Kamis, 03 November 2016

JUST A FRIEND TO YOU (Cerpen)

Jakarta, 2001

Raffi merutuki dirinya sendiri yang meninggalkan tempat pensil berserta isi-isinya di meja belajarnya dirumah dan berakhir dia tak tahu harus menulis menggunakan apa saat ini. Raffi menoleh kesamping kanannya, dimana Ferro teman sebangkunya yang tengah sibuk memindahkan catatan di papan tulis ke buku catatan miliknya.

"Fer," panggil Raffi sembari menyenggol siku Ferro.

"Pa'an?"

"Lo ada pulpen dua, nggak? Gue pinjem atu."

"Elah, Fi, ini aja pulpen dapetan di kolong meja si Adam tadi pagi."

"Duh, gimana dong? Pulpen gue ketinggalan."

"Pinjem si Nagita coba, kalau anak cewek biasanya pulpennya banyak."

"Gue nggak pernah ngomong sama dia, masak mau langsung minjam pulpen aja."

"Elah, Fi. Pinjem aja kali!"

Raffi memberengut kesal, bukannya apa, hanya saja Nagita, cewek yang duduk tepat didepannya ini sangat jarang bicara dan bergaul. Raffi jadi tidak enak sendiri kalau tiba-tiba meminjam pulpen darinya begitu saja. Tapi, dari pada dia tidak mencatat dan berakhir dimarahi Pak Burhan, guru sejarah yang terkenal galak itu, lebih baik dia memberanikan diri untuk meminjam pulpen pada Nagita.

"Nagita..." panggil Raffi pelan. Dan Nagita tak mendengarnya.

"Na, Nagita... hey." Panggil Raffi lagi kini sembari menoel-noel punggung Nagita dengan telunjuknya.

"Apa?" Tanya Nagita.

"Lo ada pulpen dua nggak? Gue pinjem satu?"

"Bentar," Gadis dengan kuncir kuda itu mengambil pulpen dari dalam kotak pensilnya yang berwarna pink. "Nih, jangan sampe hilang." Ucap Nagita sembari memberikan pulpen berwarna pink dengan mainan barbie diatasnya, pada Raffi tanpa menoleh sedikitpun ke Raffi.

"Hmm pink?... oke! Gue pake dulu ya?" Ucap Raffi dengan ragu tapi tetap mengambil dan mengenalan pulpen itu.

Uhh pink? Barbie? Sungguh perempuan sekali!!

..................

"Hemm Na, tunggu!" Raffi memanggil Nagita saat Nagita sedang berjalan di koridor kelas menuju gerbang sekolah.

"Ya?" Nagita memelankan langkahnya agar Raffi dapat menyusulnya.

"Ini, pulpen lo, makasih ya?" Raffi menyerahkan pulpen pink milik Nagita yang pagi tadi dipinjamnya.

"Oh. Ya." Jawab Nagita seadanya.

Bukannya Nagita sombong, dia hanya terlalu canggung untuk berbicara dengan orang yang baru dikenalnya. Ya walaupun mereka sudah saling kenal sebatas nama selama sebulan ,tapi tetap saja Nagita masih merasa canggung.

"Hmm, lo pulangnya jalan, naik angkutan umum, atau di jemput?" Tanya Raffi.

"Di jemput."

"Ooh. Lo dikelas kenapa jarang ngomong sih?"

"Cuma canggung aja. Belum terbiasa sama orang-orang baru."

"Dibawa santai aja kali, Na. Ntar lo nggak ada temennya kalau diam-diam aja. Besok jam istirahat, gabung sama gue aja, jangan sendirian mulu, ntar kesambet."

Nagita tersenyum kecil lalu mengangguk. "Gue duluan ya? Papa udah jemput." Ucap Nagita begitu melihat motor papanya di depan gerbang sekolah.

"Ya. Hati-hati." Jawab Raffi, membiar kan Nagita berjalan mendahuluinya menuju gerbang sekolah. Sementara Raffi melanjutkan lahkah kakinya ke tempat dia memarkirkan sepeda miliknya.

~~~~~~

"Na, ikut kekantin nggak?" Tanya Raffi saat jam istirahat pada Nagita.

"Hem, berdua doang?" Tanya Nagita.

"Enggak, bareng anak-anak yang lain, ada ceweknya kok. Mereka udah kekantin duluan tadi. Ayo akh, dari pada dikelas sendirian." Ajak Raffi lagi.

"Emang nggak papa?"

"Ya enggak lah! Ayo!" Raffi menarik tangan Nagita dan membawa Nagita menuju kantin, bergabung dengan teman sekelas mereka yang lainnya.

Berawal dari pulpen pink dengan boneke barbie. Raffi dan Nagita perlahan menjadi dekat. Dua orang yang selalu kemana-mana bersama.

☆☆☆☆☆

Jakarta, 2004

"Raffi, tungguin dong! Lo jalannya cepat banget sih!" Ucap Nagita cemberut karena Raffi berjalan terlalu cepat didepannya.

"Ish! Dasar kurcaci, makanya kaki lo panjangan dikit. Ayo cepat, ntar acaranya keburu dimulai." Gerutu Raffi, tapi tetap berhenti menunggu Nagita hingga berjalan sejajar dengannya.

"Gue susah jalan pake heels begini, anak monyet! Kalau jalannya cepet-cepet ntar gue jatuh." Ucap Nagita sembari menggandeng lengan Raffi dengan erat. Sekaligus untuk berjaga-jaga agar dia tidak jatuh akibat heels lima cm pilihan mamanya.

"Kenapa sih, harus pake heels segala? Ntar kaki lo lecet! Kalau nggak bisa nggak udah dipaksain, Na." Ucap Raffi lembut pada Nagita, dia tahu Nagita sangat jarang menggunakan alas kaki seperti itu dan dia juga takit jika temannya ini akan jatuh karena mengenakan alas kaki seperti itu di malam prom mereka.

"Kata mama, biar aku nggak keliatan banget pendeknya. Eh iya Fi, lo ganteng malem ini. Dan sesuai nama lo, lo juga RaFi malam ini." Ucap Nagita tulus.

Ya Raffi malam ini terlihat sangat berbeda, jauh lebih tampan menurut Nagita. Jika biasanya Nagita hanya melihat Raffi dalam balutan seragam sekolah ataupun kaos yang dipadukan celana jeans . Kali ini Nagita melihat Raffi yang berbeda, malam ini Raffi mengenakan kemeja putih ditambah jas berwarna Abu-abu dan dipadukan dengan celana bahan yang berwarna senada dengan jasnya. Oh tidak lupa sepatu pantofel hitam mengkilat yang memberi nilai plus pada penampilan Raffi malam ini. Disaat kebanyakan, anak laki-laki lainnya memilih jas hitam, entah mengapa Raffi justuh memilih warna abu-abu. Membuat dirinya berbeda dengan kebanyakan orang.

"Thanks, lo juga cantik banget malem ini. Tapi lo kelihatan kurang nyaman gara-gara hells itu." Ucap Raffi jujur.

Kalau Raffi terlihat begitu tampan dengan stelan Abu-abunya maka Nagita terlihat sangat cantik dan memukau dengan dress abu-abu selututnya. Sama seperti Raffi, Nagita mengenakan dress dengan warna yang berbeda dari teman-temannya yang kebanyakan mengenakan dress pink atau merah. Tapi untuk informasi saja, Raffi dan Nagita sama sekali tidak janjian mengenakan pakaian dengan warna yang sama seperti saat ini.

"Wuuu ini dia kurcaci dan anak monyet!"

"Kami kira, lo berdua nggak dateng. Lama banget."

Begitu masuk ke Aula yang telah didekor sedemikian rupa ini, Raffi dan Nagita langsung disambut teman-teman mereka yang sudah berada disana sejak tadi.

"Wah lo berdua kompakan bajunya! Janjian ya?" Ucap Adam yang pertama kali menyadari Raffi dan Nagita mengenakan pakaian yang sama.

"Iya! Sweet banget sih kalian." Tambah Astri.

"Enggak, gue sama dia nggak janjian. Kebetulan doang." Ucap Nagita.

"Lo berdua itu walaupun sering berantem tapi cocok kalau jadi pasangan. Kenapa kalian nggak pacaran sih?" Tanya Astri.

Ucapan Astri itu bukan sekedar bualan semata. Satu sekolah juga tahu kalau Raffi dan Nagita adalah dua sejoli yang tak bisa dipisahkan satu sama lain. Dimana ada Raffi si anak monyet maka di situ juga pasti ada Nagita si kurcaci. Begitu juga sebaliknya.

Mereka berdua benar-benar terkenal seantero SMA Taruna. Semua orang mulai dari satpam, penjaga kantin, seluruh siswa hingga seluruh guru mengenal mereka. Mereka terkenal sebagai murid yang paling sering bertengkar namun akan berbaikan lima menit kemudian. Dan jangan lupakan panggilan "anak monyet" yang diberikan Nagita pada Raffi dengan alasan tingkah Raffi seperti anak monyet yang tak pernah diam. Dan panggilan "kurcaci" yang diberikan Raffi untuk Nagita karena tinggi Nagita yang tidak lebih dari 155cm.

Namun, untuk sekarang kedua anak itu terlalu muda untuk mengenal perasaan "cinta" bagi mereka perasaan mereka hanya perasaan sayang terhadap TEMAN, tidak lebih.

Raffi dan Nagita tertawa lalu keduanya menggeleng, menanggapi ucapan Astri.

Raffi merangkul bahu Nagita "Gue sama kurcaci ini nggak cocok jafi pasangan kekasih, cocoknya jadi pasangan berantem." Ujar Raffi yang mendapat anggukan setuju oleh Nagita.

"Lagian, mana mau gue pacaran sama anak monyet ini!" Tambah Nagita.

"Maksud lo apaan? Gue itu keren tauk!! Banyak cewek yang ngantri buat jadi pacar gue." Ucap Raffi tak terima.

"Ciihh!! Najis banget sih lo anak monyet!" Nagita melepaskan rangkulan Raffi, lalu menatap Raffi dengan raut jijik.

"Ya ampun, Na. Tampang lo itu! Nggak usah sok jijik gitu! Biasa gue bekep lo juga diam aja!" Ucap Raffi lalu memiting leher Nagita dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya menjitak kepala Nagita berlaki-kali.

"Aduh duh anak monyet! Rambut gue rusak!"

"Dasar kurcaci, bilang gue ganteng dulu baru gue lepasin."

"Ogah! Anak monyet lepasin! Bandan lo bau menyet!"

"Enak aja! Gue wangi tauk!"

Dan selanjutjya yang terjadi adalah Raffi dan Nagita yang bertengkar terus menerus. Saling mengejek satu sama lain, saling memukul dan sesekali Nagita menendang Raffi. Namun, setelah mereka puas mereka saling berangkulan satu sama lain, sembari tertawa. Menertawakan kekonyolan mereka berdua.

Tiga tahun terasa begitu singkat untuk mereka berdua. Tiga tahun mereka habiskan dengan saling bercanda, membagi semua masalah dan kebahagian yang mereka miliki satu sama lain. Mereka selalu ada untuk satu sama lain.

Tiga tahun mereka jalani murni sebagai teman. Benar-benar teman dalam artian yang sesungguhnya. Mereka terlalu muda untuk mengenal 'cinta' diusia sekarang. Tapi tidak ada yang tahu nantinya.

Waktu terus berjalan tanpa henti. Waktu bisa saja membuat mereka merasakan perasaan yang lain. Mungkin perasaan cinta.

Tapi...

Waktu juga dapat memisahkan mereka.

Tidak ada yang tahu bagaimana waktu mempermainkan mereka. Kembali dipersatukan di tempat yang baru atau terpisahkan jarak dan waktu.

Berawal dari pulpen pink dengan boneka Barbie.

♡♡♡♡♡

BELASAN TAHUN KEMUDIAN.

Nagita memarkirkan mobilnya dengan cepat sambil beberapa kali merutuki dirinya yang tadi kesiangan bangun hingga harus terburu-buru seperti sekarang.

Setelah memastikan mobilnya terparkir dengan sempurna, Nagita langsung turun dari mobil dan berjalan cepat - nyaris lari bahkan, menuju terminal kedatangan Internasional di bandara Soetta.

Sesampainya di sana senyumnya langsung merekah melihat sosok yang ingin dijemputnya pagi ini. Sosok laki-laki yang sangat dicintainya, numun sayang hanya menganggapnya sebagai teman.

"Anak monyet! Sini!" Nagita yang tingginya tak sampai 155cm itu melambai-lambaikan tangannya, memanggil seorang laki-laki yang sedang celingukan seperti mencari-cari sesuatu.

Laki-laki itu tersenyum begitu melihat Nagita, lalu berjalan menghampiri Nagita dengan senyum yang mengembang lebar dan terkesan konyol.

Bisa-bisanya Nagita menyukai laki-laki satu ini!

Hey, cinta tidak bisa memilih akan jatuh pada siapa.

"Kurcaci! Sumpah gue kangen banget sama lo!" Raffi, laki-laki itu, membawa Nagita kedalam pelukannya yang erat dan terkesan posesif.

"Monyet! Gue sesek! Lepas, bego!" Nagita itu berusaha melepaskan pelukan Raffi dengan meronta didalam pelukan Raffi namun bibirnya tetap menyunggingkan senyuman.

"Biarin gini dulu kenapa sih, Na?"

"Tapi gue-nya sesak Raffi Auriga!" Dan lo bikin gue baper! Tambah Nagita dalam hatinya. Dia tak mungkin mengatakan hal itu pada Raffi. "Lo kayak nggak ketemu gue berabad-abad tau nggak!!" Tambah gadis itu dengan menghilangkan senyumannya dan memasang tampang sok galak, namun sesungguhnya dia juga sangat sangat merindukan Raffi, laki-laki yang hanya menganggapnya sebatas TEMAN.

Kebersamaan yang mereka lalui bukanlah waktu yang singkat dan kebersamaan itu membuat perasaan Nagita pada Raffi berubah. Dari yang dulunya perasaannya pada Raffi hanya teman tapi kini perasaan itu berubah menjadi cinta. Entah sejak kapan, tapi perasaan cinta itu semakin lama semakin dalam. Namun sayang hanya perasaan Nagita tak berbalas, Raffi hanya menganggapnya teman.

"Gue kangen,"

Gue juga!

"Njirr lebay banget lo!"

"Lo tu ya, ngerusak suasana aja." Raffi melepaskan pelukannya pada Nagita, lalu mengacak-acak rambut Nagita hingga benar-benar berantakan.

"Raffi monyet! Rambut gue jadi berantakan!" Nagita berusaha merapikan rambutnya yang sudah tak tahu jadi model apa sekarang karena tangan jahil Raffi.

"Nggak papa, lo tetap kayak gembel kok. Udah pulang yok, gue laper banget sumpah!" Raffi merangkul bahu Nagita dengan tangannya yang bebas sementara tangan satunya lagi membawa koper miliknya.

"Beli makan diluar aja lah, gue males kalau lo suruh masak."

"Padahal gue pengan makan masakan lo. Tapi pesen juga nggak papa lah. Tapi makannya di Appartmen gue aja ya? Capek banget ini."

"Ya, terserah lo aja."

Lalu mereka berdua pun berjalan dengan santai sambil berangkulan menuju mobil Nagita sembari bercerita tentang apa saja yang dilakukan Radfi selama tiga minggu di Jerman.

Siapun yang melihat mereka pasti beranggapan jika mereka adalah sepasang kekasih atau bahkan sepasang suami istri, namun sayang, mereka hanya sebatas teman. Tidak lebih.

Nagita memang mencinta Raffi, namun tidak dengan Raffi. Laki-laki itu hanya menganngap Nagita sebagai TEMAN, tidak lebih.

.
.
.
.
.

"Gue heran sama lo, Na. Kalau emang lo suka sama dia kenapa nggak bilang aja sih?"

"Gue takut!" Nagita menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

"Terus lo mau sampai kapan kayak begini? Sampe lo jadi perawan tua? Na, inget umur lo itu udah dua puluh sembilan! Harusnya lo udah nikah dan punya anak, bukannya galau-galau nggak jelas begini! Gue aja udah punya buntut satu, lu pacar aja kagak punya!" Repet Intan.

"Lo kenapa sih jadi nyudutin gue gini sih Ntan? Gue kan kesini buat minta saran lo, bukan buat nyudutin gue."

Ya Nagita datang kerumah teman semasa kuliahnya dulu untuk curhat masalah perasaannya yang tak pernah berbalas pada Raffi. Tapi sejauh uni yang didapat Nagita hanyalah repetan ibu satu anak ini. Menyebalkan!!

Padahal ini pertama kalinya Nagita mau membuka masalah perasaannya terhadap orang lain. Selama ini Nagita hanya menyimpannya sendiri, dia terlalu malu mengakui bahwa dia mempunyai perasaan lebih pada temannya sejak SMA. Tak ada yang salah memang, hanya saja menurut Nagita itu aneh.

"Gini ya Nagitaaaa. Saran gue, elo itu.harus.nyatain.perasaan.elo.ke.dia. Udah! Untuk sekarang cuma itu yang perlu lo lakuin." Ucap Intan penuh penekanan.

"Tapi gue takut kalau dia jadi ngejahuin gue karena hal ini. Dia nggak suka sama gue, Ntan. Dia cuma nganggap gue temennya."

"Ini yah, Na. Semua orang juga tahu kali, kalau dia itu juga suka sama lo. Jujur nih ya, gue juga sebenernya tahu kok kalau lo suka sama si Raffi. Lo cinta sama dia semenjak dia nyaris di DO dan masuk penjara gegara mukulin si Galih waktu itu kan?"

"Haah? Lo, ta-tau dari mana?" Tanya Nagita tergugu. Dia benar-benar tak peenah mengatakan pada siapapun kalau dia menyukai Raffi. pasti sedang berbohong padanya.

"Nagita sayang, denger ya. Semua orang satu kampus itu tahu kalau kalain saling suka, makanya anak-anak tuh nggak ada yang ngedeketin lo berdua karena semua pada mikir kalian itu pacaran. Apalagi setelah kejadian Galuh itu. Sampe sekarang aja gue nggak nyangka Raffi bisa mukulin anak orang sampe begitu."

"Tapi Raffi nggak suka sama gue."

"Dengerin gue! Emang ada cowok yang cuma nganggep lo temen tapi meluk-meluk lo? nenangin lo kalau lo lagi sedih? Ada emang cowok yang nganggap lo teman tapi ngelindungi lo dari apapun bahkan saat dia ngelindungi lo, dia nggak mikirin dirinya sendiri. Ada gitu cowok yang kalau nggak ketemu sama lo seharian aja bilang kangen ke lo? Nggak bakalan ada, Na! Dia itu nganggap lo lebih dari teman, Na. Percaya sama gue. Coba lo omongin ini sama dia. Kalian nggak bisa gini terus, seenggaknya lo harus ungkapin perasaan lo. Urusan dia cuma nganggap lo sebagai teman, itu urusan belakangan."

"Tapi gue takut dia bakal ngejahuin gue kalau dia tahu gue suka sama dia. Gue nggak bisa, Ntan."

"Gue yakin Raffi nggak sepicik itu untuk ngejahuin lo hanya karena lo suka sama dia. Omongin aja, Na. Dari pada lo BAPER terus disisa hidup lo."

.
.
.
.
.

Nagita hanya duduk diam menatap kearah TV yang menampilkan bocah kembar Upin & Ipin bersama teman-temannya, namun walaupun pandangannya tertuju pada layar televisi tapi fikirannya berada ditempat lain. Dia memikirkan perkataan Intan minggu lalu, haruskah dia mengungkapkan perasaannya pada Raffi?

Tapi bagaimana jika Raffi malah menjahuinya? Atau bahkan membenci dirinya? Nagita sungguh tak bisa hidup dengan benar jika itu benar-benar terjadi. Dia sudah terbiasa hidup dengan Raffi disekitarnya selama hampir lima belas tahun hidupnya. Hidupnya pasti akan berantakan jika itu terjadi.

Tanpa sadar Nagita menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat. Dia benar-benar tidak bisa kalau itu benar-benar terjadi.

"Lo kenapa geleng-geleng gitu? Sakit?" Tanya Raffi yang baru saja keluar dari kamarnya dengan menggunakan kaus oblong putih dan celana jeans, dibahunya tersampir handuk kecil yang digunakannya untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah.

"Eh? Lo udah kelar mandinya?" Tanya Nagita salah tingkah.

"Kelihatannya? Lo kenapa tadi geleng-geleng gitu?" Tanya Raffi mengulang pertanyaan tadi sembari mengambil tempat disebelah Nagita.

"Hmm enggak, gue cuma lagi mikir aja tadi." Jawab Nagita tak sepenuhnya berbohong, toh tadi dia memang sedang berfikirkan? Berfikir tentang kemungkinan terburuk jika dia mengungkapkan perasaannya pada Raffi.

"Nggak percaya gue! Hanyo ngaku lo kurcaci kecil, mikirin apa tadi? Mikirin yang jorok-jorok ya?" Tanya Raffi yang kini sudah memiting kepala Nagita di ketiaknya.

"Nggak! Gue nggak mikir jorok! Lepasin anak monyet!" Nagita memukul-mukul lengan Raffi agar melepaskannya, namun sepertinya Raffi tak berniat melepaskan Nagita sedikitpun. Malah tambah mengeratkan pitingannya sambil tertawa.

"Nggak! Ngaku lo, mikirin apaan tadi?" Sementara tangan kirinya memiting kepala Nagita, tangan kanannya kini mulai menggelitiki daerah pinggang dan perut Nagita.

"Anak monyet! Wahaha... haha Raffi!... ampun... haha..."

"Ngaku nggak lo? Mikirin apa?"

"Haha... ha enggak... Raffi.... haha... ampun... ampuuun... hahaha... ampun..." Nagita terus menggeliat kegelian, karena Nagita memang tidak tahan di gelitiki dan Raffi tentu saja tahu hal itu.

Bahkan posisi mereka yang tadinya duduk sudah berubah menjadi tiduran. Dengan Nagita yang berada dibawah kungkuhan Raffi yang terus menggelitiki Nagita tanpa ampun.

"Raffiiii... haha... ampuuunn... hahaha..." Nagita terus merancau dan berusaha melepaskan diri dari Raffi. Dia benar-benar sangat kegelian sekarang, Raffi memang sungguh keterlaluan kalau soal menyiksa dirinya.

"Cepetan ngaku! Lo tada mikirin apa? Kalau nggak, gue nggak bakal berhenti ngegelitikin lo." Ucap Raffi tanpa menghentikan tangannya yang menggelitiki Nagita.

"Gu... hahaha.... enggak...haha... beneran..."

"RAFFI AURIGA!! Astaghfirullah!"

Hening.....

Raffi berhenti menggelitiki Nagita, mereka berdua saling tatap, kemuadian sama-sama menoleh keasal suara dan mendapati Rahma, mama Raffi berdiri disana dengan tampang marah.

"Oh mama."

"Tante."

Ucap Raffi dan Nagita bersamaan, lalu kembali saling pandang seakan tak ada masalah apapun.

"Ya Allah, Raffi! Kamu ngapain? Turuun!" Teriak Rahma dengan wajah memerah.

Raffi mengerutkan keningnya bingung kenapa mamanya yang baru datang tiba-tiba saja marah. Turun? Turun dari mana pula! Raffi kembali menatap kearah Nagita dengan tatapan yang menyiratkan 'maksudnya apaan sih'

"Posisi lo anak monyet! Lo nyaris nindihin gue! Turun!" Ucap Nagita dengan pipi memerah malu.

Nagita baru menyadiri kalau posisi mereka benar-benar tidak pantas. Bagaimana bisa pantas, Nagita berbaring sepenuhnya diatas sofa. Sementara posisi Raffi, astaga! Kedua kaki Raffi berada diantara kedua kaki Nagita, sementara tubuhnya nyaris menindih Nagita kalau saja tangan kirinya tak bertumpu di dekat bahu Nagita.

Begitu menyadari posisinya, Raffi langsung menyengir lebar kearah mamanya, lalu turun dari atas Nagita sembari menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tak gatal. Begitupun Nagita yang langsung duduk membenahi penampilannya yang berantakan karena ulah Raffi. Oh... Nagita sungguh malu sekarang.

"Raffi, duduk!" Titah Rahma pada anak bungsunya yang satu ini.

Tanpa membantah Raffi pun duduk disebelah Nagita. Begitu dia duduk,  kakinya dan kaki Nagita langsung saling tendang, saling menyalahkan satu sama lain, tak ubahnya anak kecil.

"Lo ini gara-garanya!" Cibir Nagita dengan nada suara yang sangat pelan.

"Lo duluan!" Ucap Raffi tak kalah pelannya, tapi matanya melirik kearah Nagita. Namun hanya sebentar, Raffi langsung mengembalikan pandangannya kedepan.

"Heh! Kurcaci, kancing lo kebuka." Bisik Raffi pada Nagita.

"Hah? Apa?"

"Kancing baju lo kebuka. Belahan dada lo kelihatan." Ucap Raffi sekali lagi, kini dengan lebih jelas.

Mendengar hal itu, Nagita langsung menutupi bagian dadanya dengan kedua tangannya. Sungguh dia sangat-sangat malu sekarang. Bisa-bisanyaa ya Tuhan! "Lo kenapa ngelihat, anak monyet!!" Geram Nagita.

"Nggak sengaja, Na. Sumpah! Lagian dada lo kecil ini, jadi nggak terlau kelihatan kok."

"Anak monyet!!!" Nagita menginjak jari-jari kaki Raffi dengan tumit sekuat tenaganya.

"Aaww aduh duh duh... Sakit kurcaci!" Teriak Raffi karena Nagita benar-benar menginjak kakinya dengan sangat kuat.

"Kalian ini!" Geram Rahma, sedari tadi dia terus memperhatikan dua orang didepannya ini berbisik-bisik tidak jelas, menyalahkan satu sama lain.

"Maaf," ucap Nagita dan Raffi bersamaan.

"Kalian ini sudah tua, tapi kelakuannya masih saja seperti anak kecil."

Diam...

Raffi dan Nagita hanya diam, tak tahu harus menyanggah ucapan Rahma dengan apa, karena yang diucapkan Rahma memang benar. Bahkan disaat seperti sekarang pun kaki mereka terus menendang satu sama lain, saling menyalahkan.

"Kalian berdua itu benar-benar ya? Sudah! Jangan tendang-tendangan lagi!" Ucap Rahma lalu menghela nafasnya lelah.

"Raffi, jelaskan ke mama, apa maksud kamu nindih-nindihin Nagita seperti tadi?"

"Itu tadi, Raffi cuma ngegelitiki Nagita, ma. Bukan nindihin." Jawab Raffi jujur.

"Iya kok, Tan." Tambah Nagita, membenarkan perkataan Raffi.

"Kalian sudah hampir kepala tiga dan masih main gelitik-gelitikan?" Tanya Rahma sambil memijit pelipisnya. Anak bungsunya dan sahabatnya ini benar-benar tak pernah dewasa.

"Nggak ada yang salah, ma. Orang dewasa juga perlu hiburan. Oh iya, tumben mama ke Jakarta nggak bilang-bilang? Mama sendiri? Kenapa nggak bilang sih? Tahu mama bakal datang, Raffi bisa jemput dibandara." Raffi mulai mengalihkan pembicaraan, dia tidak mau tetus-terusan diintrogasi seperti penjahat yang mencuri ayam oleh ibunya. Toh dia merasa tak melakukan kesalahan apapun.

"Raffi Auriga Nash, jangan mengalihkan pembicaraan sayang."

"Mama, ayolah. Kami tadi cuma bercanda. Nggak maksud apa-apa, nggak ada maksud mau tindih-tindahan, suer deh ma." Raffi mengangkat jari telunjuk dan tengahnya sehingga membentuk huruf 'V' pada mamanya.

Melihat tingkah Raffi itu, Nagita hanya memutar bola matanya malas. TEMANnya itu selalu seperti anak kecil jika berasama dengan mamanya. Dan Nagita menganggap Raffi benar-benar anak mama. 

"Seharusnya kalian tidak bermain-main sampai seperti itu! Bagaimana kalau sampai ada setan lewat? Mama tidak ingin mempunyai cucu diluar nikah."

Raffi dan Nagita sama-sama membelalakkan mata dengan mulut terbuka setengah. Lalu mereka saling tatap sebentar, kemudian menggeleng-gelengkan kepala mereka. Bagi mereka pemikikiran Rahma terlalu ajaib.

Nagita menutup wajahnya dengan satu tangannya. Dia tidak mengerti kenapa Rahma bisa-bisanya berfikir sejauh itu. Yang benar saja!! Nagita memang mau memiliki anak bersama Raffi, tapi tidak diluar nikah juga!! Itu pun kalau Raffi mau menihkah dengannya!!

Astaga, Nagita! Apa yang baru saja kau fikirkan??!!

Sedangkan Raffi, dia menyandarkan tubuhnya disandaran sofa dan menatap mama nya dengan tatapan tak bisa dibaca.
"Memangnya menurut mama, Raffi sebejat itu ya?" Tanya Raffi dengan nada sedikit lirih berpura-pura sedih lebih tepatnya.

"Ya hal itu bisa saja terjadi. Dijaman sekarang itu hal biasa terjadi. Tapi mama tidak akan menolerin jika itu sampai benar-benar terjadi."

"Raffi nggak sebejat itu, ma. Oke? Raffi dan Nana sangat - sangat tahu batasan diantara kami. Mama nggak perlu mikir sejauh itu." Ucap Raffi lagi.

"Maaf, mama keterlaluan. Mama memang tidak harusnya mengatakan hal itu." Ada jeda cukup lama sebelum Rahma melanjutkan ucapannya yang membuat suasana diruamgan itu bertambah canggung.

"Heem, Raffi, Nana, kalian sudah mengenal sangat lama. Hem, kalian tidak berniat untuk menikah?"

Raffi yang mendengar itu langsung tersedak ludahnya sendiri. Sementara Nagita berusaha menutupi pipinya yang tiba-tiba saja memanas.

PERTANYAAN JENIS APA ITU??!!

"Ma, Raffi rasa mama tahu kalau Raffi dan Nana hanya berteman."

Dengar baik-baik Nagita! Raffi hanya mengganggap mu TEMAN!

HANYA TEMAN!!

Jangan berharap banyak!

Nagita menarik nafas panjang, sebelum memberikan senyum pada mama TEMANnya. "Iya Tan, kami hanya berteman." Ucap Nagita, membenarkan ucapan Raffi.

"Boleh tante jujur?" Tanya Rahma yang dijawab anggukan oleh Nagita.

"Tante tidak percaya ada pertemanan yang tidak dibumbui perasaan cinta antara laki-laki dan perempuan. Apalagi diantara kalian, kalian sudah berteman sejak satu, dua, tiga,....." Rahma mulai menghitung berapa lama anak bungsunya dan Nagita berteman.

"Hah! Hampir lima belas tahun! Kalian hampir berteman selama hampir lima belas tahun! Astaga! Tante benar-benar tidak percaya lima belas tahun kalian selalu bersama tanpa ada cinta?"

Oh ya ampun, Tante! Tante benar,tak ada pertemanan yang murni antara laki-laki dan perempuan. Aku mencintai anak tante! Namun sayangnya anak tante tidak! huh! Aku sungguh perlu dikasihani!. Batin Nagita.

"Mama, kenapa kita jadi ngebahas ini? Sebenarnya mama ada perlu apa jauh-jauh dari Bali ke Jalarta? Tidak mungkin hanya membahas ini kan?"

"Kamu mengusir mama, Raffi?"

"Astaga! Bukan ma. Gini, Raffi tadi mau pergi sama Nana. Raffi mau beli beberapa baju, baju Raffi hampir semuanya sudah kekecilan. Raffi butuh baju baru untuk Raffi pakai kerja besok. Kalau mama terus membicarakan hal tidak jelas seperti ini, Raffi nggak jadi beli baju dan besok hingga satu minggu kedepan Raffi akan pakai baju yang sangat ketat. Mama mau anak mama yang sangat amat tampan ini bekerja dengan baju yang kekecilan?" Ucap Raffi panjang lebar.

"Baiklah baiklah. Itu sama saja kamu mengusir mama. Tapi sayangnya, mama akan menginap disini sampai besok. Nanti malam mama harus menghadiri acara resepsi pernikahan anak teman mama, dan mama mau kamu ikut. Kalau kalian mau pergi sekarang, silahkan. Tapi ingat, jangan sampai malam." Ucap Rahma lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar yang biasa ditempatinya saat berada di apartmen Raffi.

"Ayo!" Ucap Raffi pada Nagita setelah mengambil kemeja untuk dipakainya.

>>>>><<<<<<

"Maaf, nyokap gue tadi." Ucap Raffi memulai percakapan mereka saat memasuki mobil.

"Hmm.." Respon Nagita sekenaknya sembari menghidupkan radio.

"Na, ntar pilih bajunya yang warna netral aja. Jangan yang ngepas banget juga, risih gue nya."

"Iya. Bawel banget sih?" Ucap Nagita yang masih sibuk mencari siaran radio  yang menurutnya bagus.

Cukuplah saja berteman dengan ku
Janganlah kau meminta lebih
Ku tak mungkin mencintaimu
Kita berteman saja
Teman tapi mesra

"Njiirr lagu tahun kapan nih diputar lagi?" Rutuk Nagita saat Radio itu memutarkan lagu Ratu- Teman Tapi Mesra.

Ini lagu ngejek gue apa gimana nih? Kayak lo sama gue ya Fi? Temen, tapi mesra. Pikir Nagita dalam hati.

Elah mikir apaan sih lo Na!!

Tangan Nagita kembali terulur untuk mengganti siaran radio itu.

Sudah sewindu, ku di dekatmu.
Ada di setiap pagi, di sepanjang harimu.
Tak mungkin bila engkau tak tahu,
bila ku menyimpan rasa yang kupendam sejak lama.

Kita nyaris dua windu, Fi! Tapi lo nggak nyadar-nyadar! Kampret ini lagu! Batin Nagita, tangannya kembali terulur untuk mengganti siaaran radio yang jelas-jelas memutarkan lagu yang menyindirnya habis-habisan ini.

"Elah, Na! Di tukar-tukan mulu. Ini aja kenapa sih? Suaranya Tulus bagus ini." Ucap Raffi menghentikan gerakkan tangan Nagita.

Lagunya gue banget! Ntar gue baper ribet urusannya Raffi!!

"Hmm.." Nagita hanya bergumam, menuruti perkataan Raffi untuk tak menukar siaran radio kampret itu.

Nagita berusaha tak mendengarkan lanjutan lirik lagu Tulus - Sewindu yang awalnya saja sudah menyindir. Hingga lagu itu berakhir Nagita memainkan ponselnya.

"Gimana? Lagunya Tulus pas banget kan buat kalian semua yang udah kasih perhatian ke orang yang kalian suka, tapi sayangnya orangnya nggak nyadar-nyadar. Kasian!" Suara penyiar radio itu terdengar sangat mengejek Nagita.

Eh? Penyiar kampret! Ngeledek nih orang.

"Nah kali ini gue bakal putarin lagu yang ada di salah satu Album terbaru Meghan Trainor - Thank you. Buat semua yang terjebak friendzone mari kita dengerin Meghan Trainor - Just A Friend To You." Lanjut penyiar itu lagi.

Ini kenapa pada muterin lagu begini? Awas kalau nyindir gue lagi!

Why you gotta hug me
Like that every time you see me?
Why you always making me laugh
Swear you're catching feelings

Kampret! Ini lagu, astagaaaa.

I loved you from the start
So it breaks my heart
When you say I'm just a friend to you
Cause friends don't do the things we do

Gue nggak dari awal sih, dari tengah-tengah. Tapi bener gue sakit hati!
Ia bener juga, mana ada temen yang kayak kita berdua.

Everybody knows you love me too
Tryna be careful with the words I use
I say it cause I'm dying to
I'm so much more than just a friend to you

Kata si Intan semua orang tahu, kalau lo suka sama gue. Tapi apa gue harus nyatain perasaan gue?

When there's other people around
You never wanna kiss me
You tell me it's too late to hang out
And you say you miss me

And I loved you from the start
So it breaks my heart

When you say I'm just a friend to you
Cause friends don't do the things we do
Everybody knows you love me to
Tryna be careful with the words I use
I say it cause I'm dying to
I'm so much more than just a friend to you

You...

You say I'm just a friend to you
Friends don't do the things we do
Everybody knows you love me too
Tryna be careful with the words I use
I say it cause I'm dying to
I'm so much more than just a friend to you

A friend to you
A friend to you
A friend to you

Kampret!!

Setelah lagu itu habis, Nagita langsung mematikan radio itu dan tak mengeluarkan sepatah katapun lagi. Dia benar-benar merutuki Meghan Trainor yang menyanyikan lagu yang membuatnya baper setengah mati sekarang.

♡♡♡♡♡

Sudah dua minggu berlalu dan Nagita memutuskan untuk tidak menemui Raffi dulu sekarang. Mereka tetap saling mengabari satu sama lain tapi Nagita selalu mencari alasan jika Raffi memintanya bertemu. Bukannya apa, Nagita hanya ingin memantapkan hatinya dulu.

Gara-gara mendengarkan lagu Meghan dua minggu lalu itu, Nagita menjadi kefikiran untuk mengungkapkan perasaannya langsung pada Raffi. Masa bodoh jika setelah ini dia dan Raffi jadi menjauh. Yang pinting dia sudah mengungkapkan isi hatinya. Pekara Raffi membalas perasaannya atau tidak itu urusan nanti. Seperti kata Intan, setidaknya dia sudah jujur tentang perasaannya. Dan juga seperti kata Meghan Trainor dilagunya itu, Nagita sudah sekarat karena memendam cinta itu sendirian.

Oke! Baiklah Nagita akan menemui Raffi besok. Nagita mengambil ponsel di sakunya dan mengirimkan persan pada Raffi.

Too : Anak Monyet 🐵

Besok pagi gue ke Appartmen lo ya?
Jangan kemana-mana.
Ada yang mau gue omongin.

Setelah mengetikkan pesan itu, Nagita kembali memasukkan ponselnya kedalam tas dan mengambil kunci mobilnya. Menjalankan mobilnya kesebuah tempat makan untuk mengisi perutnya yang kosong.

♡♡♡♡♡

Nagita mendengus kesal, menyibakkan gorden yang berada dikamar Raffi selebar-lebarnya, membiarkan cahaya matahari yang sudah mengeluarkan cahanya yang begitu terik masuk kedalam kamar laki-laki itu.

Namun Raffi yang masih tertidur dengan posisi tengkurap sama sekali tidak terusik sedikitpun karena cahaya itu. Dia tetap berada di alam mimpinya yang panjang.

Nagita yang melihat itu hanya menggeleng-gelengkan bisa kepalanya. Dia sudah biasa melihat Raffi seperti ini.

Tadi Nagita datang sekitar pukul sembilan dan tentu saja Raffi masih tidur. Nagita tahu pin appartment Raffi, jadi dia tinggal masuk saja tanpa harus menunggu tuan pemalas ini bangun.

Nagita juga sudah membereskan appartemen, memasak untuk makan siang, dan menonton TV hingga dia bosan. Tapi, Raffi belum juga bangun hingga jam setengah satu.

"Anak monyet, bangun!" Nagita memukul-mukul tubuh Raffi dengan bantal sekuat yang ia mampu. Bukannya Nagita sadis hanya saja Raffi tak akan bangun jika dibangunkan dengan cara pelan, jadi siksa saja sekalian.

"RAFFIIIII BANGOOON!!" Teriak Nagita yang hanya dijawab dengan erangan tak suka oleh Raffi.

"Dasar anak monyet!" Nagita kesal sendiri karena tidak bisa membangunkan Raffi. Akhirnya dengan seluruh tenaga yang ia miliki, untum membalikkan posisi tengkurap Raffi menjadi terlentang. Setelah berhasil Nagita naik ketempat tidur dan duduk diperut Raffi. Sebodo dengan Raffi yang akan keberatan.

Nagita mengelurkan tangannya hidung Raffi, ibu jari dan telunjuknya pengapit hidung Raffi dengan kuat.

Lima detik...........Raffi tidak bereaksi apapun.

Sepuluh detik........ Raffi mulai menyeritkan keningnya karena tidurnya mulai terusik.

Tiga belas detik........ Raffi membuka mulut dan matanya. Mencoba mencari udara yang tak didapatkannya.

"Astaga!!" Raffi menepis tangan Nagita dengan cepat kemudian mengambil oksigen sebanyak yang dia mampu. Nafasnya masih tak beraturan, Raffi mengeram marah pada Nagita yang sudah tertawa terbahak-bahak diatas perutnya.

"Lo mau bunuh gue ya??"

"Enggak, cuma mau bangunin doang." Ucap Nagita disela tawanya tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"Turun!" Geram Raffi.

"Enggak! Kalau gue turun lo tidur lagi. Bangun lah, Fi. Udah siang banget inee!!" Bukannya turun Nagita malah menekan-nekan perut Raffi dengan lumayan kuat.

"Argh! Lo beneran mau bunuh gue ternyata. Turun!" Uap Raffi semakin kesal. Tidurnya terganggu dan sekarang Nagita menduduki perutnya membuat Raffi susuah bernafas.

"Enggak mau! Lo bangun dulu!" Kukuh Nagita.

Raffi menggelengkan kepalanya dan berdecak kesal namun detik berikutnya senyum miring tercetak jelas dibibirnya. Dan itu membuat Raffi terlihat lebih tampan dimata Nagita.

"Beneran nggak mau turun?" Tanya Raffi pelan, tak ada jawaban dari Nagita.

Dengan sekali sentak Raffi menarik tubuh Nagita hingga sepenuhnya menimpah dirinya. Menghiraukan pekik-kan kaget Nagita, Raffi kini sudah memeluk erat tubuh Nagita.

"Huuaaa Raffiiiii!! Lo mau ngapain??" Tanya Nagita panik, posisi mereka sangat-sangat tidak pantas sekarang. Jantung Nagita berdetak berkali-kali lipat dari biasanya, dia sama sekali tidak bisa melepaskannya pelukan Raffi padanya walaupun Nagita sudah berusaha menggerak-gerakkan tubuhnya agar bisa terlepas.

"Na lo jangan gerak-gerak gitu. Adek gue jadi bangun kan." Ucap Raffi pelan, tepat ditelinga Nagita.

Tubuh Nagita menegang. Raffi bilang apa tadi? Adek? Adeknya bangun? A-adek! "RAFFI MESUUUMM!!" Teriak Nagita dengan wajah memerah hingga ketelinga. Dengan sekuat tenaga yang dia miliki, Nagita berusaha melepaskan pelukkan Raffi namun tetap saja tenaga Raffi lebih kuat darinya.

"Makanya jangan ngisengin gue!" Raffi membalikkan posisi mereka, kini Nagita berada dibawa kungkuhan Raffi. Senyum mengejek terpampang di wajah Raffi, "eh, kurcaci! Muka lo merah banget sampe kekuping."

Rasanya Nagita ingin mengubur dirinya hidup-hidup sekarang juga. Mengumpati Raffi dengan segala macam jenis hewan di kebun binatang sana.

"Anak monyet! AWAS!!!" Teriak Nagita.

Raffi hanya senyum-senyum tak jelas lalu turun, berjalan menuju kamar mandi meninggalkan Nagita yang terus dan tanpa henti mengumpati Raffi.

*****

"Nagitaaaaa. Lapeerr!!" Teriak Raffi begitu keluar dari kamar, membuat Nagita berdecak kesal.

Raffi seakan melupakan bercandaannya tadi yang sangat kelewatan menurut Nagita. Emang Raffi kampret!

"Nggak usah teriak-teriak!" Ucap Nagita galak dari dapur, dia masih kesal dan malu karena bercandaan Raffi tadi.

"Lapeerr!" Rengek Raffi sembari memegangi perutnya mengeluarkan bunyi. Ouch! Cacing-cacing didalam perut Raffi sudah demo didalam sana.

"Sini makan! Gue udah masak." Walaupun kesal, Nagita tetap saja tidak tega tidak memberi makan TEMAN nya ini.

"Aye aye captain!" Ucap Raffi semangat lalu berjalan kemeja makan. Begitu duduk Raffi langsung mengambil nasi beserta lauk pauknya dengan cepat.

"Ini." Nagita meletakkan segelas jus jeruk didekat Raffi lalu duduk dan mulai ikut menyantap makan siang.

"Raffi lo kayak orang nggak makan seminggu tau nggak! Pelan-pelan napa sih?" Ucap Nagita melihat Raffi yang makan persis orang tidak makan seminggu. Nagita sudah selesai dari tadi namun sepertinya Raffi tak akan berhenti jika meja ini belum benar-benar kosong.

"Gu...we em.."

"Habisin dulu yang dimulut itu!" Nagita memukul pelan tangan Raffi.

Raffi memutar bola matanya kesal, perlakuan Nagita persis seperti mamanya. "Gue terakhir makan kemaren pagi. Jadi gue laper banget ini." Ucap Raffi lalu kembali memakan makanannya.

"Lo ngapain aja sampe nggak makan? Mau mati ya?"

"Enggak lah! Gue banyak kerjaan, buat nafas aja gue susah apa lagi makan."

"Bego!" Nagita melemparkan serbet kewajah Raffi. "Kalau lo sakit gimana hah? Makan itu penting! Lo itu ya."

"Elah Na! Gue nggak papa ini." Jawab Raffi acuh membuat Nagita berdecak kesal.

*****

Setelas selesai makan siang, Raffi dan Nagita memilih untuk tidur-tiduran di depan TV tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Nagita sudah menimbang-nimbang kapan dia akan memgatakan perasaannya pada Raffi. Dan juga mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk kalau-kalau Raffi hanya menganggapnya teman dan akan menjahuinya.

"Kita kayak suami istri ya Na?" Ucap Radfi tiba-tiba.

"Hah? Lo bilang apa tadi?" Nagita kaget, pasti dia salah dengar.

"Lo udah pendek budek lagi! Nggak, nggak ada. Lupain aja." Raffi mengibaskan tangannya acuh.

Hening cukup lama.....

"Fi?"

"Hmm?"

"Gue mau ngomong sesuatu."

"Pa'an? Biasanya langsung omong juga."

"Tapi gue mau lo janji, kalau lo nggak bakal ngejahui gue karena hal ini. Cukup abaikan aja, anggap gue nggak pernah ngomongin ini. Gue...."

"Apaan sih Na?" Raffi bangkit dari tidurnya dan duduk menghadap kearah Nagita sepenuhnya. "Ngomong aja kali. Gue nggak bakalan ngejahuin lo apapun yang terjadi dan sampai kapanpun. Gue janji. Ada apa?" Tanya Raffi menatap Nagita dengan intens.

Ditatap seperti itu oleh Rdfi membuat Nagita menjadi gugup setengah mati. Ini tak seperti bayangan Nagita, seharusnya dia tidak segugup ini. Bahkan saat dia sedang menangani kasus besar saja dia tak segugup ini!

Nagita dengan canggung ikut duduk menghadap Raffi, namun Nagita terus menundukkan kepalanya tanpa mau menatap Raffi.

"Mau ngomong apa?" Tanya Raffi.

"Beneran janji ya, Fi?"

"Iya. Lo bikin gue penasaran mampus ini!"
.
.
"Fi, kita ini apa sih?"

"Hah?"

"Gue suka sama lo, Fi. Gue cinta sama lo. Gue nggak tahu mulai dari kapan tapi sekarang gue bener-bener cinta sama lo. Gue mau nanya lo ini, nganggap gue apa?"

Raffi tercengang. Ini sama sekali bukan seperti perkiraannya. Nagita mencintainya! Oh GOD!

"Na, tapi lo tahu gue nganggap lo sebagai teman, sahabat, bahkan saudara. Nggak seharusnya lo...."

Nagita merasa jantungnya diremas begitu kuat, rasanya begitu sakit. Nagita sudah menyiapkan diri atas jawaban Raffi ini tqpi Nagita tak tahu kalau rasanya akan sesakit ini.

"Iya gue ngerti. Gue cuma mau bilang apa yang gue rasain, udah itu aja. Lupain aja Fi." Nagita tetap menundukkan kepalanya tak mau menatap Raffi dengan air mata yang siap jatuh jika ia mengedipkan matanya sekali saja.

"Na gue..."

"Elah Fi. Udah lo nggak usah baper, gue cuma mau bilang aja. Gue juga tau lo nganggap gue temen, gue aja yang baperan selama ini. Lo udah janji nggak bakal ngejauhin gue, awas aja kalau lo berani. Geseran gue mau pipis bentar." Lalu dengan cepat Nagita bangkit dari duduknya dan masuk kekamar mandi yang ada di kamar Raffi.

Jelaskan? Raffi hanya menganggapnya TEMAN........

TAMAT.......

Cerita ini hanya fiktif belaka.

Untuk komentar, kritik dan saran
silahkan dikolom komentar dibawah atau  ke akun twitter aku

@Liaa_RA17