu depan jadi lo bakal nikah 3hari lagi gitu?" ucap dama yang disambut tawa oleh semuanya.

hari ini adalah hari perikahan dama dan mayasari
diacara akad nikah raffi gigi dan yang lainnya menggunakan seragam yang telah disiapkan oleh Dama
"yang liat si dama tegang banget, udah kaya mau ngambil rapot" ucap Raffi yang duduk disamping Gigi
"kamu jga pasti nanti akan begitu juga" ucap gigi
"ya gak mungkinlah, aku pasti ga bakal setegang dia" ucap Raffi dengan pd nya
Dinar yang mendengarnya langsung menyeletuk
"gue mah yakin lo nanti akan lebih tegang dari si dama" ucap dinar
"liat aja itu ga akan terjadi" jawab raffi
"udah jgn pada ribut, mudah mau mulai tu" ucap gigi
dama pun mulai mengucapkan ijab qabul dengan satu kali tarikan nafas dan sah.
kini dama dan mayasari resmi menjadi suami istri
Raffi yang melihat saat2 itu secara refeks merangkul nagita sangat erat
"nanti kita kaya gitu juga yang" ucap Raffi
"heh pengantinnya mereka bukan kalian, main peluk2kan aja" celetuk billy
"hehehe kelepasan" ucap Raffi lalu melepaskan rangkulannya
kini waktunya untuk bersalaman dengan calon pengantin
"wiih selamat ya, gila ga nyangka gue lo nikah secepat ini" ucap Raffi memeluk dama
"bentar lagi lo yang nyusul gue" ucap dama
setelah itu mereka asik berfoto ria.

malam harinya dilangsungkan resepsi yang meriah
nagita terlihat sangat cantik dengan gaun putihnya
"kamu sangat cantik malam ini" puji Raffi
"trimakasih" ucap gigi tersenyum
mereka larut dalam acara hingga kini acara sudah dipenghujung dan ini yang paling dinanti oleh billy acara pelemparan handbuket
"liat, liat ni gue yang bakal dapet bunganya" ucap billy semangat
dan bener saja saat handbuket dilemparkan billy lah yang mendapatkannya
"yee gue yang dapeet" ucapnya girang berlari ketempat teman2nya
"liaaat ni gue yang dapet, semoga gue cepat dapat calooooonnyaaaa" ucapnya lagi
Raffi dan yang lainnya hanya tertawa melihat tingkah billy yang joget2 kegirangan


setelah acara pernikahan dama kemarin Raffi dan gigi menghantarkan papa Raffi kebandara karna hari ini papa munawar akan kembali ke asustralia
"mama jaga diri disini ya" ucap papa lalu memeluk mama
"kamu juga fi, dan sekarang kamu juga harus jagain mama dan calon istri kamu" pesan papa
"pasti pa" ucap Raffi kini memeluk papanya
"nah Gi nanti kalau Raffi macem2 laporkan ke om biar om kasih perhitungan kedia" ucap papa ke gigi
"siap om" jwb gigi
"tenang aja pa, Raffi ga akan mungkin macem2 Raffi kan cinta mati sama dia" ucap Raffi lalu merangkul gigi.
"ih apaan sih kamu" ucap gigi malu
"aku beneran tau" ucap Raffi tambah mengeratkan rangkulannya
papa dan mama hanya tersenyum melihat tingkah Raffi
"yaudah papa harus segera berangkat" ucap papa
"ia, papa jga diri disananya" ucap mama
kemudian papa pun pergi.
Mama memang sengaja tak ikut karna ingin ikut  mempersiapkan pernikahan putra sematawayangnya.

sehabis menghantarkan papa, Raffi dan gigi menghabiskan waktu seharian bersama mereka melewati hari itu penuh dengan canda tawa hingga diakhiri oleh makan malam romantis yang sudah disiapkan oleh Raffi
"kamu yang nyiapin ini semua?" tanya gigi melihat sebuah restoran yang telah dihias sedemikian indah dengan, diiringi dengan suara gesekan biola sehingga menimbulkan kesan romantis
Raffi hanya mengangguk lalu menggenggam tangan gigi
"kamu suka?" tanya Raffi
"ya, aku suka" jawab gigi
"sekarang kita makan dulu ya" ucap Raffi
lalu mereka pun makan bersama, sesekali gigi menyuapi Raffi begitu pun sebaliknya.
setelah selesai makan Raffi menggenggam kedua tangan gigi
"gi aku harap kita akan selalu selalu begini, selalu bersama selamanya" ucap Raffi
"ya aku juga berharap hal yang sama, kita selalu seperti ini" sambung gigi
"gi aku janji aku akan terus menjagamu dari apapun, walaupun sesibuk apapun aku nanti aku akan selalu berusaha menyisihkan waktu aku buat kamu dan aku mohon kamu bisa mengerti aku soal itu" ucap Raffi
"ya aku akan berusaha mengerti diri kamu seperti aku mengerti akn diri aku sendiri" balas gigi
"makasih ya sayang" ucap Raffi lalu mencium kening gigi
setelah itu Raffi pun mengantarkan gigi pulang

Keesokkan harinya gigi berencana untuk membuatkan makan siang untuk Raffi dan nanti akan menghantarkannya sendiri kekantor Raffi karna mulai hari ini Raffi sudah bekerja seperti biasa, gigi pun bergegas keswalayan untuk membeli bahan bahan makanan yang akan dimasaknya nanti.
tiba2 Raffi menelfonnya
"pagi sayang" sapa Raffi
"pagi juga, kamu udah dikantor ya"
"ia aku udah dikantor, kmu hari ini ke toko ga?"
"emm ia aku ke toko" ucap gigi berbohong
"sayang maafin aku ya, hari ini aku ga bisa ketemu kamu soalnya banyak banget yang harus aku kerjakan, maaf ya sayang" ucap Raffi
"ia aku ngerti kok, kamu yang semangat ya sayang kerjanya" ucap gigi
"ya udah bye sayang" ucap Raffi
"bye" tutup gigi
lalu gigi pun segera berbelanja kemudian memasak semuanya sendiri
setelah selesai gigi segera bergegas kekantor Raffi

sementara Raffi terlihat sangat sibuk dengan tumpukan dokumen2 dimejanya, pekerjaannya bertambah banyak apalagi sekarang dia belum menentukan orang untuk menggantikan pak Alex belum lagi beberapa masalah yang sempat di buat pak alex kini Raffi harus mengerjakannya sendirian.
kini sudah hampir jam makan siang namun Raffi tetap saja sibuk.
"permisi" ucap seseorang dari balik pintu
"masuk" ucap Raffi
kemudian orang itu pun masuk, rupanya orang itu adalah putri
"permisi, ini laporan yang bapak minta tadi" ucap putri lalu meletakkan laporan itu dimeja Raffi
"ada lagi?" tanya Raffi
"tidak" jawab putri
"kalau begitu kamu boleh keluar" ucap Raffi tanpa memalingkan wajahnya
"Raffi aku mau ngomong sesuatu sama kamu" ucap Putri
"bila itu menyangkut pekerjaan katakanlah, jika tidak mungkin lain kali" ucap raffi ketus
putri malah berjalan mendekati Raffi dan kini berada tepat dibelakang Raffi
"Putri kmu ngapain sih?" tanya Raffi risih
"Raffi aku cuma ingin bicara sama kamu, tolong dengerin aku dulu" ucap putri
"ya saya akan dengerin, tpi jangan berdiri dibelakang saya" ucap raffi
namun Putri tetap saja berada dibelakang Raffi bahkan melingkarkan tanganya di leher raffi
"Raffi kenapa kamu lebih memilih gigi dari pada aku, padahal aku sudah berulang kali mengungkapkan isi hati aku ke kamu" ucap Putri
Raffi berusaha melepaskan tangan putri dari lehernya
"putri, cinta itu ga bisa dipaksakan, walaupun kamu nyatain cinta berulang kali ke aku, tapi kalau aku ga cinta aku ga akan bisa nerima kamu, maaf" ucap raffi berdiri dari tempatnya untuk menyuruh putri kelur
"putri, keluarlah dari ruangan saya, saya ga mau ada fitnah nantinya" ucap Raffi sedikit menarik tangan putri namun tiba2 putri langsung memeluk Raffi dengan sangat erat
"putri apa2 an ini, kmu jangan gila" ucap Raffi mencoba melepaskan pelukan putri
"Raffi aku sangat mencintaimu, selama ini aku selalu berusaha berada didekat kamu, aku ingin jadi orang yang kamu cintai Raffi" ucap putri yang malah mengeratkan pelukannya
"Putri berhentilah bersikap seperti ini" ucap Raffi
tiba2 gigi masuk keruangan Raffi dengan membawa makanan untuk Raffi, namun baru saja membuka pintu gigi sudah dibuat terkejut dengan apa yang dia lihat.
putri yang melihat gigi hanya tersenyum licik sementara Raffi yang tak melihat gigi terus berusaha melepaskan pelukan putri
lalu tiba2 saja putri merenggangkan pelukannya kemudian mengecup bibir Raffi dan menahan kepala raffi agar tak menjauh darinya
Gigi yang melihat hal itu hanya dibuat diam terpaku air matanya menetes begitu saja lemudian gigi langsung pergi brlari dengan terus menangis
"putri lo gila ya" bentak Raffi kemudian mendorong putri hingga terjatuh.sebenarnya Raffi tak ingin mendorong putri dengan sekuat itu namun apa yang dilakukan putri sudah sangat keterlaluan

sementara saat gigi berlari dia tak sengaja menabrak Billy
"maaf" ucap gigi kemudian kembali berlari sambil terus menunduk
"eh eh, tunggu dulu" ucap billy menarik tangan gigi
billy melihat wajah gigi yang tertunduk
"gigi? eh gi lo kenapa? lo nangis?" tanya billy
namun gigi tak menjawabnya dia melepaskan tangan billy lalu kembali berlari
"si gigi kenapa? pasti ni si Raffi ni" ucap billy lalu berjalan menuju ruangan raffi

"kmu itu benar2 gila put, sekarang keluar dari ruangan saya" bentak Raffi tak ingin melihat putri
Putri pun bangkit
"baik aku akan keluar, aku akan liat apa reaksi karyawan kamu setelah melihat aku keluar dari ruangan kamu dengan penampilan aku seperti ini" ucap putri sedikit memberantakkan rambutnya
Raffi melihat kearah putri benar saja rambutnya berantakan, lipstiknya yang tak rapi dan pakaiannya sedikit kusut
"Raaaffi" ucap billy langsung membuka pintu dan masuk keruangan Raffi
namun langkahnya terhenti melihat penampilan putri yang seperti itu dan bibir Raffi yang masih tersisa bekas lipstik putri
"brengsek lo fi" ucap billy langsung menonjok Raffi hingga Raffi terjatuh
"bil apa apaan ini" ucap Raffi
"masih nanya apa apaan, lo yang apa apaan berbuat seperti ini dengan putri" ucap billy penuh emosi dan kembali memukul wajah Raffi
"bil, lo harus dengerin penjelasan gue dulu bil, dengerin gue dulu" ucap Raffi
"dengan bekas lipsti dibibir lo, lo mau ngejelasin apa lagi hah? dasar brengsek lo fi" ucap bily lagi2 memukul Raffi
Raffi menolak billy hingga terjatuh, kemudian Raffi berusaha bangkit
"bil lo harus dengerin gue dulu, geu bisa jelasin semuanya" ucap Raffi lalu mencoba menghapus bekas lipstik yang ada dibibirnya walaupun terasa sakit karna pukulan billy membuat sudut bibir raffi terluka dan pipi Raffi lebam2
"sory bil" ucap Raffi lalu mengulurkan tangannnya ingin membantu billy
namun Billy malah mengabaikannya lalu keluar dari ruangan Raffi
"bil tunggu" teriak Raffi
"ini semua gara2 lo" ucapnya lagi menunjuk Putri dan begegas mengejar billy
sementara putri hanya tersenyum licik kemudian keluar dari ruangan Raffi menuju toilet, pagawai yang lain pun menatapnya aneh, apalagi belum lama mereka melihat Raffi keluar dari ruangan yg sama.

sementara itu gigi udah berada di butik dinar, begitu gigi melihat dinar gigi langsung memeluknya sambil menangis tanpa memperdulikan pelanggan Dinar yang tadinya sedang mencoba baju
"gi lo kenapa?" tanya dinar bingung
"Raffi din" ucap gigi terus menangis
"maaf yah sebentar, saya tinggal dulu" ucap dinar kepelanggannya lalu mengajak gigi ruangannya
"gi sekarang lo jelasin ke gue lo kenapa?" tanya dinar menatap gigi
namun gigi terus menangis hingga sesegukan
"sekarang lo minum dulu, tenangin diri lo" ucap dinar memberikan air putih kegigi
gigi pun meminumnya hingga habis, kemudian gigi menghapus airmatanya
"udah lega kan, sekarang cerita ke gue" ucap dinar
"Raffi din, Raffi" ucap gigi
"ia Raffi kenapa?"
"Raffi selingkuh din, dia selingkuh sama putri" ucap gigi kembali menangis
"apa? gak gi, gue ga percaya, Raffi ga akan ngelakuin itu ke lo, dia sayang banget sama lo" ucap dinar tak percaya
"dinar gue liat dengan mata gue sendiri Raffi berciuman dengan putri" ucap gigi
"apa? berciuman?" ucap dinar kaget
"sekarang lo jelasin kegue sedetail detailnya" pinta dinar
gigi pun menceritakan semuanya
"kurang ajar, lo tenang aja gi gue bakal nuat perhitungan ledua orang itu karna udah nyakitin perasaan lo" ucap dinar emosi lalu memeluk gigi

sementara itu billy langsung pergi dari kantor, sedangkan Raffi kembali keruangannya karna tak dapat mengejar billy
"aaaahhkk" teriak Raffi
"apa yang harus gue lakukan, gimana kalo billy ngomong ke gigi dan gigi juga akan ikut salah faham" ucapnya sambil memukul kepalanya sendiri
Raffi seakan lupa dengan semua pekerjaannya yang menumpuk. Raffi memutuskan untuk menelfon gigi dengan maksud agar gigi tau semua dari dirinya bukan dari billy agar tak ada salah faham
namun beberapa kali Raffi menelfon gigi, gigi tak kunjung mengangkatnya malahan sekarang handphone gigi tak aktif. Raffi tak kehabisan cara dia langsung mengambil kunci mobilnya dan segera menuju toko gigi.

billy kini juga berada di butik dinar karna dia yakin gigi pasti sedang berada disitu. Billy langsung masuk keruangan dinar
"gi lo gapapakan" tanya billy
"lo mau ngapain kesini? Raffi yang nyuruh lo kesini? ia?" ucap dinar begitu melihat billy.
"ga gue cuma khawatir sama gigi, gue sama sekali gak disuruh sama Raffi cowok yang ternyata brengsek itu" ucap Billy
"jadi lo udah tau" tanya dinar
"ya gue liat sendiri, dan gue udah ngehajar dia" ucap billy
mendengar perkataan billy gigi langsung bangkit dari duduknya
"apa bil lo ngehajar Rafi?" ucap gigi dengan nada tinggi
"ia, dia pantas mendapatkan itu, bahkan gue masih belom terima dia nyakitin lo, gue orang yg nyatuin kalian, dan gue sekarang menyesal pernah nyatuin lo sama Raffi" ucap billy masih kesal
"jadi bagaimana raffi sekarang?" tanya gigi
"gigi lo masih mikirin dia? gi dia aja ga mikirin perasaan lo ngapain lo masih mikirin dia" ucap dinar
"tapi din, dia calon suami gue" ucap gigi
"orang kaya dia ga pantes jadi suami lo"
"lo sadar gi" bentak dinar
"tpi itu semua pasti salah gue, mungkin raffi ngelakuin itu karna gue kurang perhatian sama dia, dan mungkin juga putri jauh lebih perhatian sama dia, sehingga dia berbuat spt itu" ucap gigi kembali menangis
"gi udalah jangan lagi mikirin si Raffi dan jgn nyoba untuk ngebelain raffi , dia aja ga sama sekali mikirin lo" ucap Billy
"engga gi ini semua bukan salah lo, Raffi yang ga tau bersyukur dapetin cewek sebaik lo" ucap dinar memeluk gigi.

sesampainya ditoko kue Raffi langsung mencari gigi kedapur dan keruangannya namun Raffi tak menemui gigi
"maaf, Nagitanya kemana?" tanya Raffi kpd salah satu pegawai
"ibu Nagita hari ini tak datang kemari pak" jawab pegawai itu
"gak kemari?" tanya Raffi lagi
"ia pak" jawab pegawai itu lagi
"ga di toko, jadi gigi kemana? apa mungkin dia ditempat dinar" batin Raffi
"kalau gitu, saya permisi dulu" ucap Raffi lalu kembali kemobilnya
dimobil Raffi raffi kembali menghubungi gigi namun sayangnya hp gigi masih tak aktif, Raffi mencoba menghubungi billy namun hasilnya sama saja
"aah kenapa harus begini" ucap Raffi memukul setir mobilnya.
raffi teringat pada Dinar
"ya dinar, gue harus tlp dinar" pikir Raffi lalu menelfon dinar namun nomor dinar juga tak aktif.
Raffi memutuskan untuk menuju butik dinar.

sampainya di butik Dinar Raffi langsung masuk keruangan dinar
"din" panggil Raffi lalu membuka pintu ruangan dinar membuat dan yang lainnya melihat ke raffi
"Gi" ucap Raffi begitu melihat gigi yg sdng menangis
"heh lo ngapain disini, sekarang lo pergi dari sini" ucap Billy mendorong Raffi keluar
"tunggu bil, gue mau ngomong sama gigi bil" ucap Raffi tetap berusaha masuk
"lo mau ngapain, mau ngejelasin apa hah? lo mau bilang kalo lo bener2 selingkuh sama putri iyaa" ucap dinar
"engga din, itu ga bener, itu cuma salah faham" ucap Raffi
"salah faham lo bilang? gigi ngeliat semua yg lo lakuin lo masih bilang itu salah faham, sekarang lebih baik lo pergi dari sini" bentak dinar
"gak gi, gi dengerin aku gi itu semua ga seperti yang kmu liat, gi tolong dengerin penjelasan aku dulu gi" ucap Raffi memohon
"satpam, satpam," panggil Dinar
"bawa orang ini keluar, dan jangan izinkan masuk lagi" perintah dinar
"din, enggak din gue mau jelasin ke gigi dulu din, din" teriak Raffi yang sudah ditarik paksa oleh satpam  itu

"udah gi berhenti nangis, laki2 kaya dia ga perlu ditangisi" ucap dinar
"tapi din, kasian Raffi, mukanya masih lebam2" ucap gigi
"gak seharusnya bil, lo mukulin raffi spt itu" ucap gigi lagi kebilly
"gi berhenti ngebalain dia" bentak Billy membuat gigi terdiam

sementara itu Raffi benar2 frustasi dia segera menuju showroom irwan karna untuk saat ini hanya irwan lah yang dapat membantunya.
"sesampainya di showroom raffi langsung menuju ruangan irwan
"wan tolongin gue wan, plis tolongin gue" ucap Raffi langsung duduk didepan irwan
"lo kenapa fi, muka lo kok  lebam2 gitu coba jelasin dulu ke gue" ucap irwan
Raffi pun menceritakan semua kejadian dikantor dan dibutik dinar tadi
"apa? wah bener2 gila tu cewek" ucap irwan kesal
"wan tolongin gue, gue ga mau gigi terus salah faham sama gue" ucap raffi
"tpi gue harus gimana?" tanya irwan
"gue ga tau wan, gue udah ga bisa mikir lagi, plis tolongin gue wan" ucap Raffi memohon
"udah lo minun dulu tenangin diri lo" ucap irwan memberikan minum keraffi
setelah beberapa saat irwan kembali berbicara
"gini fi, gigi ga akan percaya kalo ga ada bukti" ucap irwan
"bukti apa yg harus gue kasih wan? gue ga punya bukti yang bisa nunjukin" jwb Raffi
"fi ruruangan lo ada cctv kan?" tanya Irwan
"ia wan ada" ucap Raffi
"bagus itu bisa jadi bukti sekarang ayo kita kekantor lo" ucap irwan langsung menarik raffi.
dan mereka bergegas menuju kantor Raffi saat berada dikantor Raffi merasa ada yang aneh dengan para karyawannya yang terus melihatinnya. namun Raffi berusaha tak memperdulikan itu semua dia langsung mengambil video cctv ruangannya lalu segera bergegas menuju butik Dinar diperjalanan mereka terkena macet yang sangat panjang karna ini adalah jam pulang kantor.
setelah berhasil melewati kemacetan itu Raffi dan Irwan tiba di butik dinar namun sayang Gigi sudah tak ada disana
"fi gigi udah pulang" ucap irwan ke Raffi yang berada di mobil
"ya udah kita kerumah gigi" ajak Raffi
"tapi ini udah malem fi, lo bisa ngejelasin ini besok ke gigi" saran irwan
"ga wan gue harus jelaskan semuanya hari ini juga gue ga mau hal ini berlarut2 wan" ucap Raffi lalu melajukan mobilnya menuju rumah gigi

BERSAMBUNG.....


Cerita ini hanya fiktif belaka,
Untuk komentar, kritik dan saran
silahkan ke akun twitter aku
@Liaa_RA17
thanks for reading......

Selasa, 02 Juni 2015

HINGGA AKHIR NAFASKU Part 4

cukup lama Raffi tak menjawab gigi dan membuat gigi tambah panik
tiba2
"maaf yang" suara Raffi kembali terdengar
"kamu kenapa?" tanya gigi
"enggak kok tadi tiba2 ada kucing lewat jadi aku ngerem mendadak" jelas Raffi
"aduh kirain ada apa"
"kamu khawatir yaa, takut akunya kenapa kenapa"
"ya iyalah, yaudah deh mending sekarang kamu fokus nyetir aja, hati2 ya" ucap gigi
"yaudah, bye sayang" ucap Raffi lalu mematikan telfonnya.

keesokkannya dikantor Raffi
Raffi terlihat sangat sibuk dengan pekerjaannya matanya terus terfokus ke laptopnya dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya agar ia dapat pulang lebih awal hingga jam 3 Raffi baru menyelesaikan semua tugasnya.
setelah itu Raffi langsung bergegas keluar dari ruangannya.
"putri kalau ada yang mencari saya bilang saya sedang ada urusan di luar dan jangan biarkan menunggu karna saya tidak balik lagi" ucap Raffi saat melewati meja putri dan dia pun langsung pergi.
Raffi menuju toko kue gigi, sesampainya ditoko gigi Raffi langsung masuk dan menumui gigi yang sedang berada didapur membuat kue
"sore cantik" bisik Raffi tepat di kuping gigi lalu meletakkan dagunya dipundak Gigi
"Raffii" ucap gigi kaget
"udah hafal suara aku ya" ucap Raffi
"ya ialah, kita kan udah kenal lama masa suara kamu aja aku ga bisa ngenalin" ucap gigi
"nih aku punya sesuatu untuk kamu" ucap Raffi lalu memberikan rangkaian bunga yang cantik kegigi
"bagus banget fi, bunga cantik" ucap gigi lalu mencium bunga itu
"tapi kamu jauh lebih cantik, tapi masa bunga doang yang di cium akunya engga" ucap Raffi sambil menyodorkan pipinya
"ih apaa sih, malu tau dilihati orang" ucap gigi
"ya sudah lah" ucap Raffi
"kamu masih sibuk ya" tanya Raffi
"dikit lagi selesai kok, kamu tumben jam segini da plng kantor?"
"sengaja biar bisa ketemu kamu"
"kamu tunggu aku di ruangan aku aja ya biar aku cepat kelarnya" ucap gigi
"ya udah, tapi dimana?" tanya Raffi
"yang itu" ucap gigi sambil menunjuk ruangannya
"oke deh aku tunggu kamu disana ya" ucap Raffi lalu tiba2 mencium pipi gigi kemudian berjalan menuju ruangan gigi
Gigi hanya tersenyum kecil lalu melanjutkan pekerjaannya

sekitar setengah jam gigi pun selesai dia pun segera masuk keruangan ya
"Raffii" panggil gigi
namun tak ada jawaban dari Raffi, gigi pun langsung masuk dan mencari Raffi.
ternyata Raffi sedang tertidur di sofa gifi pun menghampiri Raffi. Gigi duduk dipinggir sofa lalu mengelus wajah Raffi
"kamu pasti capek banget ya" ucap nya
namun sepertinya Raffi sangat lelah, gigi pun tak tega membangunkannya dan dia pun memutuskan untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu.
setelah selesai gigi kembali menghampiri Raffi yang masih tertidur
"muka kamu lucu kalo lagi tidur" ucap gigi memandangi wajah Raffi
tiba2 Raffi terbangun
"emmmm kamu da selesai ya, maaf aku ketiduran" ucap Raffi lalu duduk dan sedikit merenggangkan otot2 nya
"kamu cepek banget ya?" tanya gigi
"engga kok cape aku udah ilang waktu aku lihat kamu" ucap Raffi
"dasar tukang gombal" ucap gigi
"aku ga gombal tau, sekarang kita jalan yuk" ajak Raffi
"tpi kamu cuci muka dulu gih sanah, biar segeran" ucap gigi
Raffi pun menuruti gigi lalu mereka pun pergi ke sebuah restoran yang sudah dipesan Raffi sebelumnya sehingga hanya merek berdua saja yang ada direstoran itu
"kok kita kerestoran?" tanya gigi
"kamu ga maunya, yaudah kalo gitu kita ketempat lain aja yuk" ucap Raffi
"eh eh ga gitu maksud aku, kalo emang mau kesini ga papa kok, udah ayo" ucap gigi
Raffi dan gigi pun segera duduk ditmpat yg sudah disiapkan.
tak lama kemudian pesanan mereka pun datang
"kita makan dulu ya" ucap Raffi yang hanya dibales anggukan kepala oleh gigi
"kamu tadi siang bolom makan ya" tanya gigi melihat Raffi yang dengan lahapnya memakan hidangan yang ada di depannya
"emangnya kelihatan ya" tanya Raffi
"kmu itu, kalau kerja harus ingat waktu, saat waktunya makan kamu harus makan kalo kamu sakit gimana" ucap gigi yang malah menasehati Raffi
"ia sayang, maaf ya tdi aku bener2 lupa tau tau udah sore aja" ucap Raffi lalu pindah duduk disamping gigi
"kesehatan kamu lebih penting dari apapun Raffi" ucap gigi
"iya maafin aku ya, kamu jangan sedih gitu dong" ucap Raffi melihat wajah gigi yang mulai sedih kemudian Raffi mencium rambut gigi lalu merangkulnya
"ia, tapi lain kali kamu jangan gitu lagi ya" ucap gigi
"ia sayang" ucap Raffi
"gi aku mau ngomong sesuatu sama kamu" ucap Raffi lagi
"ngomong aja kenapa harus nanya sih" ucap gigi
"gi kalau aku ngelamar kamu kamu mau ga nerima lamaran aku?" tanya Raffi
Gigi menatap kearah Raffi
"kmu jangan bercanda ah" ucap gigi lalu meminum minumannya walau tak dipungkiri kini hatinya jadi tak karuan
"siapa yang bercanda, aku serius! serius banget malah" ucap Raffi
"tpi kan fi kita……"
"kita baru jadian semalam? gi walaupun kita baru jadian 1 hari tapi kita udah saling kenal sejak lama" ucap Raffi memotong perkataan gigi
gigi hanya diam, dia tak tau apa yang harus dia katakan
"gi kamu belum yakin ya sama aku, kamu belum percaya ya kalo aku bener2 cinta dan sayang sama kamu" tanya Raffi
"bukan gitu, tapi apa ini ga terlalu cepat fi?"
"aku cuma ga mau kehilangan kamu gi, aku takut kamu ninggalin aku"
"berarti kmu ga percaya sama aku"
"bukan aku ga percaya sama kamu, aku percaya dan sangat percaya sama kamu gi, tpi karna aku terlalu sayang sama kamu gi, aku mau kamu jadi istri aku. apa kamu mau gi? tanya Raffi
gigi lagi2 hanya terdiam mulutnya seakan tak mampu lagi berkata2 orang yg selama bertahun2 dia sukai memintanya untuk menjadi Istri.
"gi kenapa, kamu ga mau ya" ucap Raffi melihat gigi yang tak meresponnya
"aku ngerti kok mungkin ini terlalu cepat untuk kamu, maaf kalau aku terlalu memaksakan kehendak aku. aku benar benar minta maaf" ucap Raffi
"buu……" ucap gigi terpotong oleh Raffi
"udah gi ayo, aku anterin kamu pulang" ucap Raffi lalu bangkit dari duduknya
namun tiba2 gigi menahan tangan Raffi dan langsung memeluk Raffi
"ia aku mau jadi istri kamu" ucap gigi
sejenak Raffi terdiam dia seakan tak percaya
"kamu serius?" tanya Raffi melepaskan pelukannya dan menatap gigi
gigi hanya menganggukkan kepalanya pertanda meng iya kan
"makasih gi" ucap Raffi kembali memeluk gigi erat seakan dia tak ingin melepaskan pelukannya itu.
Cukup lama mereka berpelukkan hingga Raffi melepaskannya
"makasih ya, kamu udah mau nerima aku" ucap Raffi
"ia" jwb gigi
"sekarang aku anter kamu pulang ya udah malem" ucap Raffi
gigi hanya mengangguk. kemudian pun mereka pulang.

sesampainya dirumah gigi mereka berdua pun langsung masuk. ternyata didalam ada mama dan papa gigi yang sedang bersantai di ruang tengah
"malem om tante" ucap Raffi kemudian menyalam tangan papa dan mama gigi diikuti oleh gigi
"ayo duduk fi" ucap papa
"ia makasih om" ucap Raffi lalu duduk
sementara gigi duduk disebelah mamanya
"wah akhirnya om ketemu juga sama kamu fi" ucap papa
"hehe ia om, maaf baru ketemu sekarang padahal Raffi udah di Indonesia hampir 3 minggu" ucap Raffi
"ia ga papa kok, mungkin emang belum pas aja waktunya sekarang baru waktu yang pas waktunya" ucap papa
"ia om"
"eh fi bener ya kata tante, sekarang kamu udah ga kurus lagi, udah tambah ganteng dan gagah lagi" ucap papa
"si om mah bisa aja" ucap Raffi
disambut tawa oleh yang lainnya
"emm om tante ada yang pengen Raffi omongin" ucap Raffi
"mau ngomong apa fi kayanya serius banget" tanya mama
"gini om tante Raffi secara pribadi mau ngelamar Nagita om tante" ucap Raffi
yang membuat semua kaget termasuk gigi yg memang tak tau Raffi akan membicarakan hal ini sekarang
"kamu yakin fi?" tanya mama
"ia tan Raffi yakin" ucap Raffi
"sebenarnya om sangat senang mendengar itu, karna kamu adalah laki2 yang baik &bertanggung jawab bukan hanya itu saja om juga sudah kenal kamu sejak lama tapi kalau soal itu om ngikutin gigi nya aja, karna yang akan menjalani nantinya adalah gigi" ucap papa
"tante juga begitu, itu semua terserah gigi" jawab mama rita
"gimana gi, apa kmu menerima lamaran Raffi" tanya papa
gigi yang sedari tadi diam dan menundukkan kepalanya kini perlahan mengangkat kepalanya
"ayo gi di jawab" ucap mama
Gigi pun mengganggukkan kepalanya mengiyakan lamaran Raffi untuk yang kedua kalinya hari ini
"kalau Gigi setuju kami juga setuju" ucap papa
yang membuat Raffi tersenyum, Raut wajah nya benar benar sangat bahagia. lalu Raffi bangkit dari duduknya menghampiri gigi
"maaf om tante, boleh kan Raffi memakaikan cincin ini ke gigi" tanya Raffi sambil menunjukkan cincin yang sedari tadi sudah berada dikantongnya
dijawab dengan anggukkan kepala oleh mama dan papa
Raffi pun mulai memakaikan cincin itu kejari gigi
"ini hanya untuk sementara sampai nanti aku dan keluarga aku datang untuk melamar kamu lagi" ucap Raffi sambil memasangkan cincin itu

tiba2 caca datang sambil bernyanyi dengan beberapa buku digenggamannya dan headset di telinganya dia berjalan menuju ruang tengah seakan tak terjadi apa apa sampai akhirnya dia menyadari semua yang ada disana sedang memperhatikannya
"weits ada apa ni" ucap caca melepaskan headsetnya dan berjalan mendekati Raffi gigi
"mbak ada apaan sih?" tanya caca menghampiri gigi
namun semua hanya terdiam sambil memandangi caca
"hah kak Raffi ngapain makein cinci ke mbak gigi? kak Raffi ngelamar mbak gigi ya" ucap caca melihat jari2 gigi masih berada di tangan raffi begitu pun tangan Raffi yang masih memegang cincin yang kini sudah berada dijari gigi.
"wah beneran kak Raffi ngelamar mbak gigi" ucap caca yang langsung melihat cincin berlian di jari gigi
"caca kmu itu" ucap mama menegur caca
"hehe maaf ma" ucap caca lalu duduk
begitupun Raffi dan gigi yang ikut duduk
"kmu itu ya ca, merusak suasana aja" ucap mama
"wah berarti bener dong, yes berarti aku bakal resmi jadi adik iparnya kak Raffi Ahmad" ucap caca
"yeee apaan sih lo, lebay" ucap gigi
"biarin wlek" ucap caca menjulurkan lidahnya
"udah2 jangan pada ribut" ucap mama
"jadi kapan kamu akan bawa orang tua kamu kemari fi?" tanya papa
"secepatnya om, nanti Raffi akan hubungi papa mama Raffi untuk pulang ke Indonesia" jawab Raffi
"baik lah kalau begitu, lebih cepat lebih baik" ucap papa
"nah kak Raffi nanti kan bakal jadi kakak aku, jadi sebagai tes menjadi kakak yang baik kak Raffi harus ngebantuin aku ngerjain tugas aku" ucap caca sambil meletakkan bukunya di meja depan Raffi
"yee itu mah emang kesenangan lo, tugas lo dibantuin" ucap gigi
"ya terserah aku dong" ucap caca
"udah jangan mau yang, biar dia kerjain sendiri" ucap gigi
"cie cie yang udah panggil sayang sayangan" ledek caca
"udah ga papa, sini ca yang mana biar aku bantuin" ucap Raffi
kemudian Raffi pun membantu caca mengerjakan tugasnya
"kalau begitu om dan tante masuk dulu ya, maaf ga bisa nemenin" ucap papa
"ia om, selamat istirahat om tante" ucap Raffi
kemudian papa dan mama gigi pun masuk kekamar mereka dan raffi kembali membantu caca mengerjakan tugasnya sementara gigi hanya duduk disamping Raffi

"yeeey akhirnya selesai juga, makasih kak Raffi" ucap caca
"iya" ucap Raffi lalu melihat kearah gigi yang sedari tadi sudah tertidur
"aku angkat gigi kekamarnya ya" ucap Raffi lalu menggendong gigi menuju kamarnya.
setelah itu raffi pun menyelimuti gigi dan mengecup kening gigi lalu kembali turun kebawah
"ca aku pulang dulu ya" ucap Raffi
"tpi ini udah malam banget kak, mending ka Raffi nginap disini aja dulu" saran caca
"ga usah aku pulang aja"
"kak Raffi maaf ya, kakak jadi pulang semalam ini "
"ga papa kok, kan demi calon adik ipar" ucap Raffi sambil mengacak acak rambut caca
"ya udah aku pulang dulu ya" ucap Raffi
caca pun menghantarkan Raffi hingga depan pintu lalu menutupnya setelah Raffi melajukan mobilnya dan bergegas masuk ke kamarnya

diperjalanan Raffi sekarang benar2 merasa sangat ngantuk, namun dia tetap berusaha agar matanya tetap terjaga, Raffi memakan permen yang ada di mobilnya, walau tak terlalu membantu namun itu cukup membuatnya tidak tertidur
pada saat di persimpangan datang truk dari arah kiri Raffi dengan kecepatan tinggi menabrak mobil raffi hingga mobil raffi terguling beberapa kali dan membuat suara yang sangat kuat.
sedangkan pengemudi truk itu langsung turun dan pergi menggunakan mobil yang dari tadi sudah menunggunya disebrang jalan. sambil tertawa mereka melajukan mobilnya

suara tabrakan tadi membuat beberapa warga keluar dari rumahnya untuk melihat apa yang terjadi.
Kini mobil Raffi dalam posisi terbalik dan para warga pun mencoba untuk membalikannya kembali untuk menolong Raffi yang dalam keadaan tak sadarkan diri dan darah mengalir dari kepalanya
tak lama polisi bersama ambulance pun datang dan Raffi pun langsung dibawa kerumah sakit.

sementara itu dirumah Billy masih tertidur
tiba2 telfonnya berdering billy pun meraba meja disebelah tempat tidurnya dan mengangkat tlpnya
"hmmm" gumam Billy
"selamat malam, kami dari kepoliisian ingin memberitahukan bahwa pemilik nomor ini mengalami kecelakaan dan sekarang berada di Rumah Sakit" ucap polisi itu
"hah polisi? kecelakaan?" ucap billy kaget dan langsung melihat layar hpnya
"Raffi" ucap billy lagi
setelah polisi itu menjelaskan kronologisnya billy pun langsung menghubungi Dama, Irwan dan Dinar mereka sama kagetnya dengan billy tapi mereka sepakat untuk tidak memberi tahu gigi saat ini karna takut gigi syok.
Billy, Dama dan Irwan pun langsung bergegas menuju rumah sakit sementara Dinar baru akan kesana besok pagi bersama gigi.

sesampainya dirumah sakit mereka langsung menuju ruang Raffi dirawat
"kok bisa jadi begini sih bill?" tanya Dama saat mereka berada di depan ruangan Raffi
"gue jga ga tau kali dam, polisi tadi cuma bilang mobil Raffi ditabrak truk trus supirnya kabur truknya ditinggal di tempat" jelas billy
"lagian si Raffi dari mana sih jam segini" ucap Irwan
tiba2 suster keluar dari ruangan itu
"maaf keluarga pasien" ucap suster itu
mereka pun saling tatap karna Raffi cuma sendiri di Jakarta
"emm saya, saya sepupunya sus, orang tuanya sedang tidak ada di Indonesia" ucap Dama
"baik lah, pasien harus segera di tindak lanjuti karna benturan dikepalanya mengharuskan kami harus melakukan operasi maka dari itu kami memerlukan persetujuan dari keluarga, sekaligus menyelesaikan administrasinya" jelas suster itu
"ya sus, saya yg akan memberi persetujuan dan menyelesaikan administrasinya" ucap Dama
"kalau begitu mari ikur saya" ucap suster itu lalu berjalan diikuti oleh Dama
tak berapa lama Raffi keluar dari ruangan itu dan di bawa ke ruangan operasi.
operasi berjalan lancar dan kini Raffi sudah dipindahkan ke kamar rawat.
tentunya dengan Billy, dama dan irwan yang selalu menemaninya

Sementara itu ditempat lain
"Bagaimana? apakah kalian sudah membereskannya" ucapnya
"Sudah bos, dia sekarang sedang kritis dirumah sakit dan pasti dia akan segera mati" jwb penabrak Raffi
"Bagus" ucap nya kemudian menyerahkan amplop berisikan uang
"Sekarang kalian boleh pergi" ucapnya lagi lalu mereka pun pergi
"Saat kamu mati, semua rencan saya akan berjalan lancar" ucapnya lalu tertawa jahat

pagi harinya Dinar sudah berada di Rumah gigi
tok...tok...tok... dinar mengetuk pintu rumah gigi
tak lama mama rita membukakan pintu
"eh Dinar, tumben pagi2 udah kesini" ucap mama rita
"giginya ada tan?" tanya Dinar
"ada ada ayo masuk, gigi nya masih siap2 diatas" ucap mama
dinar pun masuk mengikuti mama rita menuju ruang makan
"Dinar ayo duduk, ikut srapan bareng kita" ucap papa
"ia om, makasih" ucap dinar lalu ikut duduk namun dia hanya diam saja
"kak Dinar kenapa sih kok murung gitu, ada masalah ya kak" ucap caca yng juga berada disitu
"emm Raffi ca, om tante" ucap dinar
"Raffi kenapa?" tanya mama
"Raffiiii kecelakaan" ucap Dinar sedikit pelan
"apaaa?? kok bisa kak? kapan? dimana? sekarang kak Raffi ada dimana? kondisinya gimana?" tanya caca bertubi2
"ia din kenapa bisa spt itu" tanya mama
"tdi malem, sekarang Raffi lagi dirumah sakit, makanya Dinar kesini mau ngajak gigi kesana. tapi jgn kasih tau gigi sekarang ya, biar sampai rs aj gigi taunya, Dinar takut gigi……"
ucap dinar terpotong karna gigi menghampiri mereka
"pagi semua" sapa gigi
"eh ada lo din, ada apa nih" tanya gigi
"ga ada apa2 kok" ucap Dinar
"ayo duduk sayang, kita sarapan dulu" ucap mama rita memberikan roti ke gigi
gigi pun duduk dan memakan roti yang disediakan mamanya.
Namun gigi merasa ada yang aneh karna semuanya hanyaa diam apalagi caca yang dari tadi hanya memotong2 rotinya saja tanpa memakannya
"cha lo kenapa?" tanya gigi
"emm engga kok mbak, caca udah selesai sarapannya caca kekamar dulu ya" ucap caca lalu pergi meninggalkan yang lainnya
"mah si caca kenapa sih" tanya gigi
"udah paling dia lagi ada yang difikirin, udah kamu buruan sarapannya" ucap mamaa
setelah selesai sarapan dinar mengajak gigi
"gi lo ikut gue ya, ada sesuatu yang harus gue kasih tau ke lo" ucap Dinar
"ada apaan sih Din, tapi gue harus ke toko" ucap gigi
"ini lebih penting dari pada toko lo gi, ikut gue ya" bujuk dinar
akhirnya gigi pun mengikuti dinar.

diperjalanan
"din kita mau kemana sih" tanya gigi
"udah ikutin gue aja" ucap dinar
"eh din lo tau ga semalem Raffi ngelamar gue" ucap Gigi senang
"Raffi ngelamar lo?" tanya dinar
"ia din gue seneng banget, semalam dia minta gue untuk jadi istrinya di resto, trus dia juga ngelamar gue dirumah didepan orang tua gue trus dia ngasih gue cincin ini" ucap gigi sambil menunjukan cincinnya
"lo seneng banget ya gi?" tanya dinar
"ya iya lah gue seneng bangeeet malah" ucap gigi
"gue ga tega gi ngerusak kebahagiaan lo saat ini" batin Dinar
"Dinar lo kok bengong sih, lo ga seneng liat gue seneng gini" ucap gigi membuyarkan lamunan dinar
"hah gue ikut seneng kok" ucap Dinar tersenyum hambar.
tak lama mereka pun sampai di rumah sakit
"ayo gi" ajak dinar lalu turun dari mobilnya
"kok kita ke rumah sakit din? siapa yang sakit?" tanya gigi heran
"lo ikutin gue aja ya gi" ucap dinar lalu berjalan menuju ruangan Raffi

Gigi terus berjalan mengikuti Dinar dipenuhi banyak pertanyaan di fikirannya hingga mereka berhenti tepat didepan sebuah ruang rawat VVIP
"din, didalam emang ada siapa?" tanya gigi
"gi gue mohon sama lo, lo harus sabar" ucap dinar sambil menggenggam tangan gigi
"apaan sih lo din, emang didalam ada siapa" tanya gigi lagi
"Gi ayo kita masuk" ajak Dinar
Dinar pun membuka pintu itu perlahan masih menggenggam tangan gigi. mereka pun masuk didalam sudah terlihat seseorang terbaring tak sadarkan diri
"Raffiiii!" ucap gigi.
gigi langsung menghampiri Raffi, air matanya tak dapat dibendungnya lagi
"din Raffi kenapa?" tanya gigi
"Raffi kecelakaan gi" jawab dinar lirih
"dia belum sadarkan diri sejak semalam" ucap Dama yg sedari tadi berada disitu
"Raffiiiiiii ayo sadar" ucap gigi sambil menangis lalu memeluk Raffi. tubuhnya kini merasa lemas
"udah gi, lo yang kuat" ucap dinar memcoba melepaskan pelukan gigi ke raffi dan medudukkannya
"gi lo yang sabar, Raffi pasti akan segera sadar" ucap Irwan
gigi menggenggam tangan Raffi dan menempelkannya di pipi nya
"Raffi ayo sadar sayang, kamu harus sadar" ucap gigi sambil terus menangis
dinar dan yg lainnya pun tak bisa berbuat apa2 mereka hanya diam melihat gigi bahkan Dinar pun ikut menangis
"Raffi sadar dong, kamu ga boleh terus begini ayo sadar sayang" ucap gigi lirih

tiba2 dokter dan 2 suster datang untuk memeriksa Raffi beberapa saat dokter memeriksa keadaan Raffi sedangkan susternya mengganti infus Raffi.
"bagaimana keadaannya? dia baik2 saja kan dok?" tanya gigi
"ya dia akan segera sadar" ucap dokter itu membuat hati gigi sedikit lega
"baik lah saya permisi dulu dan untuk keluarga pasien mari ikut keruangan saya" ucapnya lagi
"baik dok" ucap Dama lalu mengikuti dokter itu
gigi pun kembali duduk disamping Raffi dan menggenggam lagi tangan Raffi
selang beberapa menit Putri dan pak Alex datang untuk menjenguk Raffi
"Pak alex, putri" ucap billy
"billy bagaimana kondisi pak Raffi" tanya pak alex
belum lagi Billy menjawab Putri yang melihat Raffi langsung menghampirinya dan memeluk Raffi sambil menangis dia seolah tak memperdulikan gigi yang sedari tadi berada disitu.
"Raffiii kenapa kamu bisa seperti ini Raffi" ucap putri sambil menangis
"Putri udah, ayo ikut gue" ucap Dinar yang langsung menghampiri putri
"apaan sih din, gue cuma pengen tau kondisi Raffi" ucap putri yang sudah sedikit menjauh
"tanpa lo meluk Raffi lo bisa tau kondisi dia, jaga sikap lo" ucap dinar
"apa yang salah dengan gue meluk Raffi" ucap Putri
"jelas lo salah karna lo meluk Raffi dedepan calon istrinya" ucap Dinar
"calon istri? siapa? gigi maksud lo" tanya putri sambil melihat kearah gigi
"ia gigi calon istri Raffi, Raffi udah ngelamar gigi semalam" ucap Dinar
"apa ngelamar?" ucap Putri, Irwan dan Billy bersamaan yang membuat gigi sedikit emosi
"kalau kalian mau berisik diluar saja" ucap Gigi
"maaf gi, maaf pak" ucap Billy ke Gigi dan pak Alex
"serius lo Raffi udah ngelamar gigi" bisik Irwan
Dinar hanya mengangguk
tiba2 Dama masuk
"dam gimana, dokter bilang apa?" tanya Gigi
"intinya dokter bilang operasi semalam berjalan baik, dan kita hanya menunggu sampai Raffi sadar" ucap Dama
"alhadulillah" ucap gigi
"sayang aku yakin kamu pasti akan segera sadar, kamu pasti kuat" ucap gigi lalu mencium tangan Raffi
"sialan seharusnya dia langsung mati" batin pak alex
"Bagus lah semoga pak Raffi segera sadarkan diri, kalau begitu saya pamit, ada beberapa pekerjaan yang harus saya lakukan dikantor" ucap pak alex
"ya pak, trima kasih sudah menjenguk Raffi" ucap Dama
"ya, marii" ucap pak alex lalu keluar dari ruangan itu
"kalau gitu gue jga permisi" ucap putri yang masih kesal mendengar ucapan Dinar dan langsung keluar dari ruang rawat Raffi
"kenapa nagita? kenapa nagita yang dilamar Raffi? padahal gue dari dulu udah nyatain cinta dan selalu ditolak" gerutu Putri sambil berjalan meninggalkan rumah sakit

"gi, lo ga mau makan dulu, ini udah waktunya makan siang" tawar Dinar
"nanti aja din gue mau nungguin Raffi disini, gue mau saat dia sadar gue orang yang ada disampingnya" ucap Gigi
"yaudah, kami keluar dulu cari makanan, nanti kami bawain aja makanan buat lo ya" ucap dinar
"ya" jwb gigi singkat
lalu dana, dinar,irwan dan billy pun keluar.

sementara itu pak Alex bukannya ke kantor dia malah menemui orang2 suruhannya
"bodooh!! seharusnya kalian memastikan dia mati" bentak pak Alex
"tapi bos kami liat sendiri mobilnya terbalik, dan pasti dia mati disana" ucap salah satu dari mereka
"mana buktinya? kalian bilang kalian pembunuh bayaran terbaik? mana buktinya?" tanyanya geram
"sebentar lagi dia akan segera sadar! saya ga mau tau buat dia mati secepatnya bagaimana pun caranya" ucapnya lagi.
"sekarang keluar dari sini dan cepat habisi dia" perintah pak alex
mereka pun keluar dari ruangan itu
"dia harus segera mati agar saya bisa memiliki perusahaan itu seutuhnya, usahaku selama bertahun2 ga boleh sia2 hanya gara2 kehadirannya" ucap pak alex emosi

setelah membeli makanan dinar dan yang lainnya pun kembali keruangan Raffi dan memberikan makanan untuk gigi, setelah gigi makan dinar, irwan dan dama pamit karna harus ada yang mereka kerjakan. dan yang akan menemani gigi adalah Billy.

sore harinya mama dan caca datang menjenguk Raffi
"mama? mama tau dari mana Raffi disini?" tanya gigi heran
"dari dinar tadi pagi" jawab mama
"mbak gimana keadaan kak Raffi?" tanya caca
"kata dokter kita hanya tinggal menunggu Raffi sadar" ucap gigi
"mbak ini semua salah gue, ga seharusnya gue minta kak Raffi ngebantuin ngerjain tugas gue" ucap caca
"ini ga ada sangkut pautnya dengan itu ca" ucap gigi
"jelas ada mbak, kak Raffi pulang selarut itu karna gue, kalau gue bisa nahan dia untuk nginep dirumah ini semua ga akan terjadi" ucap caca menyesal sambil menangis
"ca kita udah bahas ini dirumah, berhenti nyalahin diri kamu sendiri" ucap mama Rita
"ia ca ga ada gunanya nyalahin diri sendiri, yg penting sekarang kita berdoa agar Raffi cepat sadar" ujar gigi
setelah beberapa saat menjenguk Raffi mama dan caca pun pulang dan memberikan baju ganti untuk gigi karna gigi tak mau pulang
selang beberapa saat setelah mama dan caca pulang
"Sayaang kmu cepat sadar dong, kmu harus sadar" ucap gigi
"Raffi aku yakin kamu pasti denger aku kan, kamu bagun ya aku ga mau liat kamu terus2an begini" ucap gigi menggenggam tangan Raffi dan tanpa  terasa air matanya kembali mengalir mengenai tangan tangan raffi yang kini berada dipipinya
"Raffi ayolah sadar, aku ga mau liat kamu begini" ucapnya lirih
perlahan Raffi membuka matanya dia melihat kearah gigi yang menenggelamkan wajahnya di tangannya. Raffi merasakan airmata gigi yang membasahi tangannya
"giii" panggil Raffi pelan
"Raffii" ucap gigi langsung melihat kearah Raffi
"kamu udah sadar sayang?" ucap gigi senang
"aaaaaww" ucap Raffi
"apa ? apa yang sakit" tanya gigi panik
"kepala dan tangan aku" jawab Raffi menahan rasa sakitnya
"bil panggil dokter, cepat" perintah gigi
Billy pun segera memencet bel yang tak jauh dari gigi
"sayang kamu sabar ya, dokter akan segera datang" ucap gigi
dokter pun datang billy dan gigi segera menjauh agar dikter bisa memeriksa Raffi
"bagaimana dok, dia baik2 sajakan" tanya gigi
"ya dia tak apa2 hanya saja tangan kanannya akan terasa sakit untuk digerakkan karna benturan yang cukup kuat pada saat kecelakaan" jelas dokter
"tpi itu ga akan lama kan dok?" tanya billy
"kita akan liat perkembangan selanjutnya, baik lah kalau begitu saya permisi dulu" ucap dokter
"trimakasih dok" ucap billy
dokter keluar, gigi segera menghampiri Raffi
"Raffii kamu ga papakan?" tanya gigi
"aku gapapa kok, kamu jangan nangis dong" ucap Raffi melihat Gigi menangis
"aku cuma khawatir sama kamu" ucap gigi duduk ditempatnya tadi
"hey aku ga suka liat kamu nangis gitu" ucap Raffi berusaha menghapus air mata gigi namun tangannya terasa sangat sakit
"hah gi maafin aku. aku ga berguna buat ngehapus air mata kamu aja aku ga bisa, maafin aku gi" ucap Raffi
"engga fi, kamu sangat berarti buat aku, ini hanya sementara kamu pasti akan sembuh" ucap gigi
"ia fi lo ga usah ngomong yang aneh2 lo baru sadar" ucap billy
"tpi gi, sekarang aku cuma bisa nyusahin kamu doang" ucap Raffi
"ga fi, aku ga merasa kamu repotin, sekarang kamu jangan mikir yang macem2 lebih baik kamu istirahat supaya kamu cepat pulih" ucap gigi membenahi selimut Raffi
"gi maafin aku ya" ucap Raffi lagi
"Raffi berhentilah meminta maaf" ucap gigi
"tapi………"
"sudah lah, sekarang kamu istirahat yaaa" ucap gigi lembut lalu mencium pipi Raffi
"kamu udah genit sekarang yah" ucap Raffi
"Udah istirahat" ucap gigi malu
Raffi hanya tersenyum lalu memejamkan matanya.

keesokkan paginya Raffi bangun terlebih dahulu dia melihat gigi sedang tertidur di kursi dan meletakkan kepalanya didekat tangan Raffi,
Raffi sangat ingin membelai Rambut gigi namun tangannya masih terasa sakit untuk digerakkan.
"gara2 aku kmu jdi begini, maafin aku ya" ucap Raffi pelan
"eh fi lo uda bangun?" ucap billy yang baru dari toilet
"syuuuuuut" ucap Raffi tak ingin membangunkan gigi
"oh sory sory" ucap billy
"hemmm" gigi terbangun
"eh kamu udah bangun, maaf aku ketiduran" ucap gigi sambil mengucek matanya
"seharusnya aku yang minta maaf, karna aku……"
"raffi udah berapa kali aku bilang, jangan terus terusan minta maaf karna aku ngelakuin semua ini ikhlas buat kamu" ucap gigi
"makasih sayang" ucap Raffi
"yaudah, aku ketoilet dulu ya" ucap gigi lalu pergi ke toilet
tiba2 dokter masuk untuk memeriksa Raffi kembali, setelah beberapa saat dokterpun keluar.
"eh dokter ngapain?" tanya gigi yg baru keluar dari toilet
"cuma ngechek aja kok" jwb Raffi
"oo, yaudah kamu sarapan dulu ya, aku suapin" ucap gigi mengambil bubur yang sudah tersedia dimeja
"eh fi, gi gue cabut dulu ya, gue harus kekantor" ucap billy
"ok, hati2 ya" ucap gigi
billy pun pergi, dan gigi pun menyuapi Raffi hingga buburnya habis
"selesai, sekarang kamu mau ngapain?' tanya gigi
"aku boleh keluar ga? disini bosen banget" ucap Raffi manja
"aku harus tanya dok……"
"Raffiiii" ucap wanita paruh baya menghampiri Raffi dan langsung memeluknya sambil menangis
"kamu kenapa bisa begini" ucapnya masih memeluk Raffi
"mama sakiiit" ucap Raffi
ternyata wanita itu adalah mama amy yang datang bersama papa Munawar
"maaf fi, mana yang sakit" tanya mama
"tangan kanan Raffi masih sakit tan" jawab gigi
mama amy melirik gigi sekilas lalu kembali ke Raffi
"affi kenapa kamu bisa begini nak" ucap mama amy sambil menangis
"sudahlah ma, afi ga papa, dan tangan afi akan segera pulih, jadi mama jangan nangis lagi ya" ucap Raffi mencoba menengkan Mamanya
mama amy pun sedikit tenang mendengarkan perkataan Raffi
"bagus kalau begitu, mama kamu ini tidak henti2nya menangis dari kemarin, bahkan didalam pesawat pun dia tak henti2nya menangis" ucap papa menghampiri Raffi
"mama masa cengeng sih, mama kan tau kalo afi itu kuat" ucap Raffi
"mama khawatir sama kamu sayang" ucap mama
"kamu gigi kan?" ucap mama amy melihat gigi
"ia tante" ucap gigi lalu menyalam mama amy dan papa Munawar
"kamu sekarang lebih cantik" puji mama
"makasih tan" ucap gigi
"ma pa" panggil Raffi
"ya ada apa sayang, apa ada yang sakit lagi?" tanya mama
"enggak kok, mah, pah afi boleh minta sesuatu ga?" tanya Raffi
"tentu saja, ucapkan saja apa yang kamu inginkan, pasti akan papa dan mama kabulkan" ucap papa
"ya sebutkan saja" tambah mama amy
"nanti setelah afi sembuh total, tolong Lamarkan wanita yang ada disamping mama ini untuk menjadi Istri Raffi" ucap Raffi sambil melirik kearah gigi
gigi kaget bukan kepalang, dia hanya menunduk malu
"Raffi kamu sedang bercanda?" ucap mama melihat kegigi
"mama afi ga bercanda, Raffi serius ma" ucap Raffi
"tapi kamu sudah yakin dengan keputusan kamu ini" tanya papa
"yakin pa, papa dan mama mau kan mewujudkan keinginan Raffi ini" tanya Raffi
"baiklah papa akan mewujudkannya" ucap papa
Raffi dan gigi hanya tersenyum
"makasih pa ma" ucap Raffi
"permisi" ucap Dama tiba2
"masuk dam" ucap Raffi
lalu dama, irwan dan dinar pun masuk
"eh ada tante om" ucap Dinar menyalam mama dan papa Raffi diikuti oleh yg lainnya
"wah kalian, tapi sepertinya kurang satu ya" ucap mama amy
"iya tan, Billy lagi dikantor" jawab irwan.
"nak Dama bisa om bicara berdua sebentar" ucap papa
"bisa om" ucap dama lalu papa dan dama pun keluar dari situ

"ada apa om?" tanya dama
"apa yang sebenarnya terjadi pada Raffi, sehingga dia bisa seperti itu" tanya papa
"Raffi ditabrak sebuah truk om dan supir truk itu langsung pergi meninggalkan Raffi dan truknya" jelas dama
"lalu apa pengemudi truk itu sudah tertangkap?" tanya papa lagi
"belom om, tapi polisi sedang mencari pelakunya" jawab dama
"trimakasih, sekarang kamu boleh masuk om ada urusan sebentar" ucap papa lalu meninggalkan dama kemudian dama pun kembali keruang Rawat Raffi

papa Munawar rupanya menelfon orang bayarannya untuk memerintahkan mereka untuk mencari dalang dari semuanya
"cari tau siapa pelakunya bila sudah langsung bawa kesaya" perintah papa
"berapa pun yg kamu minta, akan saya berikan, lakukan secepat mungkin" sambungnya
lalu mematikan telfonnya kemudian kembali ke ruang rawat Raffi.

setelah cukup lama dama dan yg lainnya menjenguk Raffi mereka pun pulang termasuk gigi, walaupun sebenarnya dia tak ingin pulang. setelah gigi dan yang lainnya pulang
masuk dokter dan satu orang suster menggunakan masker penutup mulut
"permisi pak bu, saya harus memeriksa pasien" ucap dokter itu
papa pun mengizinkannya walaupun sebenarnya menaruh curiga kepada dokter itu.
dokter itu pun memeriksa Raffi lalu menyuntikkan sesuatu ke Raffi dan suster penggantiinfus Raffi.
kemudian mereka keluar dari ruangan itu
"ma, afi ngantuk" ucap Raffi kemamanya
"ya sudah kamu istirahat ya" ucap mama amy lalu menyelimuti Raffi
kemudian Raffi pun tertidur
namun tak lebih dari lima menit setelah Raffi tidur datang dokter dan dua susternya
"permisi pak, ibu saya mau memeriksa pasien" ucap dokter itu membuat mama dan papa bingung
"tpi dok, dia baru saja diperiksa" ucap mama amy
"maaf bu tapi saya belum memeriksa pasien siang ini"
jawab dokter
"apa ada dokter lain yang menangani putra saya?" tanya pappa
"maaf pak, tpi dari awal yang menangani pasien hanya saya, dan saya memang belum memeriksa pasien siang ini" jelas dokter itu

BERSAMBUNG









Cerita ini hanya fiktif belaka,
Untuk komentar, kritik dan saran
silahkan ke akun twitter aku
@Liaa_RA17
thanks for reading......